29 December 2019, 12:32 WIB

BKKBN Rancang Materi Kesehatan Reproduksi untuk Tingkat Sekolah


Atalya Puspa | Humaniora

MI/Bary Fathahilah
 MI/Bary Fathahilah
Sekretaris Utama (Sestama) BKKBN H. Nofrijal. 

SEKRETARIS Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Nofrijal mengungkapkan, saat pihaknya tengah menyusun langkah untuk memasukan materi pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum nasional.

"Sementara sedang dilakukan restrukturisasi kurikulum nasional, yang paling mungkin itu adalah integrasi dengan kurikulum pendidikan olahraga dan kesehatan jasmani (Penkesro)," kata Nofrijal kepada Media Indonesia, Minggu (29/12).

Nofrijal belum menyebut di tingkat sekolah mana saja materi Penkesro akan diberikan. Namun begitu, materi tersebut akan mencakup segala aspek, mulai dari aspek medis hingga nonmedis.

"Penkesro tentu akan memuat kesehatan produksi ditinjau dari aspek medis dan non medis," ungkapnya.

Dihubungi terpisah, Pengamat Pendidikan Cecep Darmawan menilai, rencana integrasi Pendidikan jasmani dan pendidikan kesehatan reproduksi harus dilakukan. Namun, dirinya memberikan sejumlah catatan.

Pertama, BKKBN dan Kemendikbud harus memilah materi yang cocok bagi siswa sesuai dengan perkembangan psikologis siswa. Hal tersebut bertujuan untuk menjauhkan dari unsur pornografi.

"Gunakan bahasa yang edukatif, tidak vulgar, dan lakukan riset dalam pemilahan materi bahan ajar," imbuh Cecep.

Selain itu, dirinya menilai perlu adanya pelatihan bagi guru untuk memberikan materi tersebut kepada siswa agar

Untuk diketahui, sebelumnya Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo telah melakukan pertemuan dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem. Keduanya bersepakat untuk memasukkan materi kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah.

Hasto menyatakan, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, BKKBN mengemban tugas untuk mempersiapkan generasi yang unggul dari hulu, dalam hal ini melalui keluarga berencana yakni merencanakan berkeluarga.

"Akan tetapi banyak saat ini generasi sekarang tidak berkualitas salah satunya karena keluarga tidak mempersiapkan dalam proses reproduksinya sehingga ada stunting, kematian ibu dan bayi tinggi. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas maka keluarga harus mempersiapkan sejak dini," ucapnya.

Dengan Kemendikbud Hasto berharap dapat bekerjasama untuk memasukan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, kependudukan, penyiapan membentuk keluarga ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

"Karena 80% lebih mereka membentuk rumah tangga atau menyiapkan kehidupan rumah tangga dan menikah sebelum kuliah atau memang tidak kuliah," imbuh Hasto.

Pada kesempatan itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyampaikan, untuk memasukan materi kesehatan reproduksi dalam kurikulum mungkin akan memakan waktu, karena harus menunggu struktur kurikulum yang baru dan membutuhkan persiapan matang.

"Saya harap BKKBN segera menyiapkan materi-materi terkait kespro yang benar-benar penting sehingga mudah di pahami guru dan murid, siapkan saja materi-materi yang akan masuk dalam kurikulum," pungkas Nadiem. (Ata/OL-09)

BERITA TERKAIT