29 December 2019, 10:47 WIB

Konflik Tambang Laut di Babel Rugikan Nelayan Kecil


Rendy Ferdiansyah | Nusantara

WALHI Bangka Belitung (Babel) meminta Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan konflik tambang laut di Babel yang hingga sekarang tak kunjung selesai. Sebab masyarakat nelayan tidak bisa hidup berdampingan dengan penambang laut. Pertambangan Laut di Babel telah  menciptakan konflik yang berkepanjangan antara nelayan dan penambang. Konflik terkini, antara nelayan dan masyarakat pesisir matras Kabupaten Bangka dengan pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP) laut.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Babel, Jessix Amundian mengungkapkan konflik tambang laut ini telah muncul sejak 2009. Konflik ini menurutnya lahir karena aktivitas tambang laut telah merusak ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat para nelayan mencari ikan.

"Lumpur yang dihasilkan dari aktivitas tambang laut menyebabkan sedimentasi dan menutupi terumbu karang yang berakhir pada kematian habitat terumbu karang," kata Jessix, Minggu (29/12/2019).

"Padahal kita semua tahu, terumbu karang merupakan habitasi (rumah) dan sumber makanan bagi berbagai jenis makhluk hidup di laut. Dan juga  penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut. Celakanya lagi,  limbah dan lumpur yang dihasilkan dari aktivitas tambang laut ini bisa terbawa arus sejauh 30-40 km," tambahnya.

Dalam catatan WALHI, setiap 1 km, dua terumbu karang yang sehat, dapat menghasilkan 20 ton ikan yang dapat memberikan sumber pangan, gizi dan protein kepada 1.200 orang yang tinggal di pesisir. Fakta itu harusnya mengubah cara pandang Pemprov Bangka Belitung yang selama ini menggantungkan pendapatan dari pertambangan timah.

baca juga: Banjir Bandang Terjang Labuhanbatu Utara, 3 Rumah Hanyut

"Hasil tangkap nelayan terus mengalami penurunan. Dulu sebelum ada aktivitas tambang laut, satu malam nelayan melaut bisa menghasilkan 20-50  kilo dengan mesin perahu 2,5 PK-10 PK. Namun, keadaan sekarang tidak  lagi seperti dulu karena ekosistem pesisir laut telah rusak akibat  aktivitas tambang. Keadaan seperti ini telah berlangsung sejak 5-6 tahun terakhir," ungkapnya.

Saat ini ada sekitar 16.240 nelayan tradisional di pesisir yang mengandalkan perahu dengan kapasitas mesin tempel 2,5 PK- 10 PK dan 15 PK-30 PK  untuk mencari ikan di laut. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT