29 December 2019, 09:15 WIB

Sofian Sibarani: Tunjukkan kepada Dunia Ibu Kota Ramah Lingkungan


Bagus Pradana | WAWANCARA

NAMA Sofian Sibarani belakangan mendadak viral. Pasalnya, pria berusia 44 tahun itu merupakan arsitek yang berhasil menjuarai sayembara desain ibu kota negara (IKN) yang diselengarakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera).

Urban design sudah menjadi keseharian pria berdarah Batak ini. Banyak karyanya sudah diadaptasi kota-kota besar di berbagai negara, termasuk pembangunan ibu kota Malaysia, Putra Jaya.

Kini, karyanya berjudul Nagara Rimba Nusa menjadi desain calon ibu kota negara yang akan berlokasi di Kalimantan Timur. Jadi, sebenarnya apa makna dari desain itu? Berikut ini wawancara Media Indonesia dengan Sibarani Sofian di kantornya, di Jakarta, Kamis (26/12).

Bisa ceritakan perjalanan Anda mengikuti sayembara? Bagaimana melihat karya Anda terpilih sebagai rujukan desain ibu kota negara yang baru?

Tentunya bersyukur dan bangga, hasil jerih payah kami bisa terpilih. Kami berhasil lolos dari 755 pendaftar awal, termasuk 250 karya yang lolos seleksi administrasi. Setelah penjurian, karya kami diberikan kesempatan dinilai dengan 29 besar karya lainnya hingga akhirnya masuk 5 besar. Saat Kementerian PU-Pera menetapkan juara umum dari sayembara IKN, yang dapat kami lakukan bersyukur. Ini merupakan jerih payah rekan-rekan Urban+ merealisasikan desain ibu kota negara baru ini.

Berapa lama waktu penyusunan desain IKN baru ini?

Kami hanya diberikan waktu oleh panitia penyelenggara selama satu bulan, akhir Oktober hingga akhir November. Sebelumnya, kami menerima brief konsep desain yang diinginkan pemerintah dan dilanjutkan peninjauan lokasi bersama 80 kandidat lainnya ke Kalimantan Timur.

Dalam satu bulan itu kami analisis lokasi mana yang paling strategis menerapkan desain yang kami miliki karena lahan yang kami hadapi ini sangat besar dan luas. Awalnya, 180 ribu hektare (ha), hampir empat kali luas Jakarta. Belakangan diperbesar menjadi 220 ribu ha.

Dengan lahan sebesar itu, tim kami akhirnya memutar otak menyusun dan membangun kota-kota menjadi satu sistem atau jaringan perkotaan yang terkoneksi satu sama lainnya. Rencana yang kami angkat ialah menempatkan ibu kota negara kita yang baru sebagai salah satu dari sistem jaringan perkotaan.

Dari 220 ribu ha itu, desain yang kami ajukan hanya melingkupi 20%-30%. Karena mayoritas areal itu merupakan kawasan konservasi yang terdiri atas hutan dan perbukitan yang masih asri, kami orientasikan desain kami untuk menjaga kawasan konservasi tersebut.

Desain seperti apa yang akhirnya Anda tawarkan?

Konsep yang kami tawarkan namanya Nagara Rimba Nusa. 'Nagara' ialah perwakilan dari kota pemerintahan. Tempat seluruh kebijakan negara ini diputuskan, tempat para pemimpin negara berkumpul.

'Rimba' atau hutan, mewakili keselarasan terhadap alam, kita mengangkat desain tata kota memiliki orientasi terhadap alam. Bahkan, banyak inspirasi desain yang kita dapatkan dari alam, meniru mekanisme hutan bekerja. Dari situ kita definisikan konsep 'rimba' ke desain tata kota.

Terakhir 'nusa' atau kepulauan. Desain yang kami ajukan juga mengorientasikan dirinya dengan lingkungan bahari. Kami ingin menawarkan kota yang mampu menjadi melting pot dari berbagai jenis kebudayaan. Terlebih lagi kalau kita bicara tentang siapa manusia Indonesia? Manusia Indonesia ialah manusia kepulauan dan sudah seharusnya kita menyelebrasikan hal itu dalam konteks yang nyata, yaitu ibu kota negara.

Apa yang menginspirasi Anda hingga menghadirkan gagasan Nagara Rimba Nusa ini?

Kami mendapatkan inspirasi dari lokasinya langsung. Saat kami melihat citra dan foto-foto udaranya yang membentang bagai lautan hijau, ada bukit-bukit yang menjulang. Hal pertama kali saya bayangkan ialah gugusan kepulauan yang indah. Namun, saya langsung sadar ini bukan di laut, ini di hutan. Dari sana lahirlah konsep desain tata kota yang akhirnya kami sebut Nagara Rimba Nusa itu.

Apakah kawasan Kutai Kartanegara dan Penajam Paser ini cocok untuk desain yang Anda angkat?

Setelah kami perhatikan data-data dari Kementerian PU-Pera, indikasi daerah yang ditunjuk sebagai lokasi ibu kota baru itu kawasan Kutai Kartanegara (Kukar) dan Penajam Paser semakin nyata. Selain sudah banyak kunjungan yang dilakukan pemerintah ke daerah itu, secara geopolitik lokasi tersebut juga bisa dibilang berada di posisi yang aman karena letaknya condong ke dalam.

Pola pembangunan perkotaan akan terus meluas cakupan wilayahnya, jadi sebagai perencana perkotaan kita harus perhatikan jarak antarkota mengantisipasi pencaplokan wilyah. Di Bukit Penajam Paser itu desain kami juga lebih cocok untuk diaplikasikan. Kawasan Penajam Paser cukup ideal dikembangkan secara maksimal. Wilayahnya masih aman dan tidak menyentuh kota lamanya, yaitu Balikpapan. Daerahnya juga masih didominasi areal perkebunan sangat memudahkan kami.

Konsep pembangunan seperti apa dalam desain Nagara Rimba Nusa?

Kami menerapkan 'sistem polisentrik' dengan banyak pusat-pusat perkotaan yang saling terkoneksi dengan sistem transportasi massal. Bila satu kota sudah mulai membesar dan populasinya sampai pada ambang batasnya, pemerintah harus menghentikan pemberian izin tinggal di kawasan itu dan merekomendasikan para pendatang untuk mendiami kota terdekat yang affordable.

Karena konsep dasarnya berorientasi pada lingkungan hidup, sabuk hijau yang menjadi penyekat antara kota satu dengan lainnya harus dijaga, tidak boleh disentuh dengan kebijakan apa pun agar kelestarian alam disekitarnya dapat terjaga.

Adakah kekhawatiran mengenai kelestarian lingkungan yang terganggu akibat dari pembangunan ibu kota negara baru ini?

Kekhawatiran pembangunan itu akan mengancam lingkungan pasti ada. Kalau kita mau dan sudah berkomitmen, ya mari serius. Justru ini kesempatan Indonesia menunjukkan kepada dunia, kita serius melakukan pembangunan yang ramah lingkungan. Ibu kota baru ini harus menjadi percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia dan menjadi salah satu kota terbaik di dunia.

Jadi, kita harus mempelajari seluruh best practice tentang pembangunan kota-kota terbaik di dunia yang berbasis lingkungan. Kita jadikan acuan membuat desain tata kota terbaik yang kelak merepresentasikan identitas khasnya Indonesia. Inilah alasan mengapa kita buat axis-axis dalam desain itu yang sifatnya representasi dari negara ini.

Kami merancang dua axis yang terepresentasi dalam wujud monumental berupa boulevard. Terdapat dua boulevard yang kami jadikan simbol menegaskan karakter bangsa Indonesia. Pertama, kami menamainya boulevard 'Kebangsaan' yang merentang dari wilayah perbukitan di kawasan utara ibu kota baru menuju selatan, yang berpangkal pada Danau Pancasia. Poros Kebangsaan ini menggambarkan kebinekaan yang ada di Indonesia. Kemudian, ada juga Poros Pancasila, yang tersimbolkan dalam wujud bangunan-bangunan monumental yang tersebar ke lima penjuru mata angin. Rencananya, bangunan-bangunan tersebut dibangun di wilayah Danau Pancasila yang membentang dari timur ke barat.

Apakah desain ini berorientasi terhadap lingkungan dan alam?

Kami memang merancang kota yang berorientasi pada lingkungan, bahkan ke depannya kita harus menerapkan prinsip pembangunan perkotaan yang 'compact' (maksudnya efisien). Kalau kita memiliki lahan 6.000 ha, tetapi hanya buth luas 2.000 ha, ya jangan gunakan lebih dari itu.

Pola pengembangan yang berbasis transportasi massal, misalnya, kereta api menyambungkan jaringan antarkota, mulai Balikpapan, kota-kota satelit, menuju bandara, lalu masuk ke ibu kota baru kita.

Transportasi domestik, kita akan kembangkan sistem transportasi internal berbasis trem elektrik, yang titik-titik pemberhentiannya ada di pusat-pusat perkotaan berbentuk seperti pulau-pulau yang menyumbul dari lautan hijau tadi. Untuk menuju satu tempat ke tempat lainnya juga bisa ditempuh dengan jalan kaki dengan jarak tempuh sekitar 10-15 menit, harapannya kita bisa diet kendaraan bermotor sebagai wujud dari komitmen ramah lingkungannya.

Konsep ini mirip transit oriented development (TOD), tetapi tidak komersial. Rencananya, konsep pembangunan yang kami usung ini berbasis transit dan memaksimalkan ke arah vertikal melalui pembangunan gedung-gedung bertingkat 8-10 lantai.

Untuk material, kami ingin meminimalisasi penggunaan batu dan pasir karena di kawasan Kalimantan agaknya sulit. Sempat terlintas mengganti batu dan pasir dengan kayu karena sumber daya kayu di Kalimantan cukup banyak dan berasal dari hutan produksi.

Material kayu sebenarnya sudah bisa diinovasikan untuk membangun beraneragam bangunan multistory dan struktural. Bahkan di Jepang, gedung-gedung dengan struktur kayu telah banyak dibangun, dengan tinggi 18 atau 20 lantai. Jika bisa dikonkretkan, material ini dapat menjadi alternatif yang sangat efisien dan ramah lingkungan, tapi syaratnya kayu yang digunakan harus dari hutan produksi. Dengan demikian, kita tidak perlu banyak mengimpor barang dari luar dan ongkos lingkungannya dapat dipangkas.

Kalau untuk konservasi alam, adakah upaya tersebut terangkum dalam desain yang Anda ajukan ini?

Konservasi alam yang kita desain akan menggunakan sistem zonasi sejauh 100 meter. Selain itu, kami juga menggunakan sistem batas kota sebagai batas alam. Kami akan menggunakan jalan sebagai infrastruktur pembatasnya, jalan juga akan kami manfaatkan sebagai mekanisme proteksi terhadap banjir dan risiko pasang-surut sungai.

Kami juga mendirikan botanical garden (kebun raya) di tengah-tengah kota dan rencananya mendirikan pusat konservasi internasional untuk hutan tropis dan pusat studi mangrove untuk memproteksi kelestarian alam yang ada di ibu kota negara baru.

Orang kerap memandang ibu kota sebagai daerah metropolitan dengan fasilitas lengkap nan modern. Bagaimana pandangan Anda tentang ini?

Saya rasa agak berbeda ya antara kota metropolitan dan ibu kota negara. Bila kita perhatikan di banyak negara di dunia ini, kota yang menjadi ibu kota negaranya itu didesain tidak terlalu komersial, berbeda dengan kota metropolitan.

Pernyataan dari Presiden pun jelas, 'kita tidak memindahkan Jakarta, pusat bisnis tetap berada di Jakarta, pusat ekonomi tetap terbesar di Indonesia ialah Jakarta', yang dipindahkan ialah fungsi pemerintahannya.

Namun, apakah pemerintah mau jika ibu kota ini didesain agar fungsi pemerintahan menjadi optimal, tentunya kan tidak. Itu karena ibu kota baru nantinya akan menjadi represntasi Indonesia di kancah global. Oleh karena itu, kami merancang fasilitas-fasilitas pendukung yang mampu merepresentasikan karakter kebangsaan kita, seperti fasilitas sport center, exhibition hall yang cukup besar, dan down town asri yang menjadi tempat bagi orang-orang berinteraksi.

Secara teknis berapa jumlah maksimal populasi dalam desain Anda?

Kawasan ibu kota baru seluas 200 ribu ha ini diprediksi akan mampu menaungi 2,8 juta jiwa. Kami juga ada zona khusus, yaitu 40 ribu ha yang didesain sebagai hunian untuk 1,2 juta jiwa dan kompleks pemerintahan di pusat kota, diperkirakan akan mampu menampung sekitar 100 ribu jiwa.

Kemudian untuk Jakarta, sebagai kota yang akan ditingglkan, apa yang harus dibereskan pemerintah Jakarta?

Ini kesempatan emas untuk Jakarta, diperkirakan sebanyak 80 ribu orang akan meninggalkan Jakarta menuju ibu kota negara baru, mungkin jumlah itu tidak terlalu banyak untuk Jakarta yang penduduknya mencapai 10 juta jiwa. Saya rasa lalu lintas Jakarta akan sedikit lebih lengang, masyarakat Jakarta akan memiliki lebih banyak ruang gerak. Jadi, ini merupakan peluang untuk Jakarta berbenah diri.

Jakarta memiliki tiga pekerjaan rumah yang harus diatasi, yaitu masalah kemacetan, masalah pencemaran air dan tanah, serta ketersedian ruang hidup yang layak. Saya pikir setelah kantor-kantor pusat pemerintahan itu berpindah ke ibu kota baru, lahan-lahan bekas dari kompleks perkantoran negara yang tidak terpakai lagi di Jakarta dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah tadi. (M-3)

BERITA TERKAIT