29 December 2019, 08:40 WIB

Hasil Rembug Budaya Soroti Orientasi Pasar


M Iqbal Al Machmudi | Nusantara

MI/ADAM DWI
 MI/ADAM DWI
Menko Polhukam Mahfud MD bersama para tokoh lainnya saat pembukaan satu dekade berpulangnya Gus Durdi Ciganjur, Jakarta, kemarin

REMBUG budaya menjadi salah satu rangkaian kegiatan Haul ke-10 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dihelat di Masjid Jami Al-Munawaroh, Ciganjur, kemarin. Kegiatan ini mengangkat tema Kebudayaan melestarikan kemanusiaan.

Hasil rembug budaya menghasilkan 12 kesimpulan, mulai tindak diskriminasi, moderasi beragama, lingkungan, teknologi, hingga konten media.

"Kebudayaan yang berorientasi pada pasar. Contohnya, konten media sosial yang didominasi oleh hal-hal yang banal, produksi film dibuat berdasarkan pertimbangan selera pasar, bukan untuk misi pembangunan," ujar Ketua Tim Perumus Rembug Kebudayaan, Hairus Salim, membacakan salah satu poin kesimpulan diskusi.

Total 12 poin kesimpulan tersebut menghasilkan 10 poin rekomendasi. Alissa mengatakan rekomendasi itu akan diserahkan pada Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, sebagai masukan dari masyarakat.

"Dirjen kebudayaan sebagai mitra kami, karena ini adalah upaya Dirjen kebudayaan juga untuk mendapatkan masukan dari masyarakat yang lebih luas," ujar putri sulung Gus Dur, yakni Alissa Wahid.

Dalam acara haul Gus Dur itu, sejumlah tokoh hadir, antara lain Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Gatot Eddy Pramono, dan Dosen Universitas Indonesia Saras Dewi.

Lukman Hakim yang berbicara mewakili KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar NU (PBNU).

Ia mengatakan kebudayaan merupakan kristalisasi pemikiran masyarakat. "Saya termasuk orang yang berpandangan bahwa kebudayaan itu positif sebab ia merupakan kristalisasi pemikiran masyarakat," ujarnya

"Nah, karenanya, kebudayaan itu menurut hemat saya bicara tentang kemanusiaan, itu bicara agama. Inti pokok semuanya adalah tentang kemanusiaan," ucapnya lagi.

Sebelumnya, dalam haul serupa di PBNU, Alissa Wahid yang merupakan putri Gus Dur mengatakan yang paling penting dari peringatan ini, yaitu meneladan kehidupan ayahnya dalam memperjuangkan kemakmuran masyakat. Selain itu, haul tersebut juga bisa dijadikan sebagai momen mencari inspirasi.

"Supaya cita-cita umat, cita-cita masyarakat, dan bangsa yang adil, makmur, dan sentosa dapat terwujud. Kita berkumpul bukan untuk memuja-muji beliau, melainkan karena kita ingin belajar, karena kita ingin mengambil keteladanan, mencari inspirasi, terutama di dalam situasi kebangsaan ini," tutur Alissa.

Aspek penting

Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, menceritakan, muasal ide menggelar rembug budaya dalam memperingati satu dekade kepergian Gus Dur ini karena semasa hidup tokoh Nahdlatul Ulama itu sangat peduli pada kebudayaan.

"Kebudayaan ialah aspek penting kemanusiaan karena kebudayaan ialah pembeda antara manusia. Manusia akan tetap menjadi manusia kalau dia berbudaya. Untuk itu, Gus Dur selalu menyerukan pentingnya kebudayaan dalam kehidupan," ujar Sinta Nuriyah.

Gus Dur, kata Nuriyah, selalu berpesan bahwa beragama tanpa kebudayaan akan kehilangan dimensi kemanusiaannya. (Ant/P-1)

BERITA TERKAIT