29 December 2019, 08:10 WIB

Bencana Intai Beberapa Daerah


Putri Anisa Yuliani | Humaniora

MI/Depi Gunawan
 MI/Depi Gunawan
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo

KEPALA Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengimbau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta agar waspada menghadapi sejumlah potensi ancaman bencana yang mengintai wilayah Ibu Kota negara.

Ini dikatakan Kepala BNPB saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor BPBD DKI Jakarta, Jumat (27/12) sore. Dalam pertemuan itu, Doni mengingatkan rentetan bencana alam yang pernah terjadi di Jakarta sekaligus potensi ancaman ke depannya.

Wilayah Jakarta, antara lain, pernah diguncang gempa besar setidaknya tiga kali, yaitu pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780, dan 10 Oktober 1834. Jakarta juga masih masuk ke wilayah yang dipengaruhi oleh zona Patahan Baribis, Patahan Kendeng, dan Indo-Australia yang terletak di selatan Pulau Jawa.

Doni lalu meminta BPBD DKI Jakarta juga mementingkan upaya mitigasi, khususnya untuk infrastruktur sarana transportasi massal dan objek vital.

"Buat mitigasi khusus untuk transportasi umum seperti LRT, MRT, dan KRL. Karena tanpa ada mitigasi yang baik, para pengguna transportasi ini bisa terjebak dalam kondisi yang buruk jika terjadi bencana. Segera lapor kepada Gubernur untuk mengambil langkah," tegas Doni dalam keterangan resmi BNPB.

Selain gempa bumi, potensi ancaman bencana bagi wilayah Jakarta juga datang dari gunung api.

Ia lalu memaparkan fenomena pergerakan tanah berupa penurunan permukaan tanah yang terjadi di Ibu Kota, khususnya di wilayah pesisir utara. Tidak hanya itu, kandungan air tanah di Jakarta sudah banyak tercemar oleh zat yang berbahaya.

Menurutnya, BPBD harus mengambil langkah strategis lain selain koordinasi dan turun ke lapangan untuk pencegahan dan penanggulangan dengan mengoptimalkan metode pentahelix. Sebagai pemangku kewenangan daerah, BPBD dapat menggandeng peran media dan mengupayakan fungsi komunitas serta pemangku tokoh religi sehingga Jakarta lebih tangguh dalam menghadapi sejumlah potensi ancaman bencana.

Kenali sejak dini

Terkait bencana, Taruna Tanggap Bencana Alam (Tagana) Provinsi Jawa Timur telah berupaya agar anak-anak bisa mengenali bencana sejak dini,antara lain dengan memberikan pelatihan mitigasi bencana kepada pelajar, Jumat (27/12) di Pantai Cemara, Banyuwangi.

Anggota Tagana Jatim, Tue Adi, menyatakan pengenalan kebencanaan, strategi kesiapsiagaan, mitigasi, menghadapi bencana, dan pertolongan pertama harus disosialisasikan sejak dini.

Program Tagana Masuk Sekolah (TMS) itu merupakan sinergi dari Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bangka Belitung telah melarang pelaku wisata mendirikan panggung hiburan malam pergantian tahun dekat dengan bibir pantai. "Jarak panggung minimal 100 meter dari bibir pantai. Ini untuk mengantisipasi bencana gelombang tinggi, angin kencang, dan lainnya," ujar Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Babel, Fajri Djaghitam, kemarin.

Ini juga sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga deras akan turun di sebagian wilayah Indonesia selama masa libur Tahun Baru 2020. BMKG juga meminta pemerintah daerah yang wilayahnya rawan gempa untuk meningkatkan mitigasi bencana. (Ind/RF/UA/RK/Ant/X-11)

BERITA TERKAIT