29 December 2019, 07:10 WIB

Kadaplak is Back


MI/ ADI MAULANA IBRAHIM | Weekend

MI/ ADI MAULANA IBRAHIM
 MI/ ADI MAULANA IBRAHIM
Peserta balap kadaplak meluncur di lintasan.

MENGENAKAN helm berkacamata goggle, pemuda itu tampak sudah siap balapan. Namun, tidak seperti biasa, tunggangannya tidak bermesin dan tanpa ban besar, tetapi seperti mainan tradisional yang dibuat dari rakitan kayu dan bahan alam lainnya. Itulah kadaplak. Mobil-mobilan buatan warga yang memang menggunakan bahan bambu dan kayu hingga rodanya. Kamis (21/11), permainan balap kadaplak kembali digelar di Kampung Batu Loceng, Desa Sutenjaya, Kecamatan Lembang, Bandung Barat.

Warga desa tumpah ruah ke area lintasan yang memanfaatkan jalan tanah di antara perkebunan pinus. Sorak sorai dan gelak tawa mereka riuh melihat aksi para pemuda desa adu kebut di atas kadaplak. Suasana lomba memang tidak kalah seru dari balapan motor karena nyatanya kadaplak tidak mudah dikendalikan. Tidak ada rem, ditambah kontur jalan yang lumayan ekstrem, membuat beberapa pemuda sampai terjengkal dari kendaraan mereka.

Kadaplak diambil dari sebutan warga setempat kepada jenis hewan sawah yang bertubuh pipih. Permainan rakyat yang sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia itu kini menjadi hiburan bagi warga sekaligus daya tarik wisata. Kadaplak yang sempat kehilangan pamor kembali dibangkitkan pemuda karang taruna setempat. Tokoh pemuda melihat permainan itu bisa bermanfaat banyak. Tidak hanya mengalihkan dari kecanduan gawai, tetapi juga menghidupkan budaya dan juga menjadi keungggulan khas kampung itu.

Hasilnya, walau mungkin efek ekonomi dari wisata belum signifi kan, keceriaan warga memang jelas tergambar. Kampung itu bisa bersukacita dengan budaya sendiri. (M-1)

BERITA TERKAIT