29 December 2019, 07:00 WIB

Keterpaksaan Idiom


Farhatun nurfitriani Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

MEDIA sosial bagai candu bagi kaum milenial. Sehari tak mengaksesnya, rasanya sungguh tak afdal. Meski sekadar mengecek berita viral, itu sudah cukup mengobati penasaran yang mengganjal.

Media sosial tidak hanya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi. Lebih dari itu, di sana milenial bebas berekspresi tanpa ada yang membatasi, bahkan terkadang sampai lupa diri. Milenial leluasa berkeluh kesah, menumpahkan resah dan amarah. Sungguh tempat pelarian yang amat sempurna.

Meski demikian, media sosial tak hanya mereka jadikan tempat bersambat belaka. Di sana mereka sering berinovasi. Melahirkan istilah-istilah anyar meski kadang sukar dimengerti. Hal itu dapat kita lihat di salah satu media sosial yang ramai digandrungi, yaitu Twitter.

Di Twitter, beragam istilah muncul dan tersebar. Istilah-istilah unik, menarik, dan terdengar menggelitik. Sebut saja salah satunya istilah teh tumpah. Awalnya, ketika berselancar di Twitter, saya kebingungan apa arti dari teh tumpah itu. Apakah ada secangkir teh yang tumpah? Tentunya bukan lho.

Usut punya usut, ternyata teh tumpah berasal dari idiom slang bahasa Inggris, yaitu spill the tea.

Spill berarti tumpah dan tea bermakna teh. Spill the tea di sini bukan berarti kita harus menumpahkan teh karena teh yang dimaksud ialah informasi. Biasanya idiom ini diucapkan saat membicarakan sebuah gosip.

Misalnya, ada seseorang yang akan memberi tahu sebuah rahasia atau gosip yang sedang viral, maka warga Twitter biasanya merespons dengan mengatakan, "Menunggu teh tumpah."

Dengan demikian, teh tumpah yang dimaksud bermakna meminta seseorang untuk membocorkan rahasia, aib, informasi, atau bisa disebut dengan bergosip ria.

Rupanya selain teh tumpah, ada satu kata lagi yang tak kalah menggelitik. Sebut saja kentang. Kenapa kata kentang dianggap unik nan menggelitik? Itu karena di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kentang bermakna ubi yang bentuknya bulat-bulat, termasuk tumbuhan sayuran yang banyak mengandung pati. Sementara itu, bagi warga Twitter, kentang yang dimaksud tidak memiliki arti seperti yang telah disebutkan, tetapi berarti jelek atau tidak rupawan. Itu karena kentang memiliki bentuk yang gendut dan terkesan kotor.

Kata kentang yang berarti jelek itu bisa kita di lihat dari cicitan akun Twitter @dunkindonat4, 'Ada yang mau kenalan sama si kentang ini? Mumpung lagi jomlo'. Berikutnya dari akun @tayaayyy, 'Enggak ada yang mau jadi pacar aku apa? Eh, lupa gue kan kentang'.

Asal-usul kata kentang pun serupa dengan teh tumpah yang berasal dari idiom bahasa Inggris, yaitu potato.

Yang terakhir ada kata garam yang juga berasal dari idiom slang bahasa Inggris, salty (asin). Istilah garam berarti marah, merasa terganggu, sebal, dan kesal. Lihat saja contoh kicauan dari akun @aku_hastiaputri, 'Suka sama pacar orang, plisss jangan garamin aku dong'. Lalu dari akun @mocalataee, 'Garamin aku dong gaes biar belajar, bentar lagi UAS'.

Ketiga idiom yang diadaptasi dari bahasa Inggris itu terasa asing bila serta-merta diserupakan dalam bahasa Indonesia. Itu tertolak secara bahasa dan budaya. Dalam bahasa Indonesia, teh tumpah tidaklah membocorkan gosip, pun kentang bukanlah bermakna jelek.

Pun sebaliknya, budaya kita tentang nasi (nasi uduk, nasi kuning, dan nasi yang lain) tidak akan cocok jika dipaksakan menjadi budaya orang Barat.

BERITA TERKAIT