29 December 2019, 06:50 WIB

Oase Penikmat Rasa Minang


Suryani Wandari Putri | Weekend

M/ADAM DWI
 M/ADAM DWI
Suasana dan berbagai masakan khas Minang di Restoran UniMinang, Menteng Pulo, Jakarta

TAICHING : Tidak semata bumbu yang kuat, proses dan autentitas hidangan menjadi kunci UniMinang. Mereka berharap menjadi oase bagi orang Minang yang merantau.

LEBIH dari 10 makanan disusun dalam mangkuk kotak kuning di atas meja panjang. Sang pemilik, sengaja menghidangkan seperti itu agar pengunjung mudah memilih dan merasakan masakan khas Minang itu.

"Masakan di Restoran Padang itu akan dibilang enak atau tidak, dari randang (rendang) dan sambel ijo, itu clue-nya. Kalau itu enak, pasti yang lainnya juga enak," kata Zulia Parwita, salah satu pemilik UniMinang ketika ditemui di restorannya di Menteng Pulo, Jakarta, Senin (23/12).

Saat mendengar rekomendasi itu, saya langsung mengambil dua masakan itu ke dalam piring yang sudah dilapisi daun pisang. Benar saja, sambal ijo teri petenya memiliki wangi dan rasa berbeda dari biasanya. Selain cabe rawit hijau yang ditumbuk kasar, ada pula tambahan daun jeruk, petai, dan daun kunyit. Rasa sambalnya tidak terlalu pedas, tapi nikmat dan memiliki rasa yang kuat saat dipadukan dengan nasi putih.

"Pembuatannya simpel sebenarnya, cabe mentah dan bahan lainnya itu diguyur minyak kelapa panas hasil fermentasi," ujar Yayat Nur Hidayat yang juga pemilik UniMinang.

Tak hanya itu, rendang hitam yang disajikannya memiliki rasa yang kuat dan bumbunya meresap hingga dalam. Rasa yang kuat dan meresap itu tidak lepas dari proses memasaknya yang cukup lama, tepatnya 3 hari.

"Warna hitamnya didapat dari proses yang cukup lama. Ya, kami masak rendang hingga 3 hari. Satu hari diawal untuk proses memasak bumbu dan mencampurkannya dengan daging," lanjut Yayat. Adapun dua hari lanjutannya dilakukan agar bumbu meresap sempurna di dalam daging dengan memanaskannya di atas api kecil sembari diaduk-aduk. Proses ini, katanya, membuat rendang awet hingga 3 bulan.

Bumbu

Proses dan penggunaan bumbu yang berlimpah itu menjadi ciri khas mereka, mirip dengan para uni atau ibu yang memasak untuk keluarganya. Kebiasaan para uni itu pun yang menjadi latar belakang nama restoran ini. Tidak hanya bumbu, autentitas rasa makanan pun dijaga.

"Kalau di luar Minang kebanyakan masakannya telah menyesuaikan dengan daerahnya, misalnya dimodifikasi lebih asam, lebih pedas sesuai selera masyarakat. Tapi, kami ingin menghadirkan masakan rasa autentik secara keseluruhan," lanjut Yayat.

Meski boros bumbu, mereka tidak peduli. Pasalnya mereka ingin menjadi oase pelepas rindu bagi orang Minang yang merantau ke Jakarta. Bahkan untuk menjaga autentitasnya, restoran yang baru buka November 2019 itu melakukan studi banding ke Bukit Tinggi, Payakumbuh, Pariaman, hingga Batu Sangkar selama 5 bulan guna menemukan rasa dan proses pengolahan yang sebenarnya.

Selain rendang dan sambal ijo, ada tambunsu alias usus sapi menjadi favorit pengunjung. Hidangan yang menyerupai sosis ini memiliki isian telur yang telah dibumbui.

"Tambunsu aslinya bukan berisi tahu, melainkan telur. Memang kalau dari segi bentuk, isi tahu lebih terlihat bagus. Namun, soal rasa, isi telur lebih nikmat," kata Zulia atau yang akrab dipanggil Lia ini.

Di sini pun tersedia hidangan yang jarang ditemui, yakni ponge cubadak. Cubadak dalam bahasa Minang artinya nangka, sedangkan ponge adalah proses memasak mirip gudeg khas Yogya yang diproses sekitar 8 jam. Namun, rasanya berbeda. Bila gudeg manis, ponge lebih terasa pedas.

Tentunya ke restoran Minang, tidak lengkap tanpa dendeng. Namun jangan berharap mendapat dendeng batokok atau kering. Di sini tersedia dendeng lambok atau dendeng basah, baik dengan cabai merah maupun hijau.

"Ada sekitar 60 jenis masakan, mulai dari rendang, gulai tunjang, gajebo asem padeh, jariang (jengkol) pare lado ijo, hingga ikan salem bakar. Tapi tentu masakan ini di-rolling setiap harinya, agar tak bosan," kata Yayat. Ia pun mengatakan masakan ikan lebih banyak muncul di hari Rabu dan Jumat.

Minuman peluruh lemak

Tak dapat dipungkiri, masakan Minang memang identik dengan bumbu yang kental dan santan yang melimpah. Hampir setiap masakan terdapat santan sebagai penyedap rasa, selain daun ruku-ruku.

Kandungan santan itu terkadang membuat orang risau dengan kandungan lemak di dalam hidangan. Guna menjawab itu, Lia dan Yayat merekomendasikan teh tawar panas untuk mendampingi. Teh tawar ini bukan sekadar mendorong makanan, ternyata teh ini berfunsi meluruhkan lemak.

"Makanan Minang memang banyak santannya, cocoknya memang dengan air teh panas," kata Lia.

Jika ingin mencoba yang lain, pengunjung pun bisa menikmati segelas jeruk nipis yang dikombinasikan dengan sirop Rozen Rose. Sama seperti namanya, tampilannya pun pun mirip bunga rose yang cerah, tepatnya warna pink fushia yang dibubuhi irisan nipis di tepian gelasnya.

Minuman ini juga cocok menemani nongkrong bersama teman, karena kebetulan desain interiornya dibuat nyaman. Terdapat kesan industrial, vintage, dan bernunasa kafe yang disukai banyak anak muda. (M-3)

BERITA TERKAIT