29 December 2019, 06:30 WIB

Jajan itu bukan Dosa


(Try/M-2) | Weekend

MI/ ADAM DWI
 MI/ ADAM DWI
Jajan itu bukan Dosa

DIKENAL dengan katering makanan sehat dan kerap mengampanyekan urgensi clean eating, Tya dan sang suami, Arditto, sesungguhnya tidak memiliki latar belakang formal di bidang gizi. Bahkan, sebelum membidani kelahiran TRF, pengetahuan Tya tentang nutrisi terbilang minim.

Hal itu perlahan berubah ketika pada 2012, Tya dan Arditto memutuskan untuk hidup lebih sehat. Saat itu Tya sempat jatuh sakit tifus hingga 2-3 dalam setahun. Ia juga memiliki kista dan miom, sedangkan sang suami mengalami kelebihan berat badan.

"Kami berdua memutuskan memulai hidup sehat tetapi tidak mau ekstrem. Akhirnya saya belajar masak, masuk dapur. Dahulu saya sama sekali tidak bisa masuk dapur karena ke pasar saja pingsan," kenang Tya.

Ia kemudian menantang diri sendiri, memulai dari membuat sarapan, dengan resep menyontek dari telurusan Google. Tahap demi tahap, Tya kemudian mengikuti kelas memasak, seperti Raw Class dari Sophie Navita, juga kelas memanggang (baking).

"Makin ke sini kok ya makin bisa mengolah makanan. Kami memang tidak ada background ahli nutrisi atau dokter, tetapi keluarga kami ada yang dokter dan memang sering memberi masukan. Kami lalu juga bekerja sama dengan ahli gizi buat mendampingi," terangnya.

Kini, sehari-hari Adetya dan keluarga menggunakan konsep 80:20. Konsep itu menandakan 80% dari 'kuota' makan mereka ialah makanan rumahan yang dimasak sendiri. Sisanya 20% untuk jajan atau mengonsumsi makanan olahan yang tidak terhindari saat di acara tertentu, rekreasi, atau liburan.

"Saya berusaha menikmati saja hidup, tidak dibuat ribet. Tidak apa sesekali cheating, namanya juga lagi liburan, atau kondangan, atau ke bioskop, asalkan sesuaikan kondisi tubuh. Listen to your body. Jadi, kalau hari ini jajan, besok sarapan jangan lupa sayur dan buah ditambah supaya seimbang. Jajan itu tidak dosa asal bertanggung jawab," tegas penyuka travelling ini.

Makin ke sini, makanan organik menjadi pilihan orang karena efeknya membuat badan lebih terasa sehat. Dengan makin banyaknya saingan, Adetya akan tetap konsisten pada bisnisnya, meski banyak persaingan usaha makanan organik dengan harga premium.

"Kami mengampanyekan sehat itu tidak harus mahal kalau tahu belanjanya di mana, cari dari petani langsung. Semakin pendek rantai makanan sampai ke meja kita, semakin terjaga gizinya. Misal, di supermarket ada sayur organik impor, itu perjalanannya sudah jauh. Anda belanja di tukang sayur sebenernya lebih sehat. Memang tidak organik tapi bisa diakali dicuci dengan cuka apel," jelasnya. (Try/M-2)

BERITA TERKAIT