29 December 2019, 06:10 WIB

Adetya Herdini Hutami Ajak Hidup Sehat Mulai dari Perut


Fetry Wuryasti | Weekend

MENINGKATNYA kesejahteraan kelas menengah atas urban beberapa tahun belakangan dibarengi dengan kesadaran untuk mengadaptasi gaya hidup sehat, termasuk perkara perut. Banyak orang kini mulai mencermati makanan yang mereka konsumsi, mulai soal nutrisi, proses pengolahan, sampai asal bahan pangan bersangkutan. Walakin, tidak semuanya punya cukup waktu, atau keahlian, untuk memilah atau menyiapkan makanan sehat sedemikian rupa.

Hal itu ditangkap sebagai peluang bisnis oleh Adetya Herdini Hutami dan suaminya, Arditto Raharjo, dengan menghadirkan TRF Homemade Catering. TRF ialah singkatan dari the real food, atau terjemahan bebasnya 'makanan tulen', yang bermakna bahwa hidangan yang mereka sajikan bukan instan ataupun kalengan (processed food).

"Kami menyajikan makanan berbahan natural organik alami, the real food atau makanan sesungguhnya, bukan yang sudah di-packaging, dikalengkan, atau instan. Jadi, makanan alami menyerupai bentuk aslinya dan minim proses," cerita Tya, sapaan akrab Adetya, saat ditemui di dapurnya, di Jakarta, Jumat (20/12).

Hadir sejak 2013, target pasar TRF Homemade Catering awalnya ialah orang dewasa yang mau belajar makan sehat. Bukan sekadar mereka yang mau diet atau ingin langsing.

Smoothies jar dan susu kacang badam (almond) untuk sarapan jadi produk perdana katering Tya. Alasannya, banyak orang di Jakarta yang lupa atau melewatkan sarapan. Alasan lain, sudah banyak bisnis katering yang menawarkan paket makan siang.

"Padahal, justru makan pagi adalah poin yang paling penting, yaitu menjadi sumber tenaga untuk beraktivitas. Ketika sarapan paginya sudah benar, saat makan siang, orang akan berpikir ulang untuk jajan makanan yang tidak sehat," terang Tya.

Substitusi

Ia dan sang suami memang tidak bertujuan memasarkan TRF Homemade sebagai 'katering diet', tetapi katering yang membantu menciptakan perilaku clean eating. Konsep clean eating pada dasarnya ialah menghindari makanan yang mengandung bahan pengawet, perasa buatan, dan pemrosesan di pabrik. Sebaliknya, clean eating menekankan pada penggunaan bahan-bahan segar, alami, dan masih dalam bentuk aslinya (whole food) untuk diolah sendiri menjadi masakan di rumah.

"Selain berjualan, kami lebih mengampanyekan dan mengedukasi orang dengan mengajak memahami terlebih dulu makan sehat itu seperti apa. Baru makin ke sini, sesuai perjalanan hidup saya dan suami, kami mengeluarkan katering untuk penurunan berat badan (weight loss)."

Karena tetap mengedepankan konsep clean eating, lanjut Tya, pihaknya tidak menawarkan katering program weight loss yang ekstrem seperti tanpa garam dan gula, juga nasi. Program katering weight loss TRP Homemade menyubstitusinya dengan bahan yang lebih sehat. Misalnya, mengganti pemakaian garam meja dengan garam laut, atau gula pasir dengan gula kelapa.

Saat ini, Tya dan timnya kurang lebih telah menciptakan 100 jenis hidangan. Mulai hidangan yang terinspirasi masakan mancanegara, seperti zucchini lasagna sampai kuliner lokal macam nasi rendang.

Wah, nasi rendang? Ya, tentunya dengan bahan-bahan yang lebih sehat.

Daging untuk rendang, jelas Tya, bisa memakai jenis wagyu, seperti saikoro wagyu --daging wagyu yang dipotong berbentuk dadu. Santan pun dijaga nutrisinya dengan tidak dipanaskan berulang.

Sementara itu, nasinya menggunakan beras basmati yang punya kandungan mineral lebih tinggi, atau dengan multigrain mixed, yaitu beras yang dicampur biji-bijian.

"Makanya kami memilih clean eating karena banyak yang bisa divariasikan, tidak hanya terpatok dalam satu menu, atau tidak boleh asin atau tidak boleh manis. Kami justru lebih banyak eksplorasi menu," tuturnya.

Untuk menjaga kualitasnya, TRF Homemade membatasi layanan hanya 10 sampai 15 klien per batch. Paket clean eating selama 5 hari dibanderol Rp750 ribu, sedangkan paket weight loss untuk durasi serupa Rp1 juta.

Pengalaman pribadi

Belakangan, Tya dan sang suami menambah jajaran produk TRF Homemade, mulai untuk perempuan yang tengah mempersiapkan diri agar hamil sampai makanan pendamping ASI (MPASI) untuk bayi dan balita.

Pengayaan itu, diakui Tya, sejalan dengan pengalaman hidupnya. Untuk program trying to conceive (TTC) meal, umpama. Menurut ibu satu anak tersebut, hal itu terinspirasi dari upayanya selama delapan tahun untuk mengandung. Saat itu salah satu pendekatan yang ia tempuh ialah mendalami pola makan sehat.

"Kami bikin program TTC Meal, yang makanannya lebih banyak mengandung proteinnya," katanya.

Kemudian, seiring dengan kebutuhan dirinya sebagai ibu menyusui (busui) dan putrinya, TRF Homemade melansir paket kudapan untuk ASI booster, dan MPASI.

Kudapan ASI booster untuk busui berupa brownies sehat yang bebas gluten, non-diary, mengandung flaxseed yang baik untuk kesehatan. Adapun kue kering untuk busui itu pada dasarnya berasal dari resep umum, tapi dibubuhi dengan kandungan yang dipercaya baik untuk kuantitas ASI, seperti fenugreek dan daun katuk.

"Jadi semuanya memang sudah dilalui dahulu, sudah dijalani dahulu, baru kemudian kami berani menjual ke orang," ujar Tya.

Sementara itu, untuk MPASI, ia menawarkan makanan beku (frozen food) dan camilan (dessert). TRF baby frozen food punya beragam pilihan, seperti nasi hainan, nasi tim ayam jamur, misoa, dan banyak lagi, dengan harga mulai Rp40 ribu per porsi. Sementara itu, Baby Dessert dilego Rp25 ribu per porsi.

Namun, tidak seperti program kateringnya yang lain, MPASI dan Baby Dessert dijual sesuai stok dan dapat dibeli lewat beberapa platform e-commerce. "Jadi tidak bisa request menu di luar daftar stok, kecuali untuk kebutuhan acara tertentu yang biasanya memang sudah dipesan jauh hari untuk menu dan jumlahnya."

Tantangan

Mulai 2020, beberapa rencana sudah dirancang antara lain membuat produk makanan kering, seperti abon, kue kering, disertai dengan nutrition fact. Mereka juga akan membuka batch baru untuk reseller frozen food baby termasuk kaldu.

"Masalah utama di industri katering seperti biasa ada di SDM. Kalau untuk kue, atau puding kami memang sudah ada timnya, tapi untuk katering , saya masih masak sendiri. Karyawan hanya membantu tetapi tidak memegang masakannya," jelas Tya.

Di samping semua sayuran organik, kini perlahan TRF Homemade sudah mulai menggunakan protein organik seperti ayam probiotik dan daging sapi grassfeed --dari sapi yang hanya memakan rumput dan bukan pakan ternak.

Selain itu, menggunakan bahan-bahan organik juga menjadi tantangan bagi industri katering, meski sekarang tidak lagi harus mencari sampai pelosok. Namun, dahulu dia sempat merasakan sulitnya mencari sayuran kale organik hingga harus sampai ke Bali.

"Kadang orang lain malah tanya supplier-nya di mana, sedangkan saya mencarinya dengan penuh perjuangan karena bahannya masih langka misalnya. Jadi kalau posting makanan, kami harus validasi ini produk organik, tapi kami tidak mungkin bilang dari supplier mana."

Tantangan lainnya selain menyusun menu tiap minggu juga memastikan mendengar tiap masukan dan mencarikan solusi sesegera mungkin bila ada komplain.

"Kalau ada komplain, kami beri solusi sesegera mungkin. Mereka ingin didengar dan ada solusi respons. Makanya admin terus standby sebagai pintu gerbang utama untuk komunikasi dengan customer," pungkasnya. (M-2)

Nama: Adetya Herdini Hutami

Profesi: Pendiri dan pengelola TRF Homemade Catering

Tempat, tanggal lahir: Magelang, 27 Maret 1983

Edukasi:

1989-1995: SDN 06 Pasar Minggu

1995-1998: SMPN 98 Lenteng Agung

1998-2001: SMA PSKD 4

2001-2004: Akademi Sekretaris Tarakanita

BERITA TERKAIT