29 December 2019, 04:50 WIB

Lepas dari Cengkeraman Pakem Batik


Mohammad Ghazi | Weekend

Dok.MI/Ebet
 Dok.MI/Ebet
Lepas dari Cengkeraman Pakem Batik

Batik di Madura kini mulai bergeser, khususnya terkait motif. Namun, prinsip dan proses membatik menggunakan canting tetap mereka pegang.

SAMSIYAH, 51, Minggu (15/12), terlihat tak memedulikan Media Indonesia yang mengambil gambar dirinya saat membatik. Kesempatan itu terjadi di dapur miliknya. Dapur yang letaknya di bagian belakang rumah di Dusun Toronan, Kelurahan Kowel, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Pandangannya tetap tertuju pada canting berisi malam cair yang dipegangnya. Matanya fokus melihat gerakan tangan yang sedang menggoreskan canting pada selembar kain putih. Sesekali ia

mencelupkan canting ke sebuah wadah di atas tungku yang sedang menyala, lalu meniupnya perlahan dan kembali menggoreskan ke kain yang dipegangnya.

Ada gambar bermotif daun dan bunga di kain putih yang dipegang dengan

tangan kirinya itu. Bila diamati, gambar yang tampak menggunakan pensil di kain yang dipegang nenek dua orang cucu itu tidak seperti gambar pada batik Madura. Biasanya, batik Madura memiliki motif daun, serat kayu, air hujan, dan motif lain yang selama ini dikenal sebagai pakem atau aturan.

Namun, yang terlihat pada motif batik yang ada di salah satu perajin di

desa yang dikenal sebagai sentra batik Madura itu, bermotifkan perahu dan ombak yang tidak lazim digunakan sebagai motif batik.

Di Madura, saat ini telah banyak beredar batik dengan motif unik. Motif ini sebelumnya tidak pernah dipakai sebagai kelir dalam batik.

Di Madura saat ini sedang muncul tren di antaranya motif Monumen Arek Lancor, sebuah monumen yang menjadi simbol perlawanan masyarakat Madura terhadap penjajah serta motif yang tidak jelas dan terlihat sebagai lukisan abstrak. Motif lainnya ialah kerapan sapi yang menjadi bentuk protes terhadap perjudian dan aksi kekerasan terhadap binatang di salah satu bentuk tradisi di Madura tersebut.

Rusdi, seorang perajin batik tulis di Kelurahan Kowel, mengatakan saat ini para pembatik mulai menghindari pakem-pakem yang selama ini menjadi acuan dalam membatik. Motif kekeratonan atau motif kemataraman itu dinilai terlalu mengikat kreativitas para perajin.

"Awalnya kami berkeyakinan, yang namanya motif batik adalah motif warisan kerajaan itu. Namun, akhirnya kami mencoba lepas dari pakem itu dengan membuat motif lain," katanya, awal Februari lalu.

Menurut Rusdi, keberadaan pakem itu tidak lepas dari sejarah batik sebagai pakaian para petinggi kerajaan di masa lalu. Begitu pula dengan motif yang digunakan, seperti motif sekar jagad, junjung drajad, burung merak, dan lainnya.

Motif itu juga disandarkan dengan mitos-mitos. Misalnya, motif batik kawung yang memiliki makna subur, toron ojhan (udan liris) yang menjadi simbol kemurahan rejeki, truntum yang merupakan simbol ketenteraman, dan kembang kenikir yang bermakna penolak bala.

Pakem atau aturan tentang motif itu terkesan begitu mengikat dan seperti menjadi aturan tidak tertulis yang harus dipatuhi para perajin dan konsumen. Karena itu, satu hasil produksi akan dianggap sebagai batik apabila menggunakan motif yang sesuai dengan pakem tersebut meskipun proses pembuatannya tidak melalui proses membatik, seperti menggunakan mesin cetak atau yang lazim disebut batik printing.

Proses

Bagi sebagian para perajin, jelas dia, batik ialah proses dan bukan pada motif. Karena itu, apa pun gambar yang digunakan sebagai motif, asalkan dibuat dengan proses yang selama ini disebut dengan membatik, hasilnya tetap bisa disebut batik.

"Bagi kami, batik bukan lagi hanya menjadi simbol identitas, melainkan juga menjadi simbol perlawanan terhadap kemapanan," kata Mahmud, salah satu pelaku usaha batik di Desa Larangan Badung, Kabupaten Pamekasan.

Pemerhati batik tulis Pamekasan, Taufikurrahman, mengatakan tindakan

melepaskan diri dari pakem di kalangan pembatik itu tidak bisa lagi

dibendung di era industri. Itu karena mereka tidak bisa lagi hanya berdiri di koridor kebudayaan, tapi juga sudah memiliki kepentingan ekonomi.

"Beda dengan para pembatik di masa kerajaan yang memang mengabdi pada

tradisi. Tapi saat ini para perajin itu dituntut untuk berkreasi agar hasil produksi mereka tidak jumud atau stagnan," kata Taufik.

Di Madura, batik yang merupakan warisan Kerajaan Mataram tidak bisa lagi diikat dengan pakem aturan tentang motif. Apalagi, kata dia, dalam

sejarahnya pakem itu pernah mengalami 'pembelokan' pada 1948 hingga 1950, pada saat Madura menjadi negara bagian dari Republik Indonesia Serikat.

"Pada saat itu muncul motif batik yang juga keluar dari pakem. Motif yang ada pada masa itu bernuansa perlawanan terhadap para penjajah, seperti motif keris, bambu runcing, dan motif senjata lain sebagai bentuk perlawanan," tuturnya.

Namun, kata dia, batik kontemporer yang saat ini sedang menjadi tren di

kalangan pembatik tidak bisa lepas dari koridor utama, yakni proses

produksinya yang tetap memegang teguh aturan membatik.

Karena itu, jelas Taufik, meskipun saat ini di Madura muncul batik lukis dan batik tulis dengan motif berbeda dari kebanyakan batik kraton, prosesnya tidak lepas dari menggoreskan malam di kain menggunakan canting karena itu merupakan garis utama dalam membatik.

Pengamat kebudayaan Madura, Kadarisman Sastrodiwirdjo, mengatakan munculnya motif baru batik itu sebagai pengembangan dari kreasi kebudayaan. Hal itu merupakan hal yang lumrah karena sebagai sebuah hasil budaya, batik juga tidak perlu diikat dengan aturan pakem yang ketat. Munculnya varian baru itu, kata dia, justru dapat memperkaya khazanah batik di Madura. "Selama proses yang digunakan bukan printing, karena kalau printing sudah bukan batik," katanya. (M-4)

BERITA TERKAIT