29 December 2019, 04:30 WIB

Membangun untuk Negeri


(*/M-3) | WAWANCARA

ARSITEKTUR merupakan semangat hidup bagi Sibarani Sofian. Apalagi saat kecil, pria berdarah Batak ini kerap diminta ayahnya menjaga toko bangunan milik keluarga di Pasar Anyer, Bogor. Guna mengusir penatnya, ia kerap mengamati pola tingkah orang yang lalu lalang di Pasar.

Sofian mengaku tidak menyukai pasar karena kondisinya berantakan. Alasan itu yang memicu tekadnya menjadi arsitek guna menata pasar sesuai koridor ruang publik yang baik.

"Satu hal yang membuat saya tergerak kuliah di arsitektur, yaitu pengalaman saya saat masih kecil, dulu bapak saya punya toko bahan bangunan di Pasar Anyer, di daerah Bogor. Pasar itu berantakan sekali, penggusuran di sana-sini, belum lagi kebakaran. Setiap kali saya pulang sekolah, saya harus di toko material karena membantu orangtua. Selama masa itu, saya sering berpikir, kok berantakan kayak gini ya lingkungan saya, akhirnya sejak itu saya putuskan untuk belajar arsitektur," terang Sibarani Sofian.

Sayangnya, arsitektur belum bisa membenahi kondisi pasar karena hanya bisa mendesain bagunan dan bukan menata kota. Kala itu, katanya, perencanaan belum terekspos seperti saat ini.

"Saya kemudian memutuskan sekolah lagi, dari latar belakang saya yang arsitektur. Saya cari referensi tentang keilmuan apa yang cocok dengan background saya itu. Pilihan jatuh pada urban design," ujarnya.

Sofian bukanlah orang baru dalam dunia perencanaan dan tata kota. Setelah menyelesaikan studi master di University of New South Wales, Australia, pada 1999, Sofian memutuskan kembali ke Indonesia. Sayangnya, kala itu Indonesia tengah krisis moneter dan memaksa Sofian hijrah ke Singapura.

Di Singapura, ia memulai kariernya sebagai arsitek dan perencana yang menangani proyek berskala internasional. Salah satunya pembangunan tahap akhir kota negara Malaysia, Putrajaya.

Seiring waktu, kariernya semakin cemerlang dan berkesempatan bergabung dengan firma perencanaan bangunan internasional di Hong Kong. Apalagi saat itu, Hong Kong tengah menggenjot pembangunan kota. Sofian mengaku banyak belajar tentang penerapan konsep transit oriented development (TOD) dalam pembangunan perkotaan.

"Saya dapat panggilan kerja di Singapura, waktu ada satu firma bisnis sedang mengerjakan proyek pembangunan di kawasan Malaysia, saya ikut di proyek itu. Kebetulan salah satu proyek yang saya garap adalah review tentang Putrajaya, tapi versi akhirnya. Jadi, kebetulan sekali saya pernah mengerjakan desain ibu kota Malaysia waktu itu sehingga sedikit-banyak ada ilmu yang bisa saya tuangkan dalam desain ibu kota negara Indonesia ini," ucapnya sembari berkelakar.

Setelah 12 tahun melanglang buana, pada 2011 Sofian mantap kembali ke Tanah Air. Keputusan itu karena ia tertantang sentilan mendinang Ciputra yang sempat menjadi rekan kerjanya saat menggarap Ancol Ecopark pada 2009. Kala itu, Ciputra menasihatinya kembali ke Indonesia dan kemampuannya sangat berguna bagi Indonesia.

"Pada 2009, saya ada panggilan Grup Ancol, waktu itu Pak Budi karya direksinya. Saya ditugaskan mendesain Ancol Ecopark, karya pertama saya di Indonesia. Saya kerjakan tugas itu bersama mendiang Pak Ciputra. Satu waktu Pak Ci nyentil saya, dia bilang 'kamu orang Indonesia, kamu bisa bangun segala macam ini di Indonesia, ngapain kamu pilih di luar? Kenapa kamu enggak bangun di negeri kita saja?' Saya bilang, 'Pak, apa saya dibutuhkan di sini? Beliau langsung jawab, 'Oh, saya bisa yakinkan kalau kamu mau, kamu pasti sangat dibutuhkan'," pungkasnya sembari mengingat-ingat dialognya dengan mendiang Ciputra. (*/M-3)

BERITA TERKAIT