28 December 2019, 15:50 WIB

498 Warga Depok Derita Gangguan Jiwa Berat


Kisar Rajaguguk | Megapolitan

RATUSAN warga Kota Depok mengalami gangguan kejiwaan berat. Keberadaan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) ini dikeluhkan warga karena kerap mengganggu.

Kepala Dinas Sosial Kota Depok, Usman Helyana, mengungkapkan, di tahun ini, ada 498 menderita gangguan jiwa berat di kota yang berpenduduk 2,3 juta itu. Sementara pada 2018 ada 890 orang.

Usman menjelaskan, gangguan jiwa sifatnya sama seperti penyakit kronis lainnya, yakni bisa kambuh bila tidak terkontrol. Bagi penderita gangguan jiwa berat, pihaknya menyiapkan ruzukan ke Rumah Sakit Marzuki Mahdi (RS-MM) di Bogor.

"Kemudian setelah pulih (Sembuh) atau setelah mendapatkan penanganan yang baik dikembalikan kepada keluarganya," terangnya ketika dimintai konfirmasi oleh Media Indonesia, Sabtu (28/12).

Dikatakan, pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa di daerah Kota Depok semakin membaik dari sisi preventif dan rehabilitatif. Ini bisa dilihat dengan berkurangnya jumlah penderita gangguan jiwa tahun ini.

"Hampir setengah berkurang jika dibandingkan dengna 2018, yang mencapai 890 penderita," ucapnya.


Baca juga: Jelang Kota Bebas Kantong Plastik, Pemkot Bekasi Kampanye di Mal


Ketika kepadanya ditanyakan apakah orang gila yang berkeliaran di Kota Depok, sebagian besar berasal dari luar daerah, Usman tidak bersedia menjelaskan.

"Itu data perbandingan tahun ini dari tahun lalu yang direkap Dinas Sosial Kota Depok," ujarnya.

Tapi, salah seorang warga, Dulani mengatakan orang gila yang berkeliaran di Kota Depok, sebagian besar berasal dari daerah lain.

Koordinator Keamanan Pasar Cisalak itu mengungkapkan pihaknya melihat seorang penderita gangguan jiwa berat berjenis kelamin laki-laki sedang menaiki lift, mulai dari basement naik ke lantai tiga Pasar Cisalak.

Laki-laki tersebut diduga berasal dari Cibinong, Bogor. Dugaan bahwa orang tersebut berasal dari Cibinong, karena ada pedagang Pasar Cisalak yang mengenalinya.

Keberadaan penyandang penyakit gila ini menurut Dulani banyak dikeluhkan masyarakat khususnya warga pedagang.

"Kami merasa kewalahan menanganu keberadaan orang gila yang bekeliaran," kata Dulani.

Seperti diketahui, gangguan jiwa sangat beragam jenisnya, mulai dari yang ringan hingga akut dimana penderita kesulitan memproses pikirannya, sehingga dapat berhalunisasi, pikiran yang tidak jelas dan tingkah laku atau bicara yang tidak wajar. (OL-1)

 

 

BERITA TERKAIT