28 December 2019, 15:10 WIB

Generasi Muda Diminta Aktif Kampanyekan Antihoaks


Bayu Anggoro | Nusantara

MI/Bayu Anggoro
 MI/Bayu Anggoro
Sosialisasi antihoaks yang diberikan kelompok kerja wartawan gedung Sate di Bandung Sabtu (28/12)

GENERASI muda dianggap menjadi sasaran empuk dalam penyebaran informasi bohong (hoaks) yang marak terjadi di media sosial. Tingginya penggunaan internet di kalangan milenial ini harus diikuti dengan kecerdasan emosional dan intelektual.

Hal ini terungkap dalam sosialisasi antihoaks dan pelatihan jurnalistik yang diberikan Kelompok Kerja Wartawan Gedung Sate dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat kepada ratusan mahasiswa dan masyarakat umum yang memadati Lapangan Gasibu, Bandung, Sabtu (28/12).

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara dari kilas balik (Kaleidoskop) Jawa Barat 2019 yang digelar Humas Pemprov Jabar.

"Kalau menerima informasi, jangan langsung percaya. Harus kritis dan melakukan verifikasi," kata Wakil Sekretaris Pokja Wartawan Gedung Sate,
Rahmat Saepulloh, yang menjadi salah satu pemateri dalam acara tersebut.

Menurutnya, generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam melawan hoaks.

"Kalau mahasiswanya sudah mudah tertipu hoaks, bagaimana dengan masyarakat yang lain," katanya.

Sebagai kaum penerus yang lebih akrab dengan internet dan media sosial, generasi muda harus cerdas sehingga mampu mengampanyekan antihoaks kepada warga lain.

"Apalagi mahasiswa, kaum intelek, harus aktif menyosialisasikan tentang bahaya hoaks," katanya.

Agar bisa membedakan antara informasi yang benar dengan hoaks, menurut dia, masyarakat harus memerhatikan sejumlah hal. Pertama, jangan mudah percaya dengan judul yang fantastis karena belum tentu sesuai dengan isi yang dimuat.


Baca juga: Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan Jan Ethes Liburan di Mal


"Berita hoaks biasanya judulnya provokatif. Jadi kalau ada berita judulnya sensasional, segera cari berita pembanding," katanya.

Kedua, dalam mencari berita pembanding, harus merujuk kepada media-media arus utama yang sudah memiliki kredibilitas yang baik.

"Jadi mencari berita pembandingnya jangan dari media sosial," katanya.

Ketiga, pembaca menurutnya harus memerhatikan media (alamat situs) yang mengeluarkan informasi tersebut. Jika bukan berasal dari media arus utama yang sudah terverifikasi dewan pers, pembaca jangan langsung percaya terhadap kabar yang diberikan.

"Jika hanya dari medsos atau blog, kita harus ragu, jangan langsung percaya," katanya.

Terakhir, menurut Rahmat, hoaks bukan hanya berupa tulisan, melainkan juga berbentuk foto dan video.

"Jadi kita juga harus cek keaslian foto atau video. Karena sekarang kan sangat mudah untuk mengedit-edit foto dan video," katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemprov Jabar, Fajar Ginanjar, mengatakan, Kilas Balik Jawa Barat 2019 diharapkan mampu mengingatkan kembali masyarakat akan berbagai pembangunan di provinsi tersebut.

"Kami ingin mengingatkan kembali masyarakat tentang apa saja yang sudah dilakukan pemerintah di Jawa Barat selama 2019 ini," katanya.

Selain menampilkan berita-berita dari berbagai media arus utama, acara ini pun menghadirkan berbagai narasumber untuk menyosialisasikan potensi bencana di Jabar.

"Sekarang kan musim hujan, kita ingatkan masyarakat akan bahaya-bahaya yang bisa terjadi," katanya. (OL-1)

BERITA TERKAIT