28 December 2019, 10:10 WIB

Lebih dari 235 Ribu Warga Sipil Tinggalkan Idlib


Melalusa Susthira K | Internasional

AFP
 AFP
Warga sipil berbondong-bondong memadati sebuah jalan meninggalkan provinsi Idlib

WARGA sipil berbondong-bondong memadati sebuah jalan meninggalkan provinsi Idlib, Suriah, pada Jumat (27/12). Selama dua pekan terakhir lebih dari 235 ribu orang telah meninggalkan wilayah di barat laut Suriah itu, setelah meningkatnya serangan rezim Bashar al-Assad yang didukung Rusia.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebut ratusan ribu orang tersebut meninggalkan wilayah Idlib antara 12 dan 25 Desember. Sebagian besar dari mereka dilaporkan berasal dari kota Maaret al-Numan, yang membuat wilayah tersebut menjadi hampir kosong setelah ditinggalkan warganya mengungsi.

Juru bicara OCHA David Swanson mengatakan bahwa lebih dari 80 % dari mereka yang telah meninggalkan Idlib selatan pada bulan ini merupakan wanita dan anak-anak.

"Terpaksa pindah pada bulan-bulan musim dingin karena memperburuk kerentanan yang ada, khususnya perempuan, anak-anak, orang tua, disabilitas dan kelompok rentan lainnya," terang OCHA.

Adapun koresponden AFP melaporkan, truk-truk tampak mengangkut rombongan keluarga beserta kasur, pakaian, dan peralatan rumah tangga lainnya keluar dari provinsi selatan Idlib, sebagian besar menuju ke daerah yang lebih aman di wilayah utara.

"Saya tidak bisa tinggal di kamp," ungkap seorang ibu yang baru tiba di sebuah kamp pengungsian di kota Dana, utara Idlib, Umm Abdo.

"Hujannya sangat deras, dan kita perlu pemanasan, pakaian, dan makanan," tambahnya.

Sejak pertengahan Desember, pasukan rezim Bashar al-Assad dan sekutu Rusia telah meningkatkan pemboman di tepi selatan dari kantong utama Suriah yang dikuasai oposisi. Kekerasan terbaru di wilayah Idlib yang didominasi kelompok jihad telah menewaskan banyak warga sipil, meskipun ada perjanjian gencatan senjata Agustus dan seruan de-eskalasi dari internasional. (afp/OL-11)

BERITA TERKAIT