28 December 2019, 07:30 WIB

Tahun Liverpool dan Asa Arteta


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

MI/Seno
 MI/Seno
Dewan Redaksi Media Group, Suryopratomo.

 Ketika kamu berjalan melintasi badai

Tetaplah kepalamu berdiri tegak

Jangan pernah takut kepada

kegelapan

 

Sebab di ujung badai nanti

Ada langit berwarna keemasan

Dan suara riang burung-burung

 

DUA bait pertama lagu You'll Never Walk Alone menancap dalam di sanubari setiap pemain Liverpool. Dari teras di belakang gawang di Anfield, para pendukung the Reds tidak pernah lelah memompa semangat para pemain pujaan mereka.

Tak mengherankan jika skuad 'si Merah' terus berlari, bertanding untuk meraih kemenangan. Perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah itu kini membuahkan hasil.

Pada 2019 boleh dikatakan merupakan tahun kejayaan the Reds. Juergen Klopp membawa anak-anak asuhannya untuk kembali merebut Piala Champions. Tidak sampai di situ, pelatih asal Jerman itu membawa Liverpool merebut satu piala yang belum pernah mereka raih, Piala Dunia Antarklub.

Prestasi itu bertambah lengkap karena the Reds tidak terkalahkan pada putaran pertama Liga Primer. Kemenangan 4-0 atas Leicester City pada Boxing Day membuat Liverpool nyaris membuat angka sempurna pada musim kompetisi kali ini.

Hanya Manchester United yang mampu menahan laju Liverpool di putaran pertama lalu. Gol Adam Lallana, 5 menit menjelang laga usai, menyelamatkan the Reds dari kekalahan.

Dengan keunggulan 13 poin (minus satu pertandingan tertunda melawan West Ham United) dari para para pesaing, hanya musibah besar yang bisa menggagalkan Liverpool merebut kembali gelar juara Liga Primer. Putaran kedua yang mulai bergulir Sabtu malam ini akan menjadi saksi kedigdayaan 'Tim Merah'. Wolverhampton menjadi lawan pertama Liverpool di putaran kedua.

 AFP/KARIM JAAFAR

Para pemain Liverpool pada saat Mengangkat Piala antar Klub di Qatar.

 

Lawan terberat Liverpool ialah cedera pemain. Tiga pemain utama mereka yang harus menjalani perawatan ialah dua centre-back Joel Matip dan Dejan Lovren, serta gelandang jangkar andalan Fabinho.

Beruntung Klopp mempunyai pemain dengan multitalenta dan komitmen yang tinggi. Kapten kesebelasan Jordan Henderson tak hanya mampu menjadi gelandang serang yang mematikan, tetapi bisa menjadi centre-back yang penuh kalkulasi. Pemain kawakan James Milner juga bisa ditempatkan sebagai gelandang, tetapi bisa memerankan tugas sebagai bek.

Di lapangan tengah, Klopp tidak hanya bergantung pada trio Georginio Wijnaldum-Fabinho-Henderson. Ia masih memiliki trio Alex Oxlade-Chamberlain-Lallana-Naby Keita yang terbukti ampuh untuk membawa Liverpool melaju ke final Piala Dunia Antarklub 2019.

Untuk barisan penyerang, pilihan utama Klopp tentu trio Sadio Mane, Roberto Firmino, dan Mohamad Salah. Akan tetapi, untuk menjaga kebugaran pemain, Liverpool masih punya supersub Divock Origi dan Xherdan Shaqiri.

Minggu malam besok, kiper Wolverhampton Rui Patricio benar-benar diuji keandalannya untuk bisa menahan gempuran para pemain Liverpool yang sedang menggila. Kiper Leicester, Kasper Schmeichel, yang dikenal tangguh, harus kebobolan empat gol pada pertandingan Kamis lalu.

Seakan tidak ada lelahnya para pemain 'Tim Merah' menggempur pertahanan lawan. Padahal, beberapa hari sebelumnya mereka dipaksa bermain 120 menit oleh Flamengo di ajang Kejuaraan Antarklub Dunia.

Suntikan semangat yang diberikan the Kop memang menghapus semua rasa lelah yang menghinggapi:

Berjalanlah melintasi angin

Berjalanlah di tengah hujan

Meski mimpimu pernah dihempaskan

(Karena) Kamu tidak pernah berjalan sendiri

 

Kesempatan terakhir

Liverpool berjuang menggapai kejayaan, sedangkan Arsenal harus berjuang keras untuk keluar dari keterpurukan. Mantan kapten Arsenal, Mikel Arteta, harus mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk bisa mengangkat the Gunners kembali ke jajaran kelompok elite Liga Primer.

Sembilan belas pertandingan terakhir di putaran kedua merupakan kesempatan yang tersisa untuk membuat Arsenal kembali dihormati. Setelah mampu menahan imbang 1-1 tuan rumah Bournemouth dalam debutnya sebagai pelatih Arsenal, Minggu malam ini Arteta menghadapi ujian sesungguhnya saat menjamu musuh satu kotanya, Chelsea.

AFP/Glyn KIRK

Pelatih Arsenal Asal Spanyol, Mikel Arteta.

 

Arteta yang meninggalkan Arsenal dan gantung sepatu pada 2016, mengaku puas dengan sikap dan karakter pantang menyerah yang diperlihatkan anak-anak asuhannya. "Biasanya ketika sebuah tim kebobolan, kepercayaan tim langsung runtuh. Namun, saya bangga dengan reaksi para pemain yang langsung bangkit dan menunjukkan sikap, karakter, dan semangat pantang menyerah," kata pelatih baru Arsenal asal Spanyol ini.

Namun, ia mengakui banyak hal yang harus diperbaiki. Arteta akan berbicara secara khusus dengan pada pemain untuk persiapan menghadapi Chelsea besok malam.

"Saya melihat banyak hal positif yang bisa dipetik. Jujur harus saya katakan, banyak hal yang harus segera kami perbaiki di setiap posisi," tambah Arteta.

Satu yang membuat Arteta lebih tenang, Chelsea pun penampilannya belum konsisten. Saat sebelumnya mampu mengempaskan Tottenham Hotspur 2-0 di kandang sendiri, Kamis lalu, the Blues justru dipaksa menyerah 0-2 oleh Southampton.

"Saya masih mencari tahu bagaimana menjaga konsistensi penampilan tim asuhan saya. Jujur saya puas dengan penampilan yang terus meningkat dari Willian dan Tammy Abraham. Hanya saja kami justru tidak bisa mencetak gol dalam tiga dari empat penampilan kami di Stamford Bridge," ucap pelatih Frank Lampard jujur.

 

Meraih momentum

Pertandingan besok malam di Stadion Emirates menjadi seru karena kedua tim sama-sama berupaya meraih momentum. Kemenangan pada pertandingan ini menjadi modal untuk bisa menapaki posisi atas.

Arteta mengandalkan gelandang asal Jerman Mesut Oezil sebagai pengatur serangan. Ia berharap tiga penyerang, Pierre-Emerick Aubameyang, Nicolas Pepe, dan ujung tombak Alexandre Lacazette lebih tenang untuk memanfaatkan peluang-peluang yang diciptakan Oezil. Dalam beberapa pertandingan terakhir, finishing touch para penyerang Arsenal buruk sekali.

Hal yang juga perlu mendapat perhatian ialah barisan pertahanan. Pemain kawakan asal Chelsea, David Luiz, belum mampu menyatu dengan Arsenal. Koordinasi di antara pemain begitu lemah sehingga mudah untuk diterobos pemain lawan.

Gelandang bertahan Granit Xhaka dan Lucas Torreira harus lebih berfungsi untuk mengawal gerakan Willian dan Tammy Abraham. Apabila mampu menemukan gaya permainan terbaiknya, Chelsea bisa sangat berbahaya.

AFP/Yuri KADOBNOV

Pemain Chelsea, N'Golo Kante (kiri) dan Andreas Christensen (kanan) berebut bola dengan pemain Arsenal Alexandre Lacazette.

 

Apalagi, the Blues mempunyai lapangan tengah yang kuat. N'Golo Kante dan Jorginho sangat efektif dalam bermain. Keduanya tidak hanya memiliki kemampuan merusak permainan lawan, tetapi juga bisa tiba-tiba mengancam gawang lawan.

Minggu malam nanti Arsenal harus tampil dengan permainan terbaiknya apabila ingin mempersembahkan kemenangan pertama kepada Arteta. Kalau tidak, Chelsea bisa menjadi mimpi buruk bagi kiprah pertama Arteta sebagai pelatih.

BERITA TERKAIT