28 December 2019, 07:00 WIB

Aksi Perempuan Hadapi Perubahan Iklim


(Wan/M-1) | Weekend

DOK. MARIE HERMINE EKAPUTRI MARDI WUHAN
 DOK. MARIE HERMINE EKAPUTRI MARDI WUHAN
PENYULING AIR: Marie Hermine Eka Putri memperhatikan alat penyuling air buatannya

TINGGAL di wilayah pesisir di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Marie Hermine Ekaputri Mardi Wuhan telah terbiasa dengan cuaca panas dan kering. Namun, dengan perubahan iklim, kekeringan dirasa kian menjadi. Pada tahun ini pun Lembata termasuk dalam 9 kabupaten di NTT yang mengalami kekeringan ekstrem.

Seperti warga desa yang lain, Eka--panggilan akrab remaja putri ini--harus berjalan berkilometer untuk mendapatkan air. Tidak ingin menyerah pada keadaan, Eka kemudian membuat alat pengolahan air. Ia

menerapkan ilmu yang didapat dari sekolah untuk membuat alat yang ia sebut sebagai distilator cahaya.

"Kebetulan tempat tinggalku di pesisir, jadi aku pakai bahan yang melimpah, yakni air laut dan sinar matahari," kata Eka di sela-sela acara Girls in Climate Crisis, Summit on Girls pada Selasa (10/12) di Balai Kartini, Jakarta.

Lebih lanjut ia menjelaskan jika alat tersebut pada intinya merupakan penyuling air, tapi memakai beberapa bahan wadah alumunium dan pembungkus dari kertas UV untuk mempercepat proses penguapan air laut. Proses penyulingan dikatakan cukup mudah, yakni hanya dengan mengisi air laut ke penampungan berkapasitas 25 liter air. Agar prosesnya cepat dan menjaga air tetap bersih, alat itu juga dilengkapi penutup.

"Alat ini didiamkan di bawah sinar matahari sehingga dengan sendirinya menguap dan menghasilkan air tawar. Semakin panas, maka semakin cepat pula menguapnya," ungkap Eka.

Untuk air laut 25 liter, penyulingan memerlukan waktu 2-3 hari. Sementara itu, volume air tawar yang dihasilkan berkisar 15-20 liter. Namun, Eka belum mengetahui pada titik didih berapa air laut bisa menguap karena ia belum melakukan penelitian lanjutan karena terbentur biaya.

Eka juga belum melakukan uji laboratorium terhadap air yang dihasilkan, tapi selama ini air yang telah digunakan untuk mandi dan mencuci belum ada keluhan. "Distilator sinar yang kami buat punya dua keuntungan. Selain air, ada pula garam alami tanpa terkontaminasi bahan kimia," katanya.

Dengan penemuan sederhana itu, Eka telah membantu penyediaan air dengan cara yang hemat energi dan biaya.

Peneliti Iklim World Resources Institute (WRI) Indonesia Cynthia Maharani mengungkapkan, jika perempuan memiliki peran penting dalam perubahan iklim, baik untuk mitigasi maupun adaptasi seperti yang dilakukan Eka. Oleh karena itu, bersama Plan Indonesia, Cynthia memberikan edukasi perubahan iklim terhadap perempuan.

Agen perubahan

Pendapat serupa juga dikatakan Nadine Chandrawinata. Puteri Indonesia 2005 yang kemudian juga dikenal sebagai host acara jelajah ini sejak 2015 mendirikan yayasan dan gerakan Sea Soldier.

Lewat gerakan itu ia menyebarkan kesadaran pentingnya kelestarian sumber daya laut. Lewat gerakan itu pula Nadine percaya jika mampu mendorong munculnya agen-agen perubahan yang nantinya mampu membuat gerakan masing-masing untuk lingkungan sekitarnya.

Di Sea Soldier, sesuai dengan nama gerakan itu, Nadine lebih berfokus pada upaya minimalisasi sampah laut, khususnya plastik. Hal itu dilakukan, baik dengan pembersihan sampah yang ada di lingkungan maupun mencegah timbulnya sampah. "Hal kecil saja yang kita lakukan bisa berarti untuk lingkungan, dimulai biasain pakai tumbler dulu deh," katanya. Dari perilaku sederhana itu ia pun ingin menunjukkan menggunakan tumbler tidak kolot, tetapi menunjukkan sikap tanggung jawab terhadap air.

Menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan juga dirasakan Reza. Perempuan asal Riau ini semakin prihatin terhadap lingkungan tempat tinggalnya yang mana untuk menyambung hidup, masyarakat setempat menebang kayu yang kemudian dijual. "Tempat saya berada dipelosok, perlu 2 jam setengah untuk pergi ke kecamatan membeli keperluan sehingga cara satu-satunya menebang kayu," kata Reza.

Tak ingin lingkungannya terus rusak, Reza kemudian berinisiatif mengubah lahannya untuk bercocok tanam. Reza dan teman perempuan lainnya belajar mengenai cara bertanam, seperti cabai, bawang, dan sebagainya untuk keperluan sehari-harinya dan menyebarkan virus kebaikan ini pada masyarakat setempat agar semua orang bisa mandiri dan bertanggung jawab dengan lingkungannya.

Sementara itu, Waya Maweru, aktivis perubahan Greenpeace, menyuarakan pentingnya pula kepedulian terhadap hutan. Ia bersama kelompoknya memiliki fokus menolak keberadaan hutan sawit yang tidak lestari. (Wan/M-1)

BERITA TERKAIT