28 December 2019, 05:00 WIB

Kampus Cetak SDM Unggul


Syarief Oebaidillah | Humaniora

KEBEBASAN akademik dan mimbar di setiap perguruan tinggi ialah modal pokok bagi kampus untuk tumbuh berkembang dan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul.

"Kebebasan akademik dan mimbar akademik akan menjadi atmosfer krusial untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis sekaligus keahlian (skill) yang diperlukan di era ketidakpastian akibat disrupsi teknologi dewasa ini. Kebebasan akademik menjadi atmosfer untuk mencetak SDM unggul yang tengah menjadi program utama pemerintah," kata Rektor IPB Prof Dr Arif Satria pada pidato akhir tahun bertajuk Kebebasan Akademik dan Transformasi Demokrasi yang digelar Perkumpulan Gerakan Kebangsaan di Jakarta, kemarin.

Arif menegaskan ukuran kehidupan kampus ialah rasionalitas. Sebagai lumbung rasionalitas, maka kampus membuka kesempatan kepada siapa pun di dalamnya untuk berpikir menghasilkan pemikiran baru maupun berpikir untuk merespons pemikiran lain.

Interaksi rasional di kampus terjadi karena yang diperbincangkan ialah sains dan teknologi yang bertumpu pada rasionalitas.

"Rasionalitas adalah steering media yang membuat kampus tetap eksis. Kampus hidup karena rasionalitas tumbuh subur dan mendapat tempat terhormat. Semakin maju kampus biasanya semakin banyak alokasi waktu orang-orang di dalamnya untuk mempertukarkan pikiran-pikiran rasionalnya," tegas Arif

Lalu apa hubungan antara kebebasan akademik dan demokrasi? Arif menandaskan kebebasan akademik sebenarnya salah satu bentuk demokrasi secara mikro. Kampus dituntut demokratis karena memang sejatinya kampus dibesarkan dengan cara-cara demokratis.

"Di sinilah yang membedakan demokrasi di kampus dengan demokrasi secara makro di luar kampus," cetusnya.

Dikatakan, tradisi demokratis dengan ciri kebebasan akademik membuat kampus memiliki ciri pokok, yakni rasional.

Rasionalitas kampus menjadi pembentuk watak kampus berikutnya, yakni independen. Semakin independen sebuah kampus artinya semakin mengagungkan rasionalitasnya.

Kehidupan rasional di kampus ialah modal bagi kampus dalam memosisikan diri dalam demokrasi. Banyak orang berkepentingan terhadap kampus.

"Namun, politisi yang negarawan tidak akan pernah merusak muruah kampus sebagai garda terdepan penjaga rasionalitas dan akal sehat. Kaum negarawan akan terus mempertahankan kampus sebagai aset demokrasi. Kebebasan akademik dan mimbar akademik yang kuat akan memperkukuh independensi kampus dari tarikan kepentingan politik praktis," ujar Profesor Arif.

Berpikir modern

Senada dengan pemikiran Rektor Arif Satria tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan perkembangan zaman membuat masyarakat harus mulai berpikir modern, terlebih pada dunia pendidikan.

"Saat ini kita sudah masuk di era gelar tidak lagi menjamin kompetensi, masuk kelas tidak lagi menjamin belajar, dan akreditasi tidak menjamin kualitas," kata Nadiem belum lama ini.

Karena itu, Mendikbud meminta para pemangku kepentingan di tingkat pendidikan dari kepala sekolah hingga rektor mulai memperhatikan interpretasi pembelajaran tersebut.

"Merdeka belajar adalah membebaskan siswa dan mahasiswa diberikan kemerdekaan sesuai kepentingannya, sesuai minatnya dia," kata Nadiem.(Bay/H-1)

BERITA TERKAIT