27 December 2019, 21:45 WIB

Filipina Ancam Perketat Persyaratan Visa bagi Warga AS


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

FILIPINA yang meradang setelah Amerika Serikat mengkritik langkah Manila menahan kritikus vocal pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.

"Filipina telah melarang dua anggota parlemen Amerika Serikat (AS) melakukan kunjungan dan akan memperkenalkan pembatasan masuk yang lebih ketat bagi warga AS jika Washington memberlakukan sanksi atas penahanan seorang kritikus pemerintah terkemuka," kata juru bicara Presiden Rodrigo Duterte, Jumat (27/12).

Presiden Duterte akan memberlakukan persyaratan pada warga negara AS untuk mendapatkan visa seandainya pejabat Filipina yang terlibat dalam penahanan Senator Leila de Lima ditolak masuk ke AS, seperti yang diupayakan oleh senator AS Richard Durbin dan Patrick Leahy.

Langkah Duterte dilakukan setelah Kongres AS menyetujui anggaran 2020 yang berisi ketentuan yang diperkenalkan oleh para senator terhadap siapa pun yang terlibat dalam penahanan de Lima.

De Lima didakwa dengan pelanggaran narkoba pada 2017 setelah ia memimpin penyelidikan pembunuhan massal selama perang antinarkoba Duterte yang terkenal kejam.


Baca juga: Korban Tewas Topan Phanfone di Filipina Bertambah Jadi 28 Orang


"Kami tidak akan duduk diam jika mereka (AS) terus mengganggu proses kami sebagai negara berdaulat," kata juru bicara kepresidenan Filipina Salvador Panelo dalam konferensi pers reguler.

Filipina memberikan bebas visa masuk hingga 30 hari kepada orang AS. Sebanyak 792.000 warga ‘Negeri Paman Sam’ melakukan kunjungan dalam sembilan bulan pertama 2019, hampir 13% dari kedatangan orang asing ke negara itu, data pemerintah menunjukkan.

Kedutaan Besar AS di Manila tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai ancaman tersebut.

Panelo mengatakan pembatasan perjalanan atas penahanan de Lima adalah omong kosong karena dia tidak dipenjara tetapi ditahan sambil menunggu persidangan karena kejahatan.

"Kasus Senator de Lima bukan tentang penganiayaan tetapi penuntutan," terangnya.

Duterte tidak menutupi penghinaannya terhadap AS dan apa yang dia anggap kemunafikan dan campur tangan Washington, meskipun dia mengakui kebanyakan orang Filipina dan militernya sangat menghormati mantan penguasa kolonial negara mereka.

Amerika Serikat adalah sekutu pertahanan terbesar Filipina dan sumber utama pengaruh Barat. Jutaan orang Filipina memiliki kerabat yang merupakan warga negara AS. (Bloomberg/OL-1)

BERITA TERKAIT