27 December 2019, 13:30 WIB

Maraknya Waralaba Asing, Kuliner Lokal Perlu Go Internasional


mediaindonesia.com | Ekonomi

istimewa
 istimewa
Salah satu pemain franchise kuliner asli lokal yang tengah berkembang adalah Tapisi.

INDUSTRI waralaba (franchise) sepanjang 2019 mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi yakni sebesar 10% year over year (yoy) jika dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan tahun lalu yang hanya mencapai 5% sampai 6%.

Hal tersebut disampaikan Andrew Nugroho, Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), beberapa waktu lalu di hadapan para pelaku industri franchise di Jakarta.

Lebih rinci Andrew mengatakan, sumbangsih terbesar dari pertumbuhan industri franchise sendiri berasal dari usaha kuliner atau food and beverage (FnB). 

Termasuk kuliner yang berasal dari dalam negeri atau lokal. Saat ini geliat bisnis waralaba di Indonesia mulai bangkit kembali pasca-pemilu 2019 pada bulan April lalu. Tak hanya brand waralaba dalam negeri yang menggeliat, brand asal negara lain juga tumbuh subur di Indonesia.

Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) mencatat ada sekitar 2.000 merek dagang yang diwaralabakan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebanyak 35% merupakan merek waralaba asal luar negeri dan sebanyak 65% adalah merek waralaba lokal.

Meskipun lebih banyak yang lokal, namun WALI melihat soal kreativitas masih perlu ditingkatkan lagi agar mampu bersaing dengan asing.

“Saya selalu menghimbau pelaku usaha brand lokal untuk terus berinovasi dan kreatif. Justru hadirnya brand waralaba asing ini buat pembelajaran, kita ambil sistem yang baik dari mereka," ujar Levita Supit, Ketua Umum WALI sekaligus Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Waralaba, Lisensi dan Kemitraan. 

Salah satu pemain franchise kuliner asli lokal yang tengah berkembang adalah Tapisi. Sebagai usaha perintis dalam budaya camilan di Indonesia, Tapisi membawa suasana dan konsep modern dan merevolusi model bisnis gerobak menjadi lebih menarik dan mengutamakan higienitas. 

“Pada dasarnya Kami memiliki tujuan merevitalisasi budaya kuliner tradisional indonesia serta membuatnya lebih terjangkau oleh masyarakat umum. Baik mereka konsumen maupun peminat usaha,” ujar Akbar Temuyyin Sani, Founder Tapisi.

Dengan misi menjadi raja camilan dan gorengan Indonesia yang akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara proposional, pria lulusan sarjana perhotelan (Bachelor of Science in Business Administration) Hawaii Pacific University, Hawaii, USA ini siap mengangkat kuliner khas Indonesia semakin berkembang dan meningkat. 

Secara menu, yang ditawarkan Tapisi adalah panganan sehari-hari yang mudah dijumpai yakni tahu, pisang, dan singkong sehingga jika disingkat menjadi Tapisi.

Dengan beragam varian rasa seperti pisang goreng dengan topping keju dan cokelat, singkong topping keju atau cokelat serta tahu goreng balado/ barbeque, Tapisi akan menjadi pilihan camilan terbaik masyarakat. 

Dari sisi bisnis sendiri, Tapisi memiliki konsep kemitraan yang menjanjikan  dengan puluhan mitra di berbagai wilayah Indonesia. 

“Tapisi ingin menghidupkan tradisi pedagang gerobak makanan di Indonesia. Kami memberi kesempatan bagi kaum millennial untuk mempertahankan dan menambah pendapatan mereka melalui produk Tapisi-nya sendiri disertai dengan merek, peralatan masak yang modern dan produk bervariasi,” imbuh pemilik sejumlah restoran ini.

Ia pun memiliki ambisi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan membuka peluang usaha seluas-luasnya bagi para calon mitra Tapisi di seluruh wilayah Indonesia dan manca negara. (OL-09)

BERITA TERKAIT