27 December 2019, 20:09 WIB

Di Singapura, Adegan Ciuman Lesbian Star Wars Dihapus


Fathurrozak | Weekend

imdb
 imdb
 Star Wars: The Rise of Skywalker

FILM Star Wars: The Rise of Skywalker baru diluncurkan dan menarik perhatian dunia. Namun Disney melakukan pemotongan adegan ciuman pasangan lesbian di film ini untuk Singapura.

Badan pengatur media negara itu harus memotong klip itu untuk  menghindari film diberi kategori penonton dengan peringkat usia yang lebih tinggi. Di Singapura, Rise of Skywalker mendapat kategorisasi pentonton PG13, yang berarti bimbingan orangtua disarankan untuk anak di bawah 13 tahun.

"Pemohon telah menghilangkan adegan singkat yang di bawah pedoman klasifikasi film akan membutuhkan peringkat yang lebih tinggi," kata juru bicara dari Infocomm Media Development Authority, dikutip dari The Guardian.

Di Singapura, pernikahan sesama jenis dinyatakan ilegal dan hubungan seks antara laki-laki dianggap sebagai kejahatan, yang bisa dikenai hukuman hingga dua tahun penjara. Undang-undang ini tidak membahas soal seks di antara perempuan, kata badan amal hak-hak LGBT Stonewall.

Pedoman sensor Singapura menyatakan film yang berisi tema atau konten LGBT sebagai subplot mungkin dibatasi untuk pemirsa yang berusia 18 tahun ke atas, sedangkan film yang berfokus pada LBTIQ, dapat dimasukkan pada kategori penonton 21+. Disney melalui Lucasfilm - perusahaan produksi Star Wars - dan tidak jelas apakah adegan itu dihapus di negara lain.

Di Indonesia, saat Media Indonesia menyaksikan pada press screening, Rabu (18/12) adegan yang memperlihatkan pasangan lesbian berciuman, masih dipertahankan dan tidak terkena sensor. The Hollywood Reporter melaporkan, banyak orang yang telah menonton Rise of Skywalker di Dubai melaporkan momen tersebut telah dihapus.

Sayangnya Disney belum berkomentar. Adegan di Rise of Skywalker, ciuman sesama jenis merupakan kali pertama dalam sejarah waralaba tersebut dan dipuji sebagai momen bersejarah oleh sebagian orang. Namun, momen singkat antara dua karakter periferal ini dikritik sebagai tokenism, oleh mereka yang berharap untuk representasi LGBT yang lebih besar. (M-3)

Baca juga : Dua Tempat di Sulut Ini Hadirkan Pesona Alam dan Kekhusukan Doa

 

 

BERITA TERKAIT