27 December 2019, 20:00 WIB

Turki dan Rusia Terlibat Bentrok di Libia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

 AFP
  AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berbicara di Ankara, pada 26 Desember 2019. -

TURKI akan mengirim pasukan ke Libia atas permintaan Tripoli segera bulan depan. Langkah ini berpotensi menyulut konflik negara Afrika utara ini di pusat gesekan regional yang lebih luas dengan Rusia dan sekutu.

Selama berminggu-minggu, Ankara telah mengisyaratkan kemungkinan misi militer di Libia, yang selanjutnya akan memperluas misi pasukan bersenjatanya kurang dari tiga bulan setelah meluncurkan serangan ke Suriah timur laut melawan milisi Kurdi.

Turki telah mengirim pasokan militer ke Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libia--yang diakui dunia internasional-- meskipun ada ketentuan embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa, menurut laporan PBB yang dilihat oleh Reuters.

Presiden Tayyip Erdogan, Kamis (26/12), mengklaim misi militer Ankara atas undangan pemerintah resmi setempat, GNA. GNA yang sedang diserang oleh pasukan Jenderal Khalifa Haftar yang berbasis di Libia timur, yang didukung oleh Rusia, Mesir, dan Uni Emirat Arab.

"Karena ada undangan (dari Libia) sekarang, kami akan menerimanya," kata Erdogan kepada anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) dalam pidatonya. "Kami akan menempatkan RUU tentang pengiriman pasukan ke Libya dalam agenda segera setelah parlemen dibuka."

Rusia telah menyuarakan keprihatinan atas kemungkinan penyebaran militer Turki ke Libia untuk mendukung GNA. Erdogan mengatakan Turki tidak akan tinggal diam melihat ulah tentara bayaran dari kelompok yang dia sebut Wagner yang terkait dengan Kremlin yang mendukung Haftar.


Baca juga: Presiden Irak Menolak Ditunjuk Jadi Perdana Menteri


"Rusia ada di sana dengan 2.000 Wagner (pejuang)," kata Erdogan, juga merujuk kepada sekitar 5.000 pejuang dari Sudan di Libia. "Apakah pemerintah resmi mengundang mereka? Tidak."

"Mereka semua membantu seorang baron perang (Haftar), sedangkan kami menerima undangan dari pemerintah negara yang sah. Itulah perbedaan kami," tambahnya.

Pasukan loyalis Haftar telah berusaha sejak April untuk mengambil alih Tripoli dari GNA, yang didirikan pada 2016 menyusul kesepakatan yang ditengahi oleh PBB.

Bulan lalu, Ankara menandatangani dua perjanjian terpisah dengan GNA, yang dipimpin oleh Fayez al-Serraj. Satu mengenai kerja sama keamanan dan militer dan satu lagi mengenai batas-batas laut di Mediterania timur.

Pejabat Turki dan Rusia mengadakan pembicaraan di Moskow minggu ini untuk mencari kompromi tentang masalah Libia dan Suriah. Diskusi dilaporkan telah berlangsung jauh lebih lama dari yang diharapkan tiga hari.

Erdogan mengunjungi Tunisia pada Rabu lalu untuk membahas kerja sama untuk kemungkinan gencatan senjata di Libia. Pada Kamis, ia mengatakan Turki dan Tunisia telah setuju untuk mendukung GNA.

Di Suriah, Rusia adalah sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad sementara Turki mendukung pemberontak yang berusaha menggulingkannya selama perang saudara lebih dari delapan tahun. (AFP/Ahram Online/OL-1)

BERITA TERKAIT