30 December 2019, 08:00 WIB

Membumikan Pancasila di Era Disrupsi


Benny Susetyo, Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila | Opini

MI/Arya Manggala
 MI/Arya Manggala
Benny Susetyo, Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila.

INDONESIA adalah negeri dengan keragaman yang begitu luar biasa. Keragaman agama, keyakinan, budaya, bahasa, dan tradisi yang dimiliki bangsa ini boleh dibilang yang paling multikultur dari bangsa-bangsa lain di dunia. Kita boleh berbangga dengan keragaman yang kita miliki ini, tetapi sekaligus perlu berhati-hati agar tak salah mengelolanya. 

Dari sisi budaya, misalnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa atau etnik yang mendiami Bumi Pertiwi dengan kekhasan dan keunikan masing-masing. Seluruh keragaman di berbagai dimensi ini disatukan oleh satu ikatan yang disebut Pancasila. Pancasila dengan seluruh nilai-nilai di setiap butirnya, menjadi perekat seluruh kekuatan bangsa dan segenap perbedaan yang mendiami negeri ini.

Mengingat Tujuan Bernegara

Hal penting yang patut disimpan dalam memori bersama setiap warga bangsa ini adalah “apa tujuan kita merdeka dan membentuk republik ini”. Para pendiri bangsa telah dengan tegas menggariskan bahwa tujuan memerdekakan diri dari kolonialisme adalah agar kita dapat berdaulat, meraih keadilan, dan mencapai kemakmuran bersama. 

Merujuk kepada cita-cita tersebut, setiap warga negara harus mengerahkan setiap kemampuan yang dimiliki untuk mencapai tujuan bersama tadi. Setiap warga tak boleh memiliki cita-cita individual yang berjalan keluar dari rel yang sudah digariskan bersama. Cita-cita individu dan kelompok harus sejalan dan sinergis dengan cita-cita negara yang pada hilirnya adalah menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bersama.

Untuk tujuan tersebut, prasyarat yang harus dipenuhi adalah bekerja sama membangun negara. Inilah kultur yang harus dijaga. Kebersamaan dan gotong royong menjadi kunci penting bagi kuatnya persatuan dan kesatuan Indonesia.

Kita patut bersyukur, para pendiri bangsa telah melahirkan Pancasila yang menjadi pedoman bersama dalam bernegara. Pancasila merupakan pengikat penting yang mampu mempersatukan segenap elemen bangsa Indonesia yang berbeda-beda latar belakang agama, suku, ras, budaya dan bahasa. Pancasila mampu memberi jalan keluar bagaimana bangsa yang begitu beragam ini—yang dihuni mayoritas Muslim—menjadi masyarakat yang begitu terbuka terhadap kelompok lain.

Kebesaran hati para pendiri bangsa yang Muslim itu tampak dalam Konstitusi tahun 1945 yang sangat maju dan terbuka, sebab tidak menempatkan Islam sebagai dasar aturan bernegara. Implikasinya, Indonesia kini menjadi milik semua warga negara. Inilah tujuan kita bernegara yang juga harus diingat. Sejarah yang luar biasa ini perlu diputar ulang di sekolah-sekolah, universitas, dan berbagai lembaga pendidikan agar terpatri dalam sanubari semua generasi kini dan mendatang.

Tantangan ke Depan

Indonesia hari ini dan esok, memiliki sederet tantangan yang siap menghadang. Terlebih kita menghadapi era disrupsi yang menawarkan aneka kesempatan. Itu artinya, meski tantanganya cukup berat, peluang yang hadir di depan mata pun cukup banyak. Inilah yang perlu dimanfaatkan agar era disrupsi membawa berkah bagi bangsa. 

Tantangan paling nyata yakni menjamurnya narasi kebencian dan berita kebohongan yang berpotensi menciptakan polarisasi serta memecah belah warga. Di era ini, sungguh mudah menciptakan kabar bohong berbungkus rasa benci terhadap suku, ras, dan budaya tertentu. Sulutan itu pun makin menyala ketika dibalut oleh sentimen agama. Masyarakat yang awalnya tidak suka, bertambah benci setelah mendapat amunisi baru dari kabar bohong yang ia terima.

Hambatan berikutnya adalah fenomena menguatnya politik identitas bernuansa keagamaan yang memecah persaudaraan sesama anak bangsa. Keberagaman dalam keagamaan sesungguhnya sudah disadari oleh para pendiri bangsa sejak awal kemerdekaan. Oleh karenanya, para pendiri bangsa bercita-cita membangun negeri Indonesia menjadi berdaulat dan menegakkan prinsip berkeadilan untuk makmur bersama-sama dalam kerukunan berbangsa dan bernegara.

Ke depan, kita tak boleh lagi menyaksikan satu kelompok terusir dari tanahnya karena keyakinan yang dipegangnya kuat-kuat. Tidak boleh lagi kita melihat umat beragama terusik ketika beribadah lantaran yang lain merasa terganggu. Inilah prinsip toleransi yang harus dipegang bersama. Memahami keberadaan orang lain, dan secara aktif mengaungkan narasi positif untuk menciptakan kehidupan yang harmonis di masyarakat.

Peluang di Depan Mata

Di samping hambatan yang kian nyata, kita mesti jeli melihat peluang yang terhampar di depan mata. Keragaman agama yang dimiliki bangsa ini merupakan peluang yang sangat agung untuk menebarkan nilai-nilai toleransi di masyarakat. Dengan basis keragaman ini, agama harus menjadi inspirasi batin yang mengajarkan umat untuk bersikap toleran dan menebarkan rahmat bagi sesama, bukan malah menjadi inspirasi politik yang mudah memecah belah masyarakat lantaran memiliki kepentingan berbeda.

Para pemuka agama harus memainkan peranan agar riak-riak dan kerikil-kerikil kecil tidak menjadi ganjalan dalam mewujudkan cita-cita bersama dalam bernegara. Para tokoh agama dan rohaniwan mesti memberikan perspektif positif dan menyadarkan umat untuk terus bersikap toleran dan menghargai kelompok lain yang berbeda pandangan dan keyakinan. Nilai-nilai ini yang akan kita wariskan untuk dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi milenial. 

Selaras dengan kondisi Indonesia hari ini, penyebarluasan nilai-nilai harus dilakukan secara lebih masif dan kreatif, melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemegang kebijakan di institusi pemeritahan. 

Intinya adalah mengaktualisasikan nilai-nilai ideologi Pancasila di ruang publik secara nyata. Pancasila tak boleh lagi menjadi sebatas prasasti semata, melainkan harus menjelma menjadi cara bernalar, bertindak, dan berelasi dengan saudara sebangsa setanah air. Pancasila seyogianya menjadi landasan berpikir dan dasar tingkah laku setiap warga negara agar dapat hidup selaras dan bertenggang rasa dengan warga lain yang berbeda agama, keyakinan, tradisi, budaya, dan suku bangsa. 

Nilai-nilai Pancasila tersebut perlu disebarluaskan melalui berbagai platform media sosial agar mampu menjangkau generasi milenial. Berbagai nilai utama seperti menghargai keyaninan yang lain, bertenggang rasa, bersatu dalam kebinekaan, bergotong royong, berembuk demi melahirkan kata mufakat, dan menciptakan ruang publik yang adil dan setara untuk mengembangkan diri, merupakan sederet nilai yang bisa sebarluaskan dengan cepat di era ini. 

Penyebarluasan nilai-nilai tersebut mesti dilakukan lewat cara-cara kreatif agar mampu merebut hati sekitar 129 juta generasi milenial di negeri ini. Pesan-pesan itu dapat disalurkan melalui ajang kesenian, festival, olahraga, musik, video, pesan bergambar, dan berbagai bentuk kreativitas lainnya. 

Yang terpenting dari upaya ini adalah menjadikan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia, di mana nilai-nilai utama Pancasila terefleksi dalam kehidupan nyata dan mewujud dalam perilaku sehari-hari, bukan sekadar dihapalkan atau lebih buruk lagi membiarkannya menguap ke udara, tak menyisakan apa-apa.

Dalam mengejawantahkan nilai-nilai Pancasila, barangkali kita perlu belajar kepada para pendiri dan guru bangsa yang senantiasa menyuarakan pikiran positif, meski berbeda pandangan dan keyakinan. Sikap ini mesti diteladani para politisi dengan menjalankan tugas profetik mereka yakni memperkuat mental dan pikiran positif masyarakat lewat narasi damai dan pesan toleransi saat bertemu warga atau berkampanye politik. 

Para politisi harus menjabarkan pesan dan nilai utama Pancasila dalam setiap materi kampanye dan pertemuan politik lainnya agar pembumian dan pengarusutamaan Pancasila berjalan dengan cepat. 

Di sinilah penting menjadikan politik sebagai wadah warga negara untuk mencapai keutamaan (areté), yaitu keadaan di mana kesuksesan hidup diraih, di mana keadilan dan kesejahteraan hidup dicapai. Semangat ini tentu selaras dengan tujuan Republik Indonesia didirikan, yakni bagaimana membawa warganya kepada kesejahteraan dan kemakmuran bersama sebagaimana termaktub dalam Sila Kelima Pancasila. (OL-09)

BERITA TERKAIT