27 December 2019, 05:50 WIB

Australia dan Indonesia Merayakan 70 Tahun Hubungan Diplomatik


Allaster Cox Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia | Opini

Dok.MI/Seno
 Dok.MI/Seno
Opini

HARI ini genap 70 tahun hubungan diplomatik antara Republik Indonesia dan Australia berlangsung. Sudah sepantasnya momentum ini menjadi perayaan. Namun, sesungguhnya perjalanan kami berawal lebih dari 70 tahun yang lalu. Di masa-masa krusial antara 1945 dan 1949, Australia merupakan salah satu pendukung terbesar Indonesia.

Hanya tujuh minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, Australia menjadi negara asing pertama yang menjalin hubungan dengan mengirim misi diplomatik untuk bertemu dengan Presiden Soekarno guna membangun landasan bagi pengakuan Republik Indonesia.

Tiga minggu sebelumnya, aksi boikot pekerja Australia terhadap seluruh kapal Belanda tujuan Indonesia yang singgah di Australia telah dimulai. Hal itu membangkitkan dukungan luas masyarakat Australia untuk kemerdekaan Indonesia.

Ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama pada Juli 1947--disebut sebagai aksi polisional--melawan Republik yang merdeka, Australia melancarkan protes kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Inilah untuk pertama kalinya tindakan semacam itu diambil pada DK PBB yang baru terbentuk.

Dalam menanggapi hal itu, DK PBB membentuk Komisi Tiga Negara untuk membantu menyelesaikan konflik. Presiden Soekarno pun memilih Australia untuk mewakili Indonesia dalam perundingan ini. Proses negosiasi akhirnya berujung kemerdekaan pada 27 Desember 1949.

Aset penting

Kini, tidak ada negara di kawasan Asia Tenggara yang lebih penting bagi Australia selain Indonesia. Kenyataannya, hanya sedikit negara di dunia yang menyamai pentingnya Indonesia bagi Australia.

Dalam masa yang penuh dengan perubahan, Indonesia yang makmur dan tangguh memainkan peran penting dalam membentuk tatanan kawasan Indo-Pasifik yang tengah berkembang. Nilainya yang strategis, jarak tradisional yang dimiliki dari persaingan kekuatan yang hebat, pengaruhnya di ASEAN, dan pengakuan nilai-nilai demokrasinya merupakan aset penting pada panggung utama dalam persaingan strategis abad ke-21.

Kedaulatan dan integritas wilayahnya menjadi fundamen sebagaimana Australia telah mengakuinya melalui Traktat Lombok pada 2006. Kini, kita berada pada titik balik yang strategis dalam hubungan kami karena kawasan ini pun tengah berada di titik balik: secara geostrategis dan geoekonomis, juga akibat perubahan teknologi dan ekologi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketahanan dari kedua negara kini tengah menghadapi tantangan dan kami masing-masing telah membuat sebuah pilihan untuk merangkul satu sama lain lebih dekat di era baru ini.

Secara politis, antarpemerintah, hubungan kami sangat tangguh. Kedua negara memiliki kepentingan bersama yang mendasar untuk membangun hubungan baik dan secara efektif mengatasi perbedaan yang terkadang muncul.

Kami melakukan segala sesuatu yang selayaknya dilakukan tetangga dekat. Kami memiliki sejumlah kerja sama di bidang ekonomi dan teknis yang terdekat di antara negara-negara lainnya di kawasan.

Kami merupakan mitra terdekat dalam pemberantasan terorisme dan sangat kuat dalam penegakan hukum, pertahanan, kerja sama maritim, tata kelola perbatasan, transportasi, aviasi, pertanian, dan pendidikan.

Lebih dari 50 lembaga pemerintahan Australia bekerja sama dengan mitra Indonesia di lebih dari 100 program kerja. Universitas-universitas ternama kami terus meningkatkan kerja sama, termasuk di bidang penelitian. Sebagaimana juga berbagai organisasi nonpemerintahan dan masyarakat madani.

Program kerja sama pengembangan yang canggih dan terus berkembang menjadikan Australia mitra yang kuat dalam bidang pengembangan kebijakan dan kelembagaan, tata kelola ekonomi yang berketahanan, dan dalam membangun kapasitas teknis serta intelektual.

Inilah sebabnya Kedutaan Besar Australia di Jakarta merupakan misi diplomatik terbesar dalam jaringan kami. Dua kali lebih besar daripada kedutaan terbesar ke-2 yang kami miliki. Kami juga memiliki konsulat jenderal di Surabaya, Makassar, dan Denpasar.

Sepanjang tahun lalu, kedua negara telah menyelesaikan dua kesepakatan yang berpotensi menciptakan perubahan, yaitu Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP) dan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).

CSP menyiapkan program ambisius yang akan meningkatkan kerja sama di antara kami. Kerja sama strategis di antara kedua negara. Tentu saja, bukan hal yang baru. Akan tetapi, Kemitraan CSP kami yang baru mengangkat kerja sama ini ke tingkat yang baru dengan tujuan membuatnya lebih sistematis dan rutin, tidak hanya ketika dibutuhkan.

IA-CEPA dirancang untuk mengembangkan kemitraan antara bisnis, lembaga, dan perorangan dari kedua negara, dan untuk membentuk hubungan bilateral kami di masa depan dengan membentuk kerangka yang serius untuk pertama kalinya. Babak baru dalam hubungan lintas sektor perekonomian kami ialah bisnis, produsen utama, penyedia layanan, dan investor.

IA-CEPA adalah sebuah kesepakatan yang baik bagi kami, dan ketika dijalankan, dapat menjadi katalisator bagi peluang-peluang ekonomi yang baru.

Terus ditingkatkan

Saya juga sangat fokus pada hubungan antarwarga yang menjadi bagian dari hubungan kami yang masih harus terus ditingkatkan. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana masyarakat Australia dan Indonesia saling memahami, dan seberapa kenal dan nyaman kami satu dengan yang lain.

Kenyataannya ialah kita kurang mengenal satu sama lain.

Universitas-universitas terbaik Australia memiliki ahli-ahli tentang Indonesia yang terbaik di dunia. Perpustakaan Nasional kami mungki memiliki koleksi publikasi Indonesia pascakolonialisme terbaik di dunia, dari berbagai bentuk. Galeri Nasional kami memiliki salah satu koleksi terbaik tekstil Indonesia. Galeri ini baru saja merampungkan pameran terbesar karya seni kontemporer Indonesia yang pernah ditampilkan di luar negeri.

Terlepas dari hal ini, rata-rata masyarakat Australia hanya mengetahui sedikit hal mengenai Indonesia atau sering kali memiliki pandangan yang usang terkait dengan Indonesia.

Hal itu kini mulai berubah, melalui pariwisata, pertukaran budaya, dan masyarakat yang perlahan mulai saling memahami. Pemuda-pemudi dari kedua negara akan menjadi kunci hubungan kami di masa datang.

Satu bidang yang sangat penting ialah pertukaran antarpemeluk agama yang semakin berkembang. Kita telah menjalankan program pertukaran muslim yang sukses sejak 2002. Dialog antaragama pertama Australia dengan Indonesia, yang mempertemukan para pemeluk agama, dilaksanakan di Bandung pada Maret tahun ini.

Seperti yang bisa Anda lihat, kita memiliki banyak hal untuk dirayakan dan banyak hal pula yang dinantikan ke depan. Saya yakin dalam tahun-tahun ke depan, Australia dan Indonesia akan terus membangun hubungan baik ini berlandaskan kesamaan sejarah dan terus bekerja sama untuk menciptakan kawasan yang lebih stabil dan makmur untuk kita semua.

 

BERITA TERKAIT