26 December 2019, 23:00 WIB

Lakon Perempuan-Perempuan yang Bernyali


Fathurrozak | Weekend

MI/M Irfan
 MI/M Irfan
Adegan duel dalam pentas Wayang Orang KSBN "Srikandi Mustakaweni", Minggu (22/12), di Jakarta.

Kisah-kisah kepahlawanan oleh perempuan banyak dijumpai sejak era lampau, menunjukkan bahwa perempuan punya andil dan peran yang lebih dari sekadar pelaku pasif dalam tatanan sosial.

Dalam Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad 18-19 karya Peter Carrey-Vincent Houben, misalnya, disebutkan sebelum kedatangan Belanda, kaum hawa di Jawa terbiasa hidup mandiri dan adaptif pada kondisi lingkungan alam. Ada pula sepenggal kisah Nyi Ageng Serang yang memimpin pasukan dengan 500 anggota angkatan perang pada periode awal perang Jawa.

Lebih maju lagi, misalnya pada 1928 digelar Kongres Perempuan Indonesia pertama di Yogyakarta. Pada era kolonial itu, para organisasi perempuan berkumpul untuk membahas mengenai perjuangan hak dan nasib kaum perempuan.

Kisah para perempuan yang bernyali juga terdapat dalam dunia pewayangan, melalui kisah Srikandi Mustakaweni.

Pada 22 Desember silam, ketika menyaksikan pentas wayang orang dengan lakon tersebut  oleh Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) di Gedung Pewayangan Kautaman, TMII, Jakarta Timur, sosok Srikandi dan Mustakaweni seketika beresonansi pada perempuan-perempuan perkasa.

Alkisah, Mustakaweni  (diperankan Eny Sulistyowati) ingin membalas dendam kematian ayahnya oleh Arjuna dengan mencuri Jimat Kalimasada, pusaka kerajaan Amarta. Mustakaweni menganggap kematian ayahnya bisa terbalaskan bila Kalimasada bisa ia gondol.

Mustakaweni berhasil mengelabui Drupadi (Astungkara Lengkung Kusumo) dengan menyamar sebagai Gatutkaca untuk meminta Kalimasada. Gegara tipu muslihat itu, Mustakaweni harus berhadapan dengan Srikandi (Nuniek Y. Triwahyuni). Menarik sebenarnya, ketika melihat duel antara Mustakaweni dan Srikandi. Menjadi suatu spektrum para perempuan yang merdeka dan bebas. Beradu di atas keyakinan mereka masing-masing.

Arjuna yang diperankan Ali Marsudi, juga Bambang Priambodo yang diperankan Agus Prasetyo menjadi salah satu kekuatan pentas ini sebagai suatu seni pertunjukan tradisional yang tetap memiliki estetika dasarnya. Dengan gerak dan karakterisasi keduanya yang kuat juga cair dengan aktor lain di panggung.

Agak disayangkan, justru ketika sesi Punakawan masuk. Dalam pentas wayang orang, atau pun wayang kulit, sesi ini biasanya memang digunakan sebagai pencair suasana. Menandai babak tengah dari plot yang tengah berlangsung, humor-humor akan dilontarkan untuk menyegarkan penonton. Sayang, kuartet Trikadar, Aries Mukadi, Darmono, dan Joko Dewo kurang bertaji sebagai Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Guyonan mereka perlu mendapat sentuhan kebaruan.

BERITA TERKAIT