27 December 2019, 05:10 WIB

Pasar Modal Menantikan Gebrakan Pemerintah


Ihfa Firdausya | Ekonomi

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
 ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Pengunjungi mengamati layar pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (15/11/2019)

Pelaku pasar modal masih wait and see dalam menatap 2020. Mereka masih mengharapkan gebrakan pemerintah dalam mengeksekusi kebijakan-kebijakan yang bisa mendorong perekonomian Indonesia.

Pengamat sekaligus pelaku pasar modal Teguh Hidayat menilai para pelaku pasar masih belum memiliki gambaran pasti mengenai kondisi pasar pada 2020. Pasalnya, pasar saham Indonesia terus menurun sejak dua tahun terakhir. Menurutnya, hal itu jarang terjadi.

"Kan waktu krisis 2008, di 2009 pasar naik. Tahun 2015 pasar turun, 2016 naik. Ini sudah dua tahun berturut-turut. Jadi kalau dari sisi optimisme sekarang lagi pesimistis semua. Kita masih belum punya gambaran," ujar Teguh ketika dihubungi, kemarin.

"Biasanya kan kalau sekarang turun nanti juga naik, ekonomi juga lagi gak masalah. Tapi, ini sudah dua tahun seperti itu. Jadi kita masih belum tahu ke depannya bagaimana," imbuhnya.

Teguh menilai peristiwa-peristiwa negatif di perekonomian Indonesia akhir-akhir ini turut memengaruhi ketidakpastian pasar.

"Jiwasraya, contohnya. Kemudian saham-saham gorengan, reksadana pada jatuh. Itu kan juga sesuatu yang dulu belum pernah terjadi. Jadi memang kita masih wait and see untuk 2020 nanti," katanya.

Di sisi lain, faktor global juga dirasa masih menghantui perekonomian dalam negeri. Contohnya, ini kan pemerintah kita lagi ada perang dagang sebenarnya sama pemerintah Eropa. Eropa nyerang terus kita punya sawit, terus kita balas tidak mau ekspor nikel lagi ke sana. Terus kita juga katanya mau batasin itu ekspor batu bara," katanya.

Teguh berharap dalam jangka panjang hal tersebut bisa berdampak positif. Antara lain terjadinya hilirisasi industri di Indonesia. Namun, hal itu memerlukan waktu panjang.

Di Level 7.015

Dengan mengacu yang berkembang saat ini, analis Binaartha Technical Research M Nafan Aji memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada 2020 berada di kisaran 7.015. Menurutnya proyeksi tersebut merupakan target yang realistis.

"Target IHSG 2020 dari analisis teknikal yang saya buatkan ialah pada level 7.015. Targetnya menurut kami cenderung realistis terlebih dahulu karena memang entah optimisme maupun realita sifatnya saling bertolak belakang," katanya.

Beberapa katalis positif baik dari sisi domestik maupun global akan memengaruhi pertumbuhan IHSG pada tahun depan. Di sisi domestik, Nafan menyebut kebijakan-kebijakan pemerintah cukup pro-growth. Misalnya terkait penyederhanaan regulasi melalui penerbitan omnibus law atau upaya mengurangi impor minyak dengan penerapan B30.

Di sisi global, kesepakatan dagang antara AS dan Tiongkok diharapkan bisa memicu gairah pasar global. "Mudah-mudahan pada Januari terjadi penandatanganan kesepakatan dagang AS-Tiongkok untuk fase pertama. Mudah-mudahan dilaksanakan secara konsekuen," pungkasnya.

Sementara itu, IHSG ditutup menguat 13,53 poin atau 0,21% ke posisi 6.319,44. Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan, sentimen window dressing masih berlanjut dengan dukungan berita tentang kesepakatan dagang AS-Tiongkok. (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT