26 December 2019, 20:53 WIB

Nelayan Lombok Timur Minta Benih Lobster tidak Diekspor


Yusuf Riaman | Nusantara

Antara
 Antara
Benih Lobster

NELAYAN lobster Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menginginkan agar benih lobster tidak diekspor sebab akan merugikan para petani lobster yang ingin membudidayakannya.

Aspirasi tersebut mengemuka dalam dialog Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo didampingi Gubernur NTB Zulkieflimansyah dengan para nelayan lobster saat berkunjung dan meninjau Kerambah Jaring Apung (KJA) lobster dan bawal Bintang di Teluk Elong, Kabupaten Lombok Timur, Kamis (26/12).

Selain itu, nelayan juga meminta Menteri untuk melakukan revisi Permen KP 56 tahun 2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster. Mereka mengaku, Permen tersebut membatasi aktivitas pembudidayaan lobster yang menyebabkan hilangnya mata pencaharian mereka.

Seperti disampailan Abdullah salah satu nelayan budidaya lobster Teluk Jukung, pembudi daya lobster bisa gulung tikar dengan adanya ekspor benih lobster. Sebab mereka bakal tidak punya lagi kesempatan untuk membesarkan lobster dan menjualnya dalam bentuk siap konsumsi.

"Kalau lobster itu ke luar dari wilayah Indonesia, kita budi daya pasti akan gulung tikar," kata Abdullah.

Harapan para petani tersebut disambut positif oleh Menteri. Ia meminta nelayan lobster untuk kembali menggiatkan pembudidayaan. Karena itu, ia melarang masyarakat untuk mengekspor bibit lobster dan berjanji akan melakukan revisi Permen tersebut setelah melakukan tinjauan lapangan.

"Niat saya begitu jadi menteri, Permen 56 ini niatannya akan dievaluasi," jelasnya disambut tepuk tangan masyarakat.

Selama ini, ia sering mendengar bahwa memang ada yang melakukan ekspor benih lobster. Alasannya, karena ada anggapan bahwa masyarakat tidak bisa membudidaya. Namun, setelah melihat langsung budidaya tersebut, ia menegaskan untuk tidak melakukan ekspor.

"Kalau bisa dibudidayakan, untuk apa kita ekspor. Kalau bapak ibu mau membudidayakan, kita kasih jalan," tegasnya seraya mengatakan bahwa ia diminta Presiden untuk membangun komunikasi seluas-luasnya dengan para nelayan. Sehingga, tidak ada lagi pera nelayan yang mengeluh bahkan menderita.

Hanya saja kata Edhy , pembudidayaan itu perlu diatur dan dikontrol untuk menghindari munculnya berbagai penyakit dan kepunahan lobster.

"Tadi Pak Abdullah berkomitmen, kalau hasil budidaya sebesar ibu jari, maka sebagiannya akan dilepas ke alam. Ini untuk menghindari kepunahan bibit lobster di laut," ungkapnya.

Karena itu, untuk kelangsungan dan kebersihan laut, ia mengajak masyarakat untuk menjaga laut dari berbagai sampah, terutama sampah plastik.

Hal yang sama juga disampaikan Menteri Edhy Prabowo saat berdialog dengan para nelayan di Pelabuhan Ikan, Desa Awang, Kabupaten Lombok Tengah. Apa yang dialami oleh para nelayan terkait budidaya dan ekspor lobster sudah didengar sejak ia menjadi pimpinan komisi VI DPRI lalu.

"Beri saya waktu untuk menyelesaikan masalah bapak ibu semua," katanya.

Sesuai data yang dikeluarkan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB, potensi lobster di NTB cukup besar. Bahkan, sebelum dikeluarkannya Permen KP 56 tahun 2016, benih lobster yang bisa ditangkap oleh masyarakat mencapai 5,5 juta ekor pertahun.

Selain lobster, NTB juga memiliki potensi udang yang cukup besar. Potensi lahan tambak yang dimiliki saat ini mencapai 50,330 Ha. Sehingga dibutuhkan pengembangan industri cold storage udang. Begitu juga dengan rumput laut, yang memiliki potensi lahan budidayanya sekitar 25,206 Ha (OL-11)

BERITA TERKAIT