26 December 2019, 20:40 WIB

Skema Holding Asuransi Bantu Jiwasraya


Faustinus Nua | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Staf ahli Kementerian BUMN, Arya Sinulingga

KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyiapkan berbagai opsi untuk membantu PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menyelesaikan permasalahan gagal bayar polis. Salah satu skema yang disiapkan adalah percepatan pembentukan holding asuransi.

"Kan akan bikin holding asuransi diharapakan dapat Rp2 triliun pertahun salama 4 tahun," kata staf ahli Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, di Jakarta, Kamis (26/12).

Lebih lanjut, Arya mengatakan, dengan skema holding perseroan bisa dibantu setidaknya untuk menambah dana pelunasan utang pokok perusahaan. Dengan cukup banyaknya BUMN asuransi dan Jiwasraya masuk di dalam holding tentu keuangan perseroan bisa diperkuat.

"Kita bisa bayar dulu utang pokoknya, belum sama bunganya. Yang penting penyelamatan dulu," Totalnya (tang pokok) mencapai Rp15,7 triliun," ungkapnya.

Untuk mempercepat preses pembentukan holding, Arya mengungkapkan bahwa jangka waktunya hingga bulan Agustus 2020. Sementara terkait induk holding, hingga saat ini masih dalam proses untuk mengkaji BUMN asuransi yang bisa menjadi induknya.


Baca juga: Penyelesaian Kasus Jiwasraya, Pengamat : Kuncinya Penegakan Hukum


"Bertahap, holding diharapkan quarter 1-2, delapan bulanlah. Selambat-lambatnya Agustus 2020 untuk pembentukan holding ini," kata dia.

Di samping itu, adapula skema lainnya yang juga untuk menambah dana segar bagi perseroan. Perseroan akan menjual anak perusahaannya Jiwasraya Putra yang diperkirakan akan mendapat dana sebesar Rp3 triliun. Begitu pula dengan penjualan aset finansial perusahaannya.

"Hasil penjualan aset finansial, saham itu tadi masih undervalue. Diharapkan dapat penjualan sebesar ya bisa mencapai 5,6 triliun," tutur Arya.

Jiwasraya diduga melakukan pelanggaran prinsip kehati-hatian karena berinvestasi di aset finansial dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi. Keuntungan tersebut dijanjikan kepada nasabah produk asuransi JS Saving Plan yang merupakan produk bancassurance.

Perseroan menempatkan saham 22,4% senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 2% di saham dengan kinerja baik dan 95% dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk.

Jiwasraya juga menempatkan investasi di aset reksadana sebesar 59,1% senilai Rp14,9 triliun dari aset finansial.

Akibat dari investasi tersebut, Jiwasraya sampai dengan Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara Rp13,7 triliun. (OL-1)

 

BERITA TERKAIT