26 December 2019, 10:14 WIB

KPK Dalami Kasus Mantan Sekretaris MA Nurhadi


Adin Azhar | Politik dan Hukum

MI/Bary Fathahilah
 MI/Bary Fathahilah
Mantan Sekretaris MA Hurhadi saat memberi kesaksian di pengadilan

PENYIDIK Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan Kepala Biro Kepegawaian Badan Urusan Administrasi Mahkamah Agung (MA) Supatmi. Dia akan diperiksa dalam kasus kasus suap dan gratifikasi pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016 yang menjerat mantan Sekretaris MA Nurhadi.

"Yang bersangkutan diperiksa untuk tersangka HS (Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal, Hiendra Soenjoto)," kata Pelaksana Harian (Plh) Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati kepada wartawan, Kamis (26/12).

Dalam pengembangan perkara ini, KPK menetapkan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) 2011-2016 Nurhadi sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA pada 2011-2016. Kasus ini diawali operasi tangkap tangan (OTT) panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution dan pihak swasta Doddy Aryanto Supeno.

Selain Nurhadi, KPK juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka, yakni menantu Nurhadi, Rezky Herbiyono dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT), Hiendra Soenjoto. Bedasarkan fakta penyidikan dan persidangan, KPK menemukan bukti permulaan yang cukup kuat dalam perkara ini.

Baca juga: KPK Dijadwalkan Periksa Nurhadi

Nurhadi diduga menerima suap Rp33,1 miliar dari Hiendra lewat Rezky. Suap dimaksudkan untuk memenangkan Hiendra dalam perkara perdata kepemilikan saham PT MIT. Selain itu, Nurhadi juga diduga menerima sembilan lembar cek dari Hiendra terkait Peninjauan Kembali (PK) perkara di MA.

Di kasus gratifikasi, Nurhadi diduga mengantongi Rp12,9 miliar dalam kurun waktu Oktober 2014 sampai Agustus 2016. Gratifikasi diduga terkait pengurusan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA, juga untuk Permohonan Perwalian.

Sebagai pihak penerima, Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) lebih subsider Pasal 11 dan/atau Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.(OL-5)

BERITA TERKAIT