26 December 2019, 08:55 WIB

Rio Dewanto: Monolog Para Romeo


Bagus Pradana | Hiburan

MI/ PERMANA
 MI/ PERMANA
Rio Dewanto

Selama kurang lebih 60 menit, sebuah monolog yang mengadaptasi cerita dari naskah drama kolosal Romeo and Juliet karya William Shakespeare ditampilkan aktor Rio Dewanto, 32, di Galeri Indonesia Kaya.

Pentas monolog yang bertajuk Para Romeo ini hadir dengan padu padan budaya yang teramat kental, antara Barat dan tradisi Nusantara. Iringan merdu angklung dan tehyan dari Sanggar Bambu Khatulistiwa menjadi musik pengiring pertunjukan dari awal hingga akhir.

Bersama dengan Arie Walker dan Adji NA, Suami Atiqa Hasiholan itu cukup apik tampil dalam debut monolog pertamanya.

"Ini pertama kalinya saya pentas monolog. Tingkat kesulitannya pasti beda. Kalau berbicara naskahnya Wiliam Shakespeare, pasti mempunyai kedalaman bahasa yang perlu dicerna dengan teliti. Sebenarnya apa sih yang mau dia sampaikan?" jelas Rio.

Ayah dari Salma Jihane Dewanto itu bahkan membutuhkan jalan alternatif untuk bisa masuk ke karakter Romeo. Salah satu yang dia lakukan untuk masuk ke karakter Romeo ialah dengan membuat tiga lukisan. Lukisan terebut pada akhirnya akan dilelang dan seluruh hasil lelangnya disumbangkan untuk kelompok teater yang memang membutuhkan. "Itu bermula dari ide teman-teman dan saya langsung setuju," ujar Rio.

Dari situ juga terungkap bahwa Rio mengaku baru-baru ini mendalami seni lukis karena merasa butuh ruang ekspresi untuk memacu kreativitasnya dalam berkesenian.

Sembari berkelakar menjelaskan hobi baru yang ditekuninya itu Rio mengaku kalau lagi iseng saja dia menggambar. Termasuk semenjak masuk ke karakter Romeo, Rio mengatakan mencoba untuk mengeksplorasi rasa dengan mencoba melukis.

Dunia teater bukanlah dunia yang baru bagi Rio. Dunia seni itu telah dia dalami sejak 2010. Namun, karena kerap sibuk menggarap berbagai proyek layar lebar, pria kelahiran 28 Agustus 1987 itu merasa rindu dengan hiruk pikuk panggung teater. Tentu saja pementasan Para Romeo itu merupakan obat atas kerinduannya itu.

"Ketertarikan di teater sendiri udah lama sebenarnya, dari 2010 saya pernah manggung di Titik Terang dulu, saya manggung di TIM, terus dulu saya pernah ikut drama musikal juga. Kalau monolog ini pertama kali, meskipun naskah pendek, tapi kita persiapkan benar-benar," kata Rio.

Diakui selalu ada hal yang membuatnya kangen di panggung teater. Rio juga mengaku dalam persiapan proyek monolognya ini mendapat dukungan penuh dari sang istri, Atiqa Hasiholan. Sang istri menjadi partner yang selalu memberikan evaluasi dari peran yang ia bawakan sebagai seorang 'Romeo'.

"Banyak diskusi sama dia (istri), karena kita sama-sama di seni peran, pastinya komentar dan masukan dari dia sudah menjadi hal yang konsisten dilakukan. Terkadang saya sering membuat surprise, dia menonton ketika hasilnya sudah jadi, nanti baru kita evaluasi supaya ke depannya bisa kita perbaiki sama-sama," pungkas Rio.

Pertunjukan monolog Para Romeo tak hanya menjadi panggung dari Rio Dewanto dan Komunitas Teater Peqho. Dalam pementasan Sabtu (21/12), Sanggar Bambu Khatulistiwa yang merupakan komunitas seni khusus yang banyak mengampanyekan kesenian musik tradisional dari Jawa Barat, Angklung, juga mengadakan Coaching Clinic Angklung.(H-1)

BERITA TERKAIT