26 December 2019, 07:30 WIB

Waspadai Bencana Banjir di 2020


Atalya Puspa | Nusantara

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
 ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Pengendara menerjang banjir yang menggenangi Jalan Soekarno-Hatta di Gedebage, Bandung, Jawa Barat.

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan berintensitas sedang hingga lebat akan terjadi sampai April 2020. Kondisi itu berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir bandang.

Kepala Pusat Meteorologi ­Publik, Fachri Rajab, menyatakan hu­­jan dengan intensitas sedang hingga lebat itu berpotensi terjadi di Sumatra Barat, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Papua bagian tengah hingga sepekan ke depan.

“Daerah-daerah dengan poten­si hujan lebat itu perlu mewaspadai bencana hidrometeorologi,” kata Fachri kepada Media Indonesia, kemarin.

Ia mengimbau masyarakat te­rus memantau informasi cuaca dari BMKG untuk mengantisipasi ben­cana.

“Pastikan lingkungan rumah dan saluran air dalam kondisi bersih sehingga siap untuk menerima, menyerap, dan mengalirkan air hujan. Pohon-pohon yang sudah tua dan rindang dipangkas untuk menghindari dahan roboh akibat angin kencang,” ungkapnya.

 

Gelombang tinggi

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam rilis resmi BMKG mengimbau sejumlah wilayah untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem dan hujan lebat pada periode libur Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

Wilayah-wilayah itu ialah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi ­Tengah, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Dwikorita juga mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, dan wisatawan mewaspadai potensi gelombang tinggi di be­berapa perairan Indonesia, terutama periode 23-28 Desember 2019.

“Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat atau petir. Waspada kenaikan tinggi gelombang dan menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda,” ujarnya.

Gelombang setinggi 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di perairan utara Sabang, perairan barat Aceh hingga Mentawai, perairan Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, perairan selatan Jawa hingga Sumba, Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTB, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan, Laut Sawu bagian selatan, dan perairan selatan Pulau Sawu hingga Pulau Rote.

Gelombang tinggi juga meng­ancam Samudra Hindia barat Sumatra, Laut Natuna Utara, perairan Anambas-Natuna, Laut Natuna, perairan timur Bintan hingga Lingga, Laut Sulawesi, perairan Sangihe-Talaud, Laut Maluku, perairan utara Halmahera, Laut Halmahera, dan perairan utara Papua Barat hingga Papua.

“Untuk 27-28 Desember 2019, peluang peningkatan ­gelombang laut setinggi 2,5-4 meter di perairan selatan Jawa Tengah hingga Sumbawa, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga Sumba, dan Laut Natuna Utara,” tambah Dwikorita.

Sementara itu, sejumlah daerah telah bersiap mengantisipasi bencana hidrometeorologi. Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, misalnya, mengeruk sejumlah sungai yang terlihat dang­kal.

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, memastikan 13 alat peringatan dini pergerakan tanah tetap berfungsi. (BB/BK/AD/RS/DW/JS/TB/PO/AU/LD/X-11)

BERITA TERKAIT