25 December 2019, 19:33 WIB

Topan Phanfone Hantam Filipina pada Hari Raya Natal


Melalusa Sushtira Khalida | Internasional

AFP/Bobbie Alota
 AFP/Bobbie Alota
Dampak Topan Phanfone di Filipina

TOPAN Phanfone atau yang juga dikenal dengan Topan Ursula menghantam wilayah Filipina pusat bersamaan dengan tibanya Hari Raya Natal, Selasa (24/12). Bencana alam itu membuat perayaan Natal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik tersebut menjadi sendu.

Topan itu merobohkan rumah-rumah dan pohon-pohon, serta menyebabkan listrik padam di wilayah yang paling rawan terdampak badai di Filipina. Meskipun demikian, belum ada laporan kematian akibat hantaman Topan Phanfone sejak kemarin.

Ribuan orang pun terdampar di pelabuhan-pelabuhan atau pusat-pusat evakuasi pada puncak perayaan Natal, Rabu (25/12) hari ini. Sementara penduduk lainnya meringkuk di rumah-rumah karena Topan Phanfone berpindah dari satu pulau kecil ke pulau lainnya pada hari ini.

Lebih dari 10 ribu orang menghabiskan malam di sekolah, gimnasium, dan gedung-gedung pemerintah yang diubah menjadi pusat evakuasi ketika Topan Phanfone menghantam Filipina pada Selasa (24/12) kemarin.

"Itu menakutkan. Jendela kaca pecah dan kami berlindung di tangga," ujar Ailyn Metran kepada AFP, seraya menambahkan bingkai jendela logam terbang dan jatuh ke mobil yang diparkir di luar gedung.

Metran mengatakan ia bersama anaknya, menghabiskan malam di kantor dinas cuaca setempat, tempat suaminya bekerja. Selang beberapa jam, Metran dan keluarganya kembali ke rumah mereka di pusat kota Tacloban pada Rabu (25/12) pagi, untuk menemukan kedua anjingnya. Namun meskipun anjing berhasil diketemukan selamat, ia menuturkan bahwa lantai rumahnya tertutup lumpur dan sebatang pohon tumbang di atas sebuah rumah di dekatnya.

Baca juga : Trump Tanggapi Santai Ancaman "Hadiah Natal" dari Korea Utara

Sebelumnya, badan cuaca menyebut bahwa Topan Phanfone cenderung menguat pada Selasa (24/12) malam dan bergerak dengan kecepatan 195 kilometer per jam.

Dengan kecepatan seperti itu, disebutkan dapat merobohkan pohon-pohon kecil dan menghancurkan rumah-rumah yang terbuat dari meterial ringan.

Selain itu diperkirakan akan lebih banyak pulau di sepanjang jalur yang topan Phanfhone dihantam oleh angin kencang dan hujan deras sebelum akhirnya Topan Phanfone bertiup ke Laut Cina Selatan pada Kamis (26/12) pagi.

Meskipun lebih lemah, Topan Phanfone bergerak mengikuti jalur yang mirip dengan Topan Super Haiyan. Pada 2013, Topan Super Haiyan mencatatkan sebagai topan paling mematikan di Filipina dengan korban tewas atau hilang mencapai lebih dari 7.300 orang.

Sedikitnya 25 ribu orang berencana pulang ke rumahnya untuk jamuan makan tradisional bersama keluarga pada malam Natal. Namun, mereka masih terdampar di pelabuhan pada Hari Natal dengan layanan penyebrangan feri yang masih ditutup.

Tak hanya jalur laut, puluhan penerbangan ke wilayah Filipina pusat juga masih ditangguhkan sampai saat ini. (AFP/OL-7)

BERITA TERKAIT