25 December 2019, 22:20 WIB

Topan Phanfone Terjang Filipina di Saat Natal


MI | Internasional

AFP
 AFP
Topan Phanfone Terjang Filipina di Saat Natal

TOPAN Phanfone atau yang juga dikenal dengan Topan Ursula menghantam wilayah Filipina pusat bersamaan dengan tibanya Hari Raya Natal. Bencana alam tersebut menjadikan perayaan Natal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik tersebut menjadi sendu.

Topan tersebut merobohkan rumah-rumah dan pohon-pohon, serta menyebabkan listrik padam di wilayah yang paling rawan terdampak badai di Filipina. Meskipun demikian, belum ada laporan kematian akibat hantaman Topan Phanfone.

Ribuan orang pun terdampar di pelabuhan-pelabuhan atau pusat-pusat evakuasi pada puncak perayaan Natal. Sementara penduduk lainnya meringkuk di rumah-rumah karena Topan Phanfone berpindah dari satu pulau kecil ke pulau lainnya.

Lebih dari 10 ribu orang menghabiskan malam di sekolah, gimnasium, dan gedung-gedung pemerintah yang diubah menjadi pusat evakuasi ketika Topan Phanfone menghantam Filipina.

“Topan tersebut sungguh menakutkan. Jendela kaca pecah dan kami berlindung di tangga,” ujar Ailyn Metran seraya menambahkan bingkai jendela yang terbuat dari logam terbang terbawa angin kencang dan jatuh menimpa mobil yang diparkir di luar gedung.

Metran mengatakan ia bersama anaknya, menghabiskan malam di kantor dinas cuaca setempat, tempat suaminya bekerja. Selang beberapa jam, Metran dan keluarganya kembali ke rumah mereka di pusat kota Tacloban untuk menemukan kedua anjingnya. Namun meskipun anjing mereka ditemukan selamat, lantai rumahnya tertutup lumpur. Selain itu, pohon tumbang menimpa rumah di dekatnya.

Sedangkan di kawasan wisata Pulau Coron, pantai-pantai terlihat sepi dan perahu-perahu ditambatkan. Para turis Barat terpaksa menunggu badai reda di penginapan mereka.


Terdampar

Sebelumnya, badan cuaca Filipina menyebut bahwa Topan Phanfone cenderung menguat pada Selasa (24/12) malam dan bergerak dengan kecepatan 195 kilometer per jam. Dengan kecepatan seperti itu, topan dapat merobohkan pohon-pohon kecil dan menghancurkan rumah-rumah yang terbuat dari material ringan.

Selain itu, diperkirakan akan lebih banyak pulau Filipina yang dihantam oleh angin kencang dan hujan deras sebelum akhirnya Topan Phanfone berpindah ke kawasan Laut China Selatan.

Meskipun lebih lemah, Topan Phanfone bergerak mengikuti jalur yang mirip dengan Topan Super Haiyan. Pada 2013, Topan Super Haiyan tercatat sebagai topan paling mematikan di Filipina dengan korban tewas atau hilang mencapai lebih dari 7.300 orang.

Sedikitnya 25 ribu orang berencana pulang ke rumah mereka di Filipina untuk jamuan makan tradisional bersama keluarga pada malam Natal. Namun kini mereka masih terdampar di pelabuhan akibat layanan penyebrangan feri yang masih ditutup. Tak hanya jalur laut, puluhan penerbangan ke wilayah Filipina pusat juga masih ditangguhkan sampai saat ini.

Para korban topan banyak yang mengambil foto kerusakan lalu memuatnya di media sosial. Mulai dari rumah yang rusak, bus yang hampir tersapu oleh banjir hingga jalan-jalan yang terblokir oleh pohon tumbang. (AFP/X-11)

BERITA TERKAIT