25 December 2019, 11:00 WIB

Biofarma Diminta Fokus pada Vaksin Ketahanan Kesehatan Nasional


Atalya Puspa | Humaniora

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
 ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Ilustrasi: Petugas laboratorium Rumah Sakit Husada memeriksa serum di Jakarta, Rabu (8/2). 

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) bersama Kementerian Koordinator Politik dan Hukum (Kemenkopolhukam), Kemenko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) serta 17 Kementerian dan Lembaga meluncurkan dokumen Rencana Aksi Nasional Ketahanan Kesehatan di Indonesia 2020-2024 di Auditorium Siwabessy, Kementerian Kesehatan, Jakarta.

Dokumen tersebut merupakan dokumen wajib bagi negara anggota WHO untuk memiliki kemampuan mencegah, mendeteksi dan merespon secara cepat dan akurat setiap ancaman kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebar antarnegara dan menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat hingga meresahkan dunia.

Sebagai tindak lanjut dari dokumen tersebut, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dihadapan jajaran direksi Biofarma serta perwakilan Komisi Fatwa menekankan pentingnya pengembangan vaksin dengan ongkos produksi murah namun memiliki manfaat yang besar bagi ketahanan kesehatan nasional.

Terawan berpesan agar Biofarma fokus sesuai dengan core bussiness yang dimiliki. Fokus pada pengembangan vaksin yang mampu mencegah, mendeteksi dan merespons penyakit pandemi yang berpotensi mengancam ketahanan kesehatan. Menurutnya, langkah tersebut jauh lebih optimal dan bermanfaat.

“Kalau mau diversifikasi usaha jangan membuat diversifikasi yang membebani, tidak ada nilai tambahnya, tidak membuat quality of life nya meningkat. Buat yang murah dan menolong orang, pasti berkahnya banyak,” kata Menkes dalam keterangan resmi, Rabu (25/12).

Baca juga: Vaksinasi HPV Lambat, Komitmen Pemerintah Dipertanyakan

Terawan pun menekankan agar mengurangi proses impor barang setengah jadi. Pasalnya, hal ini bisa mengancam ketahanan kesehatan nasional.

“Ingat batasi impor bahan setengah jadi, kita kan nggak tau halal atau enggak karena setengah jadi, nanti pertahanan kita malah jebol,” ungkapnya.

Atas diperolehnya predikat Center of Excellence, Terawan meminta agar kepercayaan dari anggota negara OKI tersebut bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kemaslahatan umat terutama dalam hal peningkatan produksi vaksin halal.

“Kita harus bertanggung jawab terhadap produk-produk kita, karena ini adalah negara mayoritas Islam, otomatis kita mengedepankan produk halal. Jadi kalau produknya mau keluar seharusnya sudah tersertifikasi halal,” tutur Terawan.

Usai pertemuan, Terawan mengunjungi Center of Excellence Facilities Vaccines and Biotechnology Products. Ada beberapa ruangan yang dikunjungi Menkes di antaranya Ruang Kultivasi, Ruang Preparasi, serta Ruang Purifikasi dan Konjugasi.(OL-5)

BERITA TERKAIT