24 December 2019, 22:10 WIB

Tiongkok Tuan Rumah Pertemuan Jepang-Korsel


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

DALAM sebuah langkah yang sangat langkah, Tiongkok menjamu dua pemimpin negera bertetangga yang terlibat percekcokan, Korea Selatan dan Jepang, dalam pertemuan resmi pertama mereka dalam lebih dari satu tahun, Selasa (24/12).

Upaya itu juga menjadi pelenturan otot diplomatik Beijing dengan dua sekutu kunci Amerika Serikat tersebut dan upaya membangun persatuan tentang bagaimana menghadapi Korea Utara.

Pertemuan di kota barat daya Chengdu dibanyangi hadiah Natal spesial dari pemimpin Korea Utara Kim Jong-un yang dapat menyalakan kembali ketegangan global atas program nuklirnya.

Kim telah menjanjikan 'hadiah' yang tidak disebutkan--yang oleh para analis dan pejabat AS diyakini bisa menjadi uji coba rudal yang provokatif--jika AS tidak membuat konsesi dalam pembicaraan nuklir mereka pada akhir tahun ini.

Pertemuan itu juga menampilkan pertemuan bilateral pertama antara Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam 15 bulan.


Baca juga: Pemerintah Xinjiang Berterima Kasih atas Dukungan Negara Islam


Hubungan antara keduanya telah mencapai titik terendah akhir-akhir ini karena masalah perdagangan dan perselisihan lainnya terkait dengan perselisihan pahit selama kolonialisasi Jepang 1910-1945 di Semenanjung Korea.

Amerika Serikat mendesak kedua rival untuk menyingkirkan bara dalam hubungan dua negara karena khawatir hubungan buruk mereka memperumit diplomasi di Asia.

Tiongkok tampaknya mengisi kekosongan itu dengan kegiatan di Chengdu.

"Sebagai kekuatan utama kawasan itu, Tiongkok berharap untuk menunjukkan kehadiran diplomatiknya ke dunia dengan membawa para pemimpin Jepang dan Korea Selatan ke meja yang sama," ujar Haruko Satoh, profesor dan pakar politik Tiongkok di Universitas Osaka, kepada AFP.

Sebelum berangkat ke Tiongkok, Abe mengatakan kepada wartawan bahwa dengan Seoul tetap 'parah'.

Namun, Abe dan Moon terbidik kamera tampak tersenyum dan berjabatan tangan, dan membuat tawaran positif pada awal pertemuan bilateral mereka.

Hubungan antara Jepang dan kedua Korea dibayangi oleh 35 tahun penjajahan brutal oleh Jepang--termasuk penggunaan budak seks dan kerja paksa--yang masih sangat dibenci hari ini. (CNA/OL-1)

 

BERITA TERKAIT