25 December 2019, 00:05 WIB

Mengapa Gigitan Nyamuk Sebabkan Rasa Gatal?


Raka Lestari | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi
Mengapa Gigitan Nyamuk Sebabkan Rasa Gatal?

DIGIGIT nyamuk merupakan salah satu hal yang paling menyebalkan. Bukan saja karena gigitan nyamuk bisa menimbulkan bentol kemerahan, tetapi gigitan nyamuk juga menyebabkan rasa gatal.
 
Dan terkadang rasa gatal tersebut tidak hilang dalam waktu sebentar, sehingga Anda menjadi sering menggaruk kulit.
 
“Nyamuk yang menggigit adalah nyamuk betina, dan ada sejumlah air liur nyamuk yang masuk ke dalam kulit ketika nyamuk mengisap darah kita,” ujar Amy Kassouf, MD, dokter kulit di Cleveland Clinic seperti dilansir dalam Health. “Ini merupakan protein yang menyebabkan reaksi alergi dan gatal-gatal.”

Pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh menganggap air liur nyamuk tersebut sebagai musuh sehingga menimbulkan reaksi gatal.
 
“Protein yang terdapat dalam air liru nyamuk merupakan benda asing bagi tubuh sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh meresponsnya,” kata Dawn Davis, MD, dokter kulit di Mayo Clinic. “Ini menyebabkan iritasi dan reaksi lokal yang sama ketika kita digigit serangga.”

Tubuh kita sangat sensitif terhadap gigitan nyamuk. “Gigitan serangga lain mungkin tidak memiliki dampak yang sama pada sistem kekebalan Anda,” jelas Dr Kassouf. Namun tentu saja, sengatan serangga lain seperti tawon atau lebah cenderung menyebabkan rasa sakit daripada gatal.
 
Menggaruk bekas gigitan nyamuk juga sebaiknya tidak dilakukan karena meskipun terasa melegakan, namun menggaruk bekas gigitan nyamuk dapat membuat rasa gatal tersebut bertambah parah.
 
“Ketika Anda menggaruk, Anda dapat melepaskan lebih banyak histamin lokal (bahan kimia di kulit yang menyebabkan pembengkakan dan gatal-gatal) dan Anda mungkin juga menyebarkan alergen di bawah kulit,” kata Dr Kassouf.
 
Jika Anda menggaruknya sampai berdarah, Anda berisiko terkena infeksi kulit. “Menggaruk bekas gigitan nyamuk dapat membuka kulit, membuatnya lebih menyakitkan atau gatal dan berpotensi menyebabkan infeksi bakteri (pioderma atau impetigo, bahkan selulitis),” jelas Joaquin C. Brieva, MD, dokter kulit di Northwestern Medicine.
 
Dan nyamuk biasanya cenderung lebih banyak menggigit pada malam hari. “Kebanyakan orang digigit nyamuk pada malam hari karena kadar kortisol (hormon antiinflamasi tubuh) lebih tinggi di pagi hari. Selain itu, pada malam hari kita cenderung terfokus pada tidur kita,” tutup Dr Kassouf.  (Medcom/OL-12)

BERITA TERKAIT