24 December 2019, 09:05 WIB

Supaya Air Lancar Mengalir


Bagus Suryo | Nusantara

MI/HERI SUSETYO
 MI/HERI SUSETYO
Jalan Raya Porong di Kabupaten Sidoarjo, sempat dibuka baik dari arah Sidoarjo ke Pasuruan dan Malang pada Senin pagi (21/1).

SUTIAJI tidak mau me-nyerah. Di tengah gu-yuran hujan deras di wilayahnya, Wali Kota Malang, Jawa Timur, itu, terus menggerakkan warga dan anak buahnya untuk mengantisipasi datangnya bencana.

“Kami harus gencar menor-malisasi­ drainase yang tersumbat sampah guna mence-gah genangan dan banjir. Untuk itu, kami meluncurkan aksi bersih-bersih saluran air dan sungai saban hari, yang dimotori tim Gerakan Angkut Sampah dan Sedimen,” ungkap Sutiaji, kemarin.

Ia mengaku sudah meme-rintahkan­ aksi itu dilakukan secara masif sebagai edukasi dan sosialisasi. Ada 5 titik konsentrasi yang menjadi ajang perang melawan sampah.

Kelima lokasi itu ialah Oro Oro Dowo atau anak Sungai Brantas dan perempatan Ja-lan Bandung-jembatan Jalan Buring­. Lokasi lain ialah saluran terbuka Jalan Letjen S Parman, kawasan sekitar Pasar Gadang, Terusan Dieng dan Jalan Raya Langsep, serta di Simpang Gajayana-Jalan Candi II.

Saat berkunjung ke Cirebon, Jawa Barat, anggota DPR Selly Andriany Gantina meminta pemerintah daerah menggencarkan penanaman pohon sukun di kawasan rawan bencana banjir, longsor, dan kekeringan. “Selain bisa menangkap air, pohon sukun juga bisa mencegah terjadinya abrasi dan longsor.”

Ia berharap penanaman pohon sukun bisa segera dilakukan di Kota dan Kabupaten Cirebon, serta Kabupaten Indramayu. Pasalnya, ketiga wilayah itu rawan kejadian bencana.

Aksi pembuatan biopori dipilih­ Wali Kota Pangkalpinang­, Bangka Belitung, Maulan Aklil, guna mencegah banjir. Kema-rin, bersama sejumlah anggota Pemuda Pancasila, pemerintah kota membuat 1.000 biopori di sejumlah titik.

“Kami akan lakukan apa saja untuk mencegah banjir. Pembuatan biopori bisa menjadi salah satu solusi,” tegasnya.

Angin kencang

Selama 2019, bencana alam belum mau menjauh dari Indonesia. Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dalam satu tahun telah terjadi 3.721 kejadian bencana.

“Bencana akibat angin kencang mendominasi dengan 1.339 kejadian. Menyusul kebakaran hutan, banjir, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, dan erupsi gunung api,” tutur juru bicara BNPB Agus Wibowo.

Kejadian bencana itu membuat 477 orang tewas, 109 hilang, dan 6 juta lebih harus mengungsi. Selain rumah, bencana juga menyebabkan kerusakan sekolah, rumah ibadah, dan rumah sakit.

Yang terbaru, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbah warga mewaspadai potensi cuaca buruk selama Natal dan Tahun Baru. “Hujan deras diperkirakan terjadi selama 23-28 Desember,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Hujan deras akan terjadi di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan­, Sulawesi, Maluku dan Papua. Sementara itu, cuaca ekstrem juga berpotensi melanda daerah yang sama.

Kemarin, angin kencang berbuah bencana di Kecamatan­ Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Belasan rumah rusak. Puluhan rumah lainnya di Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, juga mengalami hal serupa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Cianjur, Jawa Barat, juga bersiap menghadapi bencana angin kencang. “Kami mengintensifkan pengawasan terhadap pohon besar di pinggir jalan yang mengalami pelapukan,” ujar Sekretaris BPBD M Irfan Sofyan. (UL/RF/Ind/DW/JI/BB/BK/TB/UA/N-2)

BERITA TERKAIT