24 December 2019, 07:00 WIB

Wajah Keindonesiaan Kita di Betlehem


Max Regus Dekan FKIP UNIKA St Paulus Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur | Opini

Dok. MI
 Dok. MI
Dekan FKIP UNIKA St Paulus Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, Max Regus .

BERITA Injil paling populer, salah satunya, ketika Natal tiba, ditulis Lukas, “Lalu kata malaikat itu kepada mereka, “Jangan­ takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus,  Tuhan, di Kota Daud,“ (2:10-12).

Dalam bentangan sejarah kekristen­an, ini merupakan berita terbesar yang pernah diumumkan kepada umat manusia. Tuhan Yang Mahakuasa memutuskan menjadi manusia.

Kenyataan historis penting lain dari berita sukacita ini ialah kemunculan Betlehem sebagai salah satu ‘titik sentral’ dari keseluruhan cerita kelahiran Yesus Kristus. Betlehem, dari perspektif Alkitab Kristen, ialah tempat yang menentukan sejarah keselamatan manusia. Kota ini, sejak sedia kala, sudah menjadi bagian utama dari tuturan dalam Perjanjian Lama.

Ketika para nabi berbicara tentang nasib bangsa Israel sebagai bangsa terpilih, Betlehem berkali-kali disebut di sana. Berhubungan dengan kelahir­an Yesus Kristus, sejak dulu diberitakan bahwa dari Betlehem akan datang ‘seseorang’ yang akan menjadi ‘tunas baru’ Israel. Dia akan menghadirkan keadilan sekaligus keselamat-an bagi dunia. ‘Seseorang’ itu, meskipun akan hadir dengan tunas keadilan di tangan-Nya, kedatangan-Nya di Betlehem tidak akan menampilkan kisah kemewahan.

 

Paradoks Betlehem

Betlehem merupakan tempat istimewa yang pernah ada dan akan terus tercatat dalam perjalanan sejarah manusia. Hingga kini, jutaan orang dari seluruh dunia masih terus membanjiri tempat spiritual ini. Bahkan, pada 2012, the United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mendeklarasikan Gereja Kelahiran Tuhan Yesus dan jalur peziarah ke Kota Betlehem sebagai warisan kebudayaan dunia.  

Betlehem, sepanjang sejarah keberadaannya, menghadirkan wajah paradoksal. Kota ini terus terkurung dalam arena konflik Timur Tengah, di antara keajaiban Natal, sejak dulu hingga sekarang--baik sejak masa ramalan para Nabi maupun hingga kelahiran Yesus Kristus--Betlehem seolah terpenjara dalam aura kon­flik, kekerasan, dan pertentangan.

Kota ini dikelilingi perselisih-an politik, permusuhan ­agamawi, dan beroperasinya mesin-mesin kematian dan teror. Semuanya terus menga­lir tanpa kesudahan. Kisah-kisah kepedihan dan kematian memang melekat di sekujur tubuh sejarah Betlehem.

Meski begitu, kota ini menerima keistimewaan luar biasa. Kisah inkarnasi, Allah hadir dalam ‘keda­gingan’ manusia, terpahat dalam sejarah panjang Betlehem. Di Betlehem, sikap paling radikal Allah, dalam apa yang disebut dengan pe-ngosongan (kenosis), yakni Dia mengosongkan diri-Nya sendiri ketika menjadikan diri-Nya ‘tidak berarti’ demi keselamatan manusia dan kehidupan, mencapai puncaknya.

Allah menggunakan kesederhanaan dan kekecilan Betlehem--dalam sudut pandangan manusia--untuk tujuan dan kebutuhan keselamatan bagi semesta dan kehidupan.

Ditaruh dalam bayangan manusiawi akan kisah kehadiran seorang raja, maka apa yang terjadi di Betlehem adalah se­suatu yang sangat berbeda. Sebuah pemandangan yang be­gitu kontras. Pada kisah perjalanan dan kedatangan tiga orang sarjana dari Timur di Bet­lehem, kita juga menemukan makna ini berhubungan dengan Betlehem.

Perjalanan ketiga sarjana ini merupakan bagian dari proses pencarian sesuatu yang mereka anggap sebagai peristiwa luar biasa. Di ujung pencarian itu, apa ‘yang luar biasa’ itu tampak pada kenyataan yang begitu sederhana. Mere­­ka ‘hanya’ menemukan seo­rang bayi di sana.

Kenyataan itu ­serentak mem­­balikkan secara fundamen­tal anggapan lama dalam diri mereka. Mereka berpapasan dengan pesan hidup dan langsung bahwa sumber keselamatan bukan hanya ada pada kekuatan sosial politik mahadahsyat dalam sejarah, melainkan juga meruak dari keberanian menekuni ni­lai-nilai sederhana dalam ke­hidupan. Betlehem, dalam kisah kelahir­an Yesus Kristus, merupakan simbolisme kehidupan ketika manusia mampu dan mau berselubungkan cinta, kebaik­an, dan kemurah­an hati.

 

Wajah Keindonesiaan

Betlehem, dengan itu, dapat menjadi ‘cerminan’ asli ba­gi kita untuk mematut diri dan menemukan wajah kehidup­an kita. Termasuk wajah keindo­nesiaan kita. Tidak terbantahkan, bagi kita, Indonesia merupakan rumah yang mengisahkan kesederhanaan dan kebersahajaan hidup.

Hal itu sudah berlangsung sejak lama. Kita dapat mengata­kan bahwa Indonesia adalah sebentuk ziarah kehidupan, se­bagai sebuah keluarga sebangsa dengan mozaik ‘kepel­ba­gaian’ sosial yang teramat indah. Indonesia, seperti Kota Betlehem, merupakan potongan historis-geografis-kultural yang begitu istimewa di antara para bangsa di dunia.

Namun, hingga kini, kehidup­an kita sebagai bangsa, masih dan terus terkurung dalam je­ruji pertentang-an, konflik, dan kebencian. Diskriminasi ‘ber­­labelkan’ suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih menjadi cerita yang be­gitu jamak di negeri ini. Sebagaimana Betlehem, Indonesia juga sedang melewati patahan sejarah ‘paradoksal’.

Keindonesiaan, di tengah ha­­­rum peradaban, masih dige­ro­­­goti sekian banyak penyakit sosial politik kronis. Kita sedang kehilangan begitu banyak nilai, kearif-an, dan cara hidup yang pernah membuat bangsa ini dianggap sebagai ‘hunian kemanusiaan’ ternyaman di du­nia.

Dahulu, Betlehem merekam per­­­jalanan kegembiraan, ha­rap­an—sekaligus air mata dan kesedihan—terpahat pada apa yang dialami Maria dan Yosef saat meniti jalan menuju Betlehem. Pada apa yang dialami Ma­­ria dan Yosef saat meniti jalan menuju Betlehem. Secara khusus bagi orang Kristen di negeri ini, Natal besok harus menjelaskan tumbuhnya ke­se­­diaan untuk mengambil tanggung jawab menggagas kembali transformasi dunia ki­ta menjadi rumah tempat kesederhanaan itu bisa menyelamatkan kehidupan.

Di Betlehem, dengan kisah Natal, kelahiran Sang Juru Sela­­mat, kita menemukan wajah keindonesiaan kita yang masih terbenam dalam penistaan kemanusiaan dan kebersama­an sosial. Bangsa ini niscaya menguji secara terus-menerus pemihakannya pada nilai-nilai sosial, politik, budaya yang pada akhirnya bisa mewadahi ‘jalan pulang’ bersama menuju kemerdekaan hakiki semua warga. Proses ini merupakan sebuah kemutlakan ketika begitu banyak orang dan struktur kekuasaan sosial, politik, dan ekonomi ter­pesona sikap kemaruk dan rakus.             

BERITA TERKAIT