24 December 2019, 05:20 WIB

B-30 Hemat Devisa Rp63 Triliun


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
 ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Implementasi program campuran minyak sawit mentah sebanyak 30% dalam bahan bakar minyak jenis solar (biodiesel 30%).

PRESIDEN Joko Widodo kemarin meresmikan pengimplementasian program mandatori bahan bakar solar dengan bauran minyak kelapa sawit 30% atau B-30 di SPBU Pertamina MT Har-yo­no, Jakarta.

Presiden berharap, dengan mulai berjalannya kebijakan itu, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan pada solar impor yang selama ini menggerogoti neraca perdagangan nasional.

“Usaha menekan impor solar kita lakukan serius. Kalkulasinya, apabila konsisten menerapkan B-30, devisa yang dihemat bisa sampai Rp63 triliun. Jumlah yang besar sekali,” ujar Jokowi dalam peresmian itu.

Berdasarkan penghitungan yang dilakukan, penghematan hingga Rp63 triliun per tahun itu didapat dari pengurangan impor migas.

Saat ini hingga kuartal ketiga 2019, dari program B-20, Indone-sia mampu menghemat devisa sebesar Rp35,58 triliun dari pengurangan impor migas.

Pada 2020, ketika telah berubah menjadi B-30, kebutuhan fati acid methyl ester (FAME) diproyeksikan mencapai 9,6 juta kiloliter.

Selain dapat mengurangi impor, sambung Jokowi, program B-30 juga akan memperkuat serapan minyak kelapa sawit dalam negeri. Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ekspor karena pasar nasional sudah mampu memanfaatkan komoditas itu dengan maksimal.

“Ini akan menciptakan multiplier effect terhadap 16 juta petani sawit kita. Program B-30 yang nanti bisa sampai ke B-100 juga akan membuat kita tidak mudah ditekan-tekan lagi oleh kampanye negatif yang dilakukan negara lain. Pasar dalam negeri kita sangat besar,” lanjut Presiden.

Dalam penyaluran B-30 ini, Pertamina menggandeng 18 badan usaha bahan bakar nabati (BUBBN) yang sudah menyiapkan 28 titik penerimaan FAME yang nantinya akan dicampur ke dalam solar dan menjadi B-30.

Titik-titik itu berada di Medan, Dumai, Siak, Teluk Kabung, Plaju, Panjang, Tanjung Gerem, Bandung Group, Tanjung Uban, Jakarta Group, Cikampek, Balongan,Tasikmalaya Group, Cilacap Group, Semarang Group, Tanjung Wangi, Surabaya, Tuban, Boyolali, Rewulu, Bitung, Balikpapan Group, Kasim, Kotabaru Group, Makassar, Manggis, Kupang, dan STS Pontianak.

Tren positif

Langkah Presiden itu langsung mendapat apresiasi dari pelaku usaha kepala sawit dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kanya Lakshmi Sidarta mengatakan saat ini harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mulai menunjukkan tren positif.

Setelah sempat menyentuh hingga di bawah US$500 per ton pada tahun lalu, harga CPO mulai merangkak naik ke angka US$550 ton pada awal tahun ini dan terus terangkat hingga US$660 per ton pada Oktober.

“Kenaikan ini terjadi karena komitmen pemerintah yang kuat dalam mengimplementasikan program bioenergi. Dukungan pemerintah yang begitu besar membawa dampak positif. Selama ini, kita hanya mengandalkan demand dari luar negeri, sekarang pasar di dalam negeri bisa dimaksimalkan,” ujar Lakshmi, kemarin.

Gapki mencatat serapan CPO dalam negeri secara menyeluruh, baik untuk biodiesel, oleofood, maupun oleochemical, mencapai 14,2 juta ton sepanjang Januari-Oktober 2019.

Angka itu lebih tinggi 6% jika dibandingkan dengan serapan di periode yang sama di tahun sebelumnya. (Van/E-2)

BERITA TERKAIT