24 December 2019, 01:00 WIB

Nadiem Janjikan Cetak Biru Pendidikan dalam 6 Bulan


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/ BARY FATAHILAH
 MI/ BARY FATAHILAH
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim.

SETELAH menghapus ujian nasional, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim kembali melontarkan kabar baru. Saat ini, ia tengah menyusun cetak biru (blue print) pendidikan di Indonesia yang ditargetkan selesai dalam 6 bulan.

“Blue print ke mana arah pendidikan sedang dibuat dan enggak bisa tergesa-tergesa. Harus dikemas dalam suatu strategi,” ungkap Nadiem di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, kemarin.

Ia menginginkan agar cetak biru pendidikan itu akan fleksibel dan adaptif mengikuti perubahan yang terjadi. “Kita membangun roadmap atau blueprint harus ada flexibility di dalamnya, agar dia bisa kalau misalnya arah industri bergerak juga fleksibel,” ucapnya.

Ia menegaskan, khusus untuk empat kebijakan ‘Merdeka Belajar’ yang disampaikan sebelumnya, akan dibuat cetak biru sendiri. Misalnya, soal ujian sekolah berstandar nasional (USBN) yang dinyatakan sudah tidak relevan dan digantikan dengan ujian sekolah (US) dalam bentuk tertulis, proyek siswa, karya tulis, maupun portofolio.

Di sisi lain, terkait rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), Nadiem mengatakan itu bukan menjadi kendala lagi dalam proses administrasi. Sehingga guru jadi fokus optimal mengajar di kelas.

Sebagaimana diketahui, UN yang selama ini menjadi pintu gerbang bagi para pelajar di Tanah Air untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi akan ditiadakan pada 2021, digantikan dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter. Asesmen itu  akan menguji kemampuan literasi dan numerasi siswa. “Yang diukur bukan siswanya, tetapi sekolahnya,” kata pendiri Go-Jek itu.

Dijelaskannya, proses asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik sama seperti UN, yang menggunakan sistem komputer. Asesmen akan meng-ukur sejauh mana keberhasilan sekolah. Jika dari asesmen itu banyak siswa yang tidak tercapai kompetensi minimumnya, sekolah itu perlu ditolong agar menghasilkan proses pembelajaran yang lebih baik lagi dan tidak berdampak ke ujian sekolah,” katanya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Totok Suprayitno menambahkan, hasil penilaian asesmen kompetensi minimum dan survei karakteristik tidak hanya menampilkan angka, tetapi mirip dengan penilaian Program for International Student Assessment (PISA).

Dipermanenkan

Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Cecep Darmawan menyambut baik rencana cetak biru pendidikan di Indonesia sebab hal itu memang menjadi amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. “Yakni, mencerdaskan kehidupan bangsa. Nah dari situ artinya manusia Indonesia itu mau diarahkan seperti apa di 50 tahun atau 100 tahun ke depan,” kata Cecep saat dihubungi Media Indonesia.

Ia juga mengingatkan Nadiem untuk tidak terburu-buru membuat konsepnya karena harus melibatkan seluruh stakeholder pendidikan. Agar kontinu, cetak biru itu perlu dipermanenkan, mengingat arah kebijakan pendidikan Indonesia kerap kali berubah setiap ganti menteri. (H-2)

BERITA TERKAIT