23 December 2019, 16:54 WIB

Pemenang Desain Ibu Kota Baru Tidak Otomatis Diadopsi


Andhika prasetyo | Politik dan Hukum

MENTERI Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Basuki Hadimuljono, Senin (23/12), mengumumkan lima pemenang sayembara gagasan desain kawasan ibu kota negara (IKN) baru.

Para juara itu telah mengalahkan 755 peserta lain yang mendaftar dan mengikuti ajang tersebut.

Basuki mengungkapkan lima pemenang sayembara itu menawarkan desain ibu kota dengan kriteria yang lengkap, mulai dari identitas bangsa, ramah lingkungan hingga keberlanjutan.

"Kota itu kan bukan untuk generasi saat ini saja, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Maka dari itu, ibu kota baru harus dirancang dengan desain yang lengkap, menekankan pada kecerdasan, modern dan memenuhi standar internasional," ujar Basuki di kantornya, Jakarta, Senin (23/12).

Kendati sudah ditetapkan sebagai juara, desain-desain terpilih tidak akan otomatis diterapkan di dalam pengembangan ibu kota baru.

Basuki mengatakan seluruh desain tersebut akan dijadikan sebagai acuan dalam pembangunan sebenarnya nanti.

"Kami minta tiga pemenang utama bisa berkolaborasi menyempurnakan gagasan desain ini karena semua memiliki kelebuhan dan kekurangan," lanjut dia.

Bahkan, Basuki akan mengajak para pemenang untuk melihat langsung kondisi lahan calon ibu kota baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

"Kalau perlu nanti kita kemah. Dua sampai tiga hari cukup. Kita kan harus punya feel di sana," tutur Basuki.

Dalam sayembara desain IKN, pemerintah menetapkan tiga pemenang utama dan dua juara harapan.

Pemenang pertama diguyur hadiah sebesar Rp2 miliar.

Pemenang kedua mendapat Rp1,25 miliar, dan pemenang ketiga mengantongi Rp1 miliar.

Adapun, juara harapan pertama dan kedua memperoleh hadiah Rp500 juta dan Rp250 juta.

Perwakilan pemenang pertama dari Urban Plus Sibarani Sofian mengatakan pihaknya mengusung konsep pengembangan kota yang tetap mengedepankan keberlanjutan lingkungan seperti hutan di Kalimantan.

"Identitas nusa bangsa dan rimba yang dimiliki Indonesia kami padukan dalam konsep Nagara Rimba Nusa," ucap Sofian.

Bersama tim, Sofian melakukan kajian komparasi desain dari beberapa negara yang juga melaksanakan pemindahan ibu kota, seperti Putrajaya di Malaysia, Washington DC di Amerika Serikat dan Astana di Kazakhstan

"Desain ini tidak baru, tapi kami banyak mempelajari desain ibu kota di beberapa negara lain. Kami belajar dari kesalahan dan kekurangan mereka. Dari hasil kajian tersebut lahirlah sebuah formula yang tepat," jelas dia.

Menurutnya, lokasi ibu kota baru di Tanah Air sangat berbeda dengan ibu kota baru di negara-negara lain. Pasalnya sebagian besar kawasan di Kalimantan Timur merupakan hutan.

"Kita harus melihat bagaimana formula yang tepat. Kawasan ini akan menjadi hutan kota, menghubungkan manusia dengan alam," tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT