23 December 2019, 15:08 WIB

Negara sudah Setarakan Perempuan dan Laki-Laki


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

DOK BPIP
 DOK BPIP
Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato kunci di depan seribuan perwakilan perempuan di Jakarta, kemarin.

Negara memberikan hak yang sama antara perempuan dan laki-laki. Persepsi bahwa posisi perempuan di bawah laki-laki harus ditepiskan.

“Banyak perempuan di Indonesia ingin kesetaraan. Ini salah karena negara sudah memberikan hak yang sama antara perempuan dan laki-laki,” ujar Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri dalam acara Perempuan Hebat Untuk Indonesia Maju, Jakarta, kemarin.

Menurut Presiden Indonesia ke-5 itu, perempuan tidak boleh merasa kecil di hadapan laki-laki. Dia memahami perspektif terkait posisi perempuan turut dipengaruhi lingkungan keluarga. Banyak keluarga yang menanamkan sudut pandang bahwa kaum perempuan tidak boleh melebihi laki-laki.

“Di keluarga kami yang lekat dengan budaya Jawa, perempuan disebut konco singkong yang posisinya ada di belakang. Tapi saya dari kecil sudah berontak. Kita ini seharusnya bangga menjadi perempuan,” tutur Megawati.

Menurutnya, Indonesia sulit bergerak maju jika posisi perempuan dianggap inferior. Setidaknya ini dapat dilihat dari perjuangan pahlawan perempuan dalam merebut kemerdekaan bangsa. Dia turut mengenang jasa Fatmawati, ibu negara pertama, yang menjahit bendera Merah Putih untuk dikibarkan saat upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Selain mengucapkan Selamat Hari Ibu, kita juga harus mengingat peran perempuan pada masa penjajahan. Banyak tokoh perempuan yang berjuang dan mengorbankan diri,” ucapnya.

Disinggung pula peran perempuan dalam politik yang masih minim. Banyak perempuan yang menganggap politik sebagai tabu. Kuota 30% untuk perempuan di parlemen pun dirasanya belum optimal.

“Perlu disadari bahwa dominasi kaum laki-laki di DPR kuat sekali. Bukannya mau menyombongkan diri, saya menjadi wakil presiden dan presiden ini bisa menjadi inspirasi bahwa perempuan bisa. Saya juga ingin sesama perempuan saling percaya, bukan melemahkan,” urainya.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap pembinaan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, BPIP memandang penting untuk mendorong peran perempuan dalam pembangunan bangsa.

Dengan demikian, kebijakan publik yang dilahirkan dapat merefleksikan kepentingan perempuan.Konstruksi sosial Menteri Keuangan Sri Mulyani mengimbuhkan perempuan dapat mendobrak batasan yang dibentuk konstruksi keluarga, agama, dan sosial. Dia mengamini perempuan secara konstitusional punya kesamaan kesempatan.

“Namun saat dididik, tidak semua keluarga memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sama. Ketika ada kesempatan, biasanya laki-laki yang diberikan peluang. Konstruksi sosial yang menekan posisi perempuan,” tutur Ani, sapaan akrabnya.

Dirinya bersyukur lahir di tengah keluarga yang mendukung perempuan. Ani menilai keluarga sebagai fondasi awal yang membentuk kepercayaan diri perempuan.

Tokoh perempuan Yenny Wahid pun menekankan orangtua sebagai panutan harus mengusung sikap kesetaraan. Dirinya bersyukur memiliki orangtua seperti Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur yang terlibat dalam urusan domestik.

“Menurut kami dinamika keluarga yang setara itu wajar sekali. Bahwa laki-laki dan perempuan berbagi peran dalam urusan domestik,” ucap Yenny.

Dia berharap semakin banyak keluarga yang mengedepankan aspek kesetaraan. Stigma perempuan hanya mengurus dapur harus dihapus.

Begitu pula dengan posisi laki-laki yang tidak bekerja, lanjutnya, bukan berarti tidak bertanggung jawab. Semua sah selama terjadi kesepakatan dalam keluarga terkait peran masing-masing.

Di sisi lain, Staf Khusus Presiden Bidang Sosial, Angkie Yudistia, mengaku banyak tantangan yang dihadapi kaum difabel, terlebih perempuan. Terlebih mereka yang menjadi seorang ibu.

“Bagi ibu berkebutuhan khusus, terkadang diskriminasinya ganda. Artinya, kita harus lebih kuat untuk bertahan hidup. Yang kita butuhkan support system dari keluarga dan lingkungan,” jelas Angkie.

Selain itu, dirinya berharap ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak berkecil hati. Pasalnya, peran ibu sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak agar menjadi generasi penerus yang berkualitas.

Disinggung peran perempuan dalam pembangunan bangsa, Angkie menilai belum cukup optimal. Pada Hari Ibu, dia ingin memberikan semangat pula kepada perempuan Indonesia untuk terus maju. (Tes/S3-25)

BERITA TERKAIT