23 December 2019, 09:59 WIB

Turki Tingkatkan Dukungan Militer Untuk GNA Libya


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PRESIDEN Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki akan meningkatkan dukungan militernya untuk pemerintah Libya yang diakui secara internasional. Dukungan Turki ini sehari setelah parlemen Turki meratifikasi kesepakatan kerja sama keamanan dan militer yang ditandatangani antara Ankara dan Tripoli bulan lalu. Pengumuman Presiden Turki datang setelah pasukan angkatan laut Khalifa Haftar menyeret kapal dengan awak Turki di lepas pantai Libya.

"Kami akan mengevaluasi semua jenis dukungan militer termasuk opsi darat, laut, dan udara jika perlu," kata Erdogan dalam pidatonya, Minggu (22/12/2019) waktu setempat, di Provinsi barat laut Kocaeli.

Turki mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Fayez al-Serraj di Libya, yang telah dilanda konflik faksi sejak 2011. Ankara telah mengirim pasokan militer ke GNA meskipun ada embargo senjata PBB. Turki juga siap mengerahkan pasukan ke Libya jika GNA menyampaikan permintaan.

GNA telah berperang selama berbulan-bulan melawan pasukan pemberontak pimpinan Khalifa Haftar yang berbasis di timur negara itu. Pasukan Haftar telah menerima dukungan dari Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Arab Saudi, dan Rusia. Erdogan juga mengatakan Turki baru-baru ini memberikan dukungan sangat serius kepada GNA. Erdogan menegaskan bahwa Libya adalah negara yang didukung dengan nyawanya.

"Mereka mendukung panglima perang ilegal, yang merupakan pion dari negara-negara tertentu, bukan pemerintah yang diakui PBB," kata Erdogan, dalam referensi yang jelas tertuju ke Haftar dan negara-negara yang mendukungnya.

Bulan lalu, Turki dan GNA menandatangani perjanjian untuk meningkatkan kerja sama militer, dan kesepakatan terpisah tentang batas-batas laut, yang telah membuat marah Yunani. Mengacu pada kesepakatan itu, Erdogan mengatakan bahwa Turki sama sekali tidak akan pernah membatalkan perjanjiannya dengan Libya.

"Tidak seorangpun yang bisa mengeluarkan kami, menjebak kami di pantai kami sendiri atau mencuri kepentingan ekonomi kami," kata Erdogan.

"Kami tidak berniat memulai konflik dengan siapa pun tanpa alasan, atau merampas hak siapa pun," tegasnya.

baca juga: Korban Tewas Erupsi Gunung White Island Bertambah

"Mereka yang menentang kami tidak memiliki landasan kebenaran, hukum, keadilan, etika atau belas kasihan," sambung Erdogan, merujuk pada Yunani, Israel, dan Mesir, yang telah menentang perjanjian maritim.

Ankara dan Athena berselisih soal sumber daya hidrokarbon di lepas pantai pulau Siprus yang terbagi. (Al Jazeera/OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT