23 December 2019, 08:05 WIB

Pedagogi Cinta


Fuad Fachruddin Divisi Penjaminan Mutu Pendidikan Yayasan Sukma | Opini

CINTA ialah anugerah Tuhan Yang Maha Penyayang terhadap insan. Jalaluddin Rumi, seorang penyair dan sufi, melukiskan cinta dengan indah dalam syairnya, “.... Cinta adalah lautan tak bertepi. Langit adalah serpihan bukti belaka. Ketahuilah langit berputar karena gelombang cinta. Andai tak ada cinta, dunia akan membeku. Karena cinta, duri menjadi mawar, cuka menjadi anggur segar, kemalangan menjelma keberuntungan, batu yang keras menjadi lembut bagaikan mentega, duka menjadi riang gembira, hantu berubah menjadi malaikat, singa tak menakutkan seperti tikus, sakit jadi sehat, amarah berubah menjadi keramahan.”

Kata ‘cinta’ digunakan untuk menunjuk situasi menakjubkan yang mencerminkan perilaku, emosi atau perasaan, dan sikap terhadap orang dan benda. Dalam kehidupan, kita dapat menemukenali empat kategori pewujudan cinta, yaitu a) cinta orangtua dan anak atau seorang anak terhadap orang yang lebih tua (attachment love), b) kedermawanan seseorang dalam bentuk membantu meningkatkan kehidupan orang lain (compassionate love), c) persahabatan yang ditali dengan kesamaan minat seperti kegiatan keilmuan (companionate liking), dan d) hubungan romantis, termasuk erotisisme, sayang, atau adiktif (romantic love) antarlawan jenis (Loreman, 2011: 4). Dalam kaitannya dengan pendidikan, ada beberapa pertanyaan yang dapat diajukan, seperti ‘Apa pedagogi cinta? Apakah pedagogi cinta sama atau berbeda dengan karakter? Mengapa kita, pendidik, perlu membangun relasi cinta (loving relationship) dengan peserta didik dalam proses pembelajaran?

Unsur-unsur esensial

Pedagogi cinta merujuk kepada tiga perspektif berikut. Pertama,  perspektif psikologi, yaitu cinta memiliki tiga elemen pokok, antara lain intim, passion, dan komitmen/keputusan menurut teori triangular love (Sternberg). Intim menunjukkan rasa dekat, tersambung, dan terikat dalam hubungan cinta yang mencakup sikap pengertian, menghargai, dan hangat dalam berhadapan dengan orang lain. Komitmen adalah keputusan seseorang untuk mencintai yang lain dan sepakat untuk membangun dan memelihara hubungan cinta untuk jangka panjang (Loreman, 2011:3). Kedua, per­spektif agama. Dalam diskursus agama, konseptualisasi cinta banyak ditemukan elemen resonan dan relevan dengan topik cinta sebagai pedagogi. Misalnya, dalam ajaran Islam disebutkan dalam beberapa hadis (sabda Rasulullah) dalam Riwayat Imam Ath-Thabrani, antara lain “Jika engkau mengingatkan rahmatKu (Allah) sayangilah makhlukKu” yang menunjuk seluruh makhluk Allah.

Ketiga, perspektif filsafat. Cinta telah mendapat perhatian dalam beberapa abad silam. Plato, misalnya, menyebutkan bahwa cinta direpresentasi dengan laku mencintai keindahan (beauty). Ide Plato memberi kita landasan awal yang dengannya pengertian filosofi cinta dikembangkan. Dalam pandangan Plato cinta ialah kontemplasi mendalam tentang keindahan yang membawa seseorang pada realita keindahan. Dengan kontemplasi, bernalar, dan berpikir, serta bersikap kritis melalui bertanya atau mempertanyakan sesuatu isu, seperti cinta (dialog Socrates), ide logis dan sehat tentang cinta, dan apa maknanya dapat dikembangkan (Loreman, 2011:6).

Dari tiga perpektif, Loreman (2011) menarik unsur-unsur yang paling relevan untuk pedagogi cinta, yaitu 1) cinta mengandung kasih sayang dan empati. Keduanya berasal dari konsep persaudaraan yang ditemukan dalam beragam tradisi agama. Cinta yang dilahirkan dari agama-agama resonan dengan pengertian filsafati (philia) dalam tradisi Plato dan karya Freire, konsep kasih sayang dan empati dari per­spektif psikologi Russell (1995), serta ide compassionate love dari Berscheid (2006). 2) Cinta mengandung pengorbanan dan kesiapan memberi maaf. Kedua hal tersebut banyak ditemukan dalam diskursus agama. 3) Cinta mengandung penerimaan dan menjadi warga masyarakat. Agama mengajarkan menjalin dan menjaga persaudaraan satu kelompok dengan yang lainnya dan mencari rida Tuhan. Bagi Freire masyarakat, guru, dan peserta didik hendaknya membangun persaudaraan serta mencari rida Tuhan. Sementara itu, passion mencakup penanaman seluruh aspek yang ada dalam cinta (Loreman, 2011:14).

Elemen-elemen esensial tersebut tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter. Pendidikan karakter membentuk seorang baik (saleh) dan sikap atau perilaku baik (Arthur, 2008) atau mengembangkan kesalehan (virtues), yaitu kebiasaan dan karakter baik yang membawa atau mengantarkan murid menjadi seorang dewasa yang bertanggung jawab dan matang (matang secara moral). Kematangan moral dapat dilakukan dengan pengajaran dan bimbingan yang intens (dekat) (Nucci, Narves:2008). Pendidikan karakter ialah menanamkan karakter utama dimaksudkan untuk mewujudkan manusia berkualitas baik.

Inspirasi pengetahuan

Akhirnya, mengapa perlu dibangun relasi yang penuh cinta antara pendidik dan peserta didik? Cinta dalam kajian pedagogi merupakan kekuatan (power) yang dapat memberi para peserta didik inspirasi untuk mencari pengetahuan dan dengan cinta guru peserta didik bahu-membahu menggali ilmu. Cinta belajar memberdayakan peserta didik menghadapi kemajuan dan mendorong peserta didik mencapai titik puncak (Loreman, 2011) atau mencapai prestasi akademis. Dari perspektif agama, cinta dapat diterapkan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu kerja sama antara guru dan peserta didik dalam proses belajar dengan tujuan mencari ilmu. Cinta merupakan hal yang esensial dalam relasi guru dan peserta didik. Dengan kata lain, cinta dalam relasi guru dengan peserta didik merupakan hal yang sangat penting untuk membangun kesatuan (ikatan) guru dan peserta didik dalam relasi yang tidak anani dan berdasarkan kebenaran Tuhan (Loreman, 2011).

Guru atau pendidik akan terus dihadapkan pada tantangan kehidupan yang sangat dinamis yang menuntut mereka bersikap adaptif dan kreatif dalam menjalankan tugas, yakni menfasilitasi pengembangan potensi yang dimiliki peserta didik di kelas serta menjadi contoh (role model) dalam menanamkan karakter atau nilai. Wallahualam.

BERITA TERKAIT