23 December 2019, 07:35 WIB

Gunakan Dana Desa Berdayakan Perempuan


Indriyani Astuti | Nusantara

KARENA mengalokasikan dana dalam anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) yang dinilai responsif gender, tiga kepala desa diganjar penghargaan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Mereka ialah Kepala Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, dengan alokasi APBDes Rp295.535.000, Kepala Desa Swarga Bara, Kecamatan Sanggata Utara, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, dengan alokasi APBDes Rp470.000.000,  dan Kepala Desa Kwade, Kecamatan Moraid, Kabupaten Tambraw, Provinsi Papua Barat, dengan alokasi APBDes sebesar Rp149.300.000.

“Mereka akan dibawa ke New York untuk hadir dalam Sidang PBB Maret 2020. Ini motivasi yang kami berikan dengan harapan 72 ribu kepala desa lainnya berlomba-lomba untuk memberikan perhatian kepada perempuan melalui penganggaran dari dana desa,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati atau lebih dikenal dengan Bintang Prayoga pada Peringatan Hari Ibu (PHI) ke-91 di Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

Ibu Wury Estu Handayani Ma’ruf Amin menghadiri PHI ke-91 yang mengangkat tema Perempuan berdaya, Indonesia maju. Menurut Menteri PPPA, empat kata itu mengandung sejuta makna. Walaupun zaman berubah, perempuan menjadi pejuang ekonomi, pendidikan, dan budaya.

Hal senada disampaikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. Dia mengatakan perempuan sangat berperan dalam pemenuhan gizi anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Kepala Desa Lambangsari, Tambun, Pipit Haryanti, menuturkan 45% dari total APBDes dianggarkan untuk pemberdayaan perempuan dengan program membuat kerajinan kain perca dari sisa bahan, seni lukis dompet, dan seni dari kawat yang dibuat menjadi cincin dan bros.

“Kami berharap perempuan bisa membuka usaha. Kami mendampingi mereka sejak merintis usaha hingga pemasaran di toko online,” ujar Pipit.

Ikrar

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat meluruskan bahwa 22 Desember memiliki makna bukan hanya sebagai Hari Ibu sebagaimana peringatan Mother’s Day di negara lain. Tanggal itu perlu diingat sebagai Hari Perempuan Indonesia.

Menurut Lestari yang akrab disapa Rerie, pada 22- 25 Desember 1928, dalam Kongres ke-1 Perempuan Indonesia di Yogyakarta, para perempuan Indonesia berikrar agar perempuan di Indonesia mampu mencapai cita-cita sederajat dengan kaum pria.

“Sudah ada kemajuan, tetapi belum sepenuhnya berhasil mencapai cita-cita yang dikumandangkan 91 tahun lalu. Karena itu, peringatan Hari Ibu ke-91 merupakan momentum untuk merenungkan peran perempuan dalam memperjuangkan posisi dan kedudukannya yang menggambarkan semangat nasionalisme Perempuan berdaya, Indonesia maju, sesuai tema Hari Ibu tahun ini,” ungkap Rerie. (Mts/X-3)

BERITA TERKAIT