23 December 2019, 01:00 WIB

Kisah Risma dan Air Mancur Menari


Ant/H-2 | Humaniora

ANTARA FOTO/Didik Suhartono
 ANTARA FOTO/Didik Suhartono
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

BAGI Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, membaca itu sangat penting sebab ia merasakan sendiri manfaatnya. Ia pun ingin warga Surabaya, khususnya generasi muda mendapatkan hal yang sama.

“Sebab, dengan membaca dan menulis, akan terbiasa berimajinasi dan anak-anak akan melakukan tindakan yang mengarah kepada kreativitas,” ujarnya saat mendeklarasikan Gerakan Mendongeng di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (21/12).   

Risma mengatakan, sejak kecil dirinya sudah senang membaca, baik buku ilmiah maupun komik. “Sampai sekarang pun saya masih suka baca buku, makanya di ruang kerja saya banyak buku,” tuturnya.

Dengan sering membaca buku itu, diakui Risma, daya kreativitasnya dalam membangun Kota Surabaya selalu bermunculan. Termasuk pada saat dia membangun air mancur yang lompat-lompat di depan Balai Kota Surabaya.   

“Saat itu saya membayangkan menjadi anak-anak, jika menjadi anak-anak pasti akan senang bermain di air-air seperti itu, makanya saya buat seperti itu,” katanya.    

Air Mancur Balai Kota Surabaya yang disebut warga dengan Taman Air atau Air Muncrat itu dibangun pada 2014 dan kini menjadi salah satu ikon Surabaya. Inovasi Wali Kota Risma itu bahkan memenangi penghargaan Inovasi Manajemen Perkotaan. Sebenarnya, sambung Risma, ada beberapa kepala daerah yang lulusan arsitek juga, tetapi karena kurang membaca buku, ide-idenya tidak muncul.

Karena alasan itu juga, pihaknya terus menambah jumlah perpustakaan dan taman bacaan masyarakat (TBM) di berbagai titik di Kota Surabaya. Diakuinya, soal biaya itu menjadi hal kesekian yang menjadi pertimbangannya.

“Membangun perpustakaan memang tidak murah, tapi kalau anak-anak sering membaca, dia akan kreatif, sehingga kalau ada suatu masalah dan jalan ini ditutup, dia akan mencari jalan lain untuk menyelesaikan masalahnya itu,” cetus Risma.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya, Musdiq Ali Suhudi menambahkan,  Gerakan Mendongeng dirilis bersamaan dengan peluncuran 24 buku yang ditulis anak-anak Surabaya ataupun penjaga taman baca masyarakat (TBM). Surabaya dikenal sebagai Kota Literasi dan Gerakan­ Mendongeng­ bertujuan untuk makin menggelorakan semangat literasi warganya. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT