22 December 2019, 14:14 WIB

Lima Orang Ditangkap terkait Pembakaran Masjid di Ethiopia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

 AFP/Michael Tewelde
  AFP/Michael Tewelde
 perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed.   

LIMA orang yang diduga membakar empat masjid di wilayah Amhara di Ethiopia telah ditangkap, kata seorang jurubicara regional, ketika meningkatnya kekerasan antarkomunitas dan etnis.

Fana Broadcasting Corporate melaporkan, Sabtu (21/12), bahwa sejumlah masjid diserang dan properti-properti lain dihancurkan di Kota Mota, lebih dari 350 kilometer (217 mil) utara ibu kota, Addis Ababa.

"Upaya para ekstremis untuk meruntuhkan sejarah kaya kita tentang toleransi beragama dan hidup berdampingan tidak memiliki tempat di Ethiopia yang berfokus pada kemakmuran baru," ujar Perdana Menteri (PM) Ethiopia Abiy Ahmed, seorang penerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini, mengatakan dalam sebuah pernyataan di akun Facebook dan Twitter-nya.

"Saya mengutuk tindakan pengecut seperti itu dan menyerukan semua warga Ethiopia yang cinta damai untuk memajukan pengetahuan mendalam kita tentang koeksistensi dan rasa hormat," tambah pernyataan itu.

Fana juga mengatakan satu gereja diserang, mengancam reformasi politik yang diprakarsai oleh Abiy.

"Lima orang yang diduga memimpin dan mengorganisasikan serangan kini telah ditangkap," Getnet Yirsaw, juru bicara negara bagian Amhara, mengatakan dalam sebuah posting Facebook pada Sabtu (21/12).

Sementara itu, kekerasan etnis telah menjadi masalah terus-menerus di bawah pemerintahan Abiy, kerusuhan baru-baru ini tampaknya setidaknya sebagian dimotivasi oleh agama.

Selama beberapa hari kekerasan di wilayah Oromia pada Oktober yang menewaskan lebih dari 80 orang, serangan terhadap masjid dan gereja-gereja Kristen Ortodoks dilaporkan terjadi.

Namun para analis memperingatkan konflik yang tampaknya berakar pada agama seringkali juga didorong oleh perselisihan tentang akses lahan, etnisitas, dan masalah lainnya.

Muslim membentuk sekitar sepertiga dari populasi Ethiopia yang berjumlah 110 juta jiwa, yang kedua setelah Kristen Ortodoks sebesar 40%, menurut sensus terakhir yang dilakukan pada 2007.

Tetapi jumlah Muslim jauh lebih sedikit daripada di Amhara, wilayah terpadat kedua di negara itu di mana Kristen Ortodoks berjumlah lebih dari 80% dari total.

Serangan-serangan terhadap masjid-masjid itu dikutuk oleh Gereja Ortodoks dan Dewan Tertinggi Urusan Islam Ethiopia, Fana melaporkan.

Daniel Bekele, kepala Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia, mengatakan dalam sebuah pernyataan pejabat daerah Amhara harus bertindak segera untuk menyelidiki dan membawa para pelaku ke pengadilan. (Al Jazeera/Hym/OL-09)

BERITA TERKAIT