22 December 2019, 12:48 WIB

Bentrokan Geng di Penjara Honduras, 18 Tahanan Dilaporkan Tewas


Melalusa Susthira K | Internasional

Stringer/AFP
 Stringer/AFP
Keluarga narapidana menanyakan soal keadaanya saudaranya kepada petugas penjara Tela, Honduras pascakerusuhan. 

SEDIKITNYA 18 narapidana tewas dan 16 lainnya luka-luka akibat bentrokan yang pecah di penjara Tela, Honduras pada Jumat (20/12).

Media setempat menyebut kerusuhan itu sebagai kekerasan oleh kelompok geng, menjadikannya kekerasan penjara terbaru di Honduras yang terkenal sangat padat.

Lembaga Pemasyarakatan Nasional Honduras mengatakan sebanyak 17 tahanan meninggal di dalam penjara Tela yang terletak 200 km dari ibu kota Tegucigalpa, sementara satu orang lainnya meninggal di rumah sakit.

Belasan jenazah tersebut kini tengah diautopsi oleh tim forensik di kota San Pedro Sula.

Juru Bicara Lembaga Pemasyarakatan Nasional Honduras, Digna Aguilar, mengatakan pihak berwenang harus memasuki penjara itu dengan hati-hati.

Pihaknya menyebut khawatir menjadi korban karena beberapa narapidana membawa senjata api yang membuat jalannya penyelidikan.

Mengutip Associated Press (AP), Aguilar menyebut kerusuhan tersebut terjadi ketika setengah dari staf penjara Tela tengah libur Natal dan direktur penjara itu telah ditangguhkan dari jabatannya.

Adapun gabungan pasukan keamanan nasional Honduras yang dikenal sebagai Fusina pada Sabtu (21/12) kemarin, mengatakan telah menyita lima senjata api berkaliber 9 mm dan amunisi dari para tahanan setelah bentrokan pecah di penjara Tela.

Berkenaan dengan insiden itu, perwira tinggi militer Honduras, Jenderal Tito Livio Moreno, menyatakan bahwa militer Honduras akan dikerahkan di 18 lembaga pemasyarakatan yang diidentifikasi sebagai berisiko tinggi untuk memulihkan ketertiban.

Sebelumnya pada Selasa (17/12), Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez, telah memerintahkan tentara dan polisi untuk mengambil kendali penuh atas 27 penjara di Honduras.

Penjara-penjara tersebut dijejali sekitar 21 ribu tahanan, padahal seyogyanya hanya dapat menampung sekitar 8 ribu tahanan. Namun saat bentrokan meletus pada Jumat (20/12), militer belum mengambil kendali penuh di penjara Tela.

Negara Amerika Latin itu telah dilanda perdagangan narkoba, komplotan geng, kemiskinan, dan korupsi, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia - di luar daerah konflik bersenjata.

Untuk melawan momok ini, Presiden Hernandez pun membentuk pasukan polisi militer yang dibiayai oleh pajak baru dan membangun penjara khusus untuk anggota komplotan geng. (AFP/Uca/OL-09)

BERITA TERKAIT