22 December 2019, 09:25 WIB

Bincang Seru Suksesi McDonald’s


Ziya Maula Hamid | Weekend

MI/ BARY FATHAHILAH
 MI/ BARY FATHAHILAH
Reporter Cilik Media Indonesia saat berkunjung di Kantor Direksi McDonald’s, Kelapa Gading, Jakarta.

PAGI itu cuaca lumayan redup, maklum sekarang sudah masuk musim penghujan. Biasanya setiap Senin saya rutin upa­cara bendera, tapi Senin (16/12) kali ini saya tidak mengikuti upacara seperti biasanya.

Saya dan beberapa teman Reporter Cilik Media Indonesia berangkat ke Kantor Pusat McDonald’s di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di sana kami mewawancarai tiga orang penting di McDonald’s, yaitu Ibu Laksmi Zosmiati sebagai Direktur Operasional McDonald’s Indonesia 1, Bapak Eric Err sebagai Direktur Operasional McDonald’s Indonesia 2, dan Ibu Yulianti Hadena Direktur HRD McDonald’s Indonesia.

Setelah pengarahan, akhirnya Ibu Laksmi, Bapak Eric, dan Ibu Yuli hadir di tengah kami. Sekitar 1 jam mereka menjawab lebih dari 25 pertanyaan yang kami ajukan. Saya akan mencoba merangkumnya, juga mencoba mencari sumber lainnya dari internet.

McDonald’s didirikan Richard dan Maurice McDo­nald’s pada 1973 di sebelah timur Kota Pasadena, Ame­rika Serikat. Saat itu McDonald’s hanya restoran drive in yang mana di sana sedang berkembang tren drive in. Ba­ngunan restorannya berbentuk persegi delapan, dengan mengekspose ruangan dapurnya dan tidak memiliki tempat duduk di bagian dalam restorannya. Kedua bersaudara tersebut berniat mengembangkan restoran yang sudah cukup sukses dan menguntungkan. Fokus pengembangan mereka pada kecepatan yang diharapkan akan meningkatkan volume pembelian. Konsep utama yang diterapkan ialah kecepatan, harga terjangkau, dan volume.

Restoran ini juga memiliki logo sendiri, yaitu The Golden Arch, yang dirancang perancang neon sign George Dexter. Logo berwarna kuning terang dan mencerminkan huruf ‘M’ dari McDonald’s.

Karena persainganan ketat dunia bisnis drive in, kakak-beradik ini bertemu dengan Ray Kroc. Ray membantu McDonald’s bersaudara mengembangkan restoran melalui konsep cepat saji.

Sekitar 1955, Ray menjual waralaba McDonald’s dan untuk kali pertama di San Bernardino, California, hadir makanan cepat saji menggunakan sistem waralaba (franchise). Kini restoran dengan produk unggulan burger bernama BigMac ini telah memiliki ribuan cabang yang tersebar di 100 negara, termasuk Indonesia.

Indonesia

McDonald’s pertama kali masuk ke Indonesia pada 1991 dengan membuka gerai pertamanya di Sarinah, Thamrin. Di Indonesia, PT Rekso Nasional Food (RNF), anak perusahaan Rekso Group yang menandatangani master franchise agreement dengan McDonald’s International Property Company (Mipco), guna izin mengoperasionalkan merek McDonald’s. Kini sudah ada lebih dari 200 gerai McDonald’s di seluruh Indonesia, yang mempekerjakan 14 ribu karyawan. Wuah banyak ya, sobat.

Menariknya, McDonald’s juga mendukung penyandang disabilitas di Indonesia. Saat ini Mcdonald’s telah mempekerjakan para penyandang disabilitas dan mengangkat mereka sebagai karyawan.

Visi McDonald’s ialah menjadi restoran cepat saji dengan pelayanan terbaik di dunia. Guna mencapai visi ini, mereka selalu menjamin mutu produknya, memberikan pelayanan yang memuaskan, menawarkan kebersihan dan keamanan produk pangan, serta nilai-nilai tambah lainnya.

Adapun misinya ialah menjadi perusahaan terbaik bagi semua karyawan di setiap komunitas di seluruh dunia, menghadirkan pelayanan dengan sistem operasional yang unggul bagi setiap konsumen di setiap restoran cabang McDonald’s, dan terus mengalami perkembangan ke arah yang menguntungkan sebagai sebuah brand, serta terus mengembangkan sistem operasional McDonald’s ke arah yang lebih baik lewat inovasi dan teknologi.

Belakangan McDonald’s mengganti slogan mereka guna melawan para pembenci dan mengubah image. Slogan I’m Lovin’ It bertujuan menyebarkan kebahagiaan dan dinilai sebagai kampanye yang paling sukses dalam beberapa tahun terakhir.

Resep asli

Setiap tahunnya McDonald’s selalu menyajikan menu baru, termasuk pada 2020. Ibu Laksmi mengungkapkan ada menu baru yang lebih segar tahun depan.

Akan tetapi, jangan khawatir Sobat Medi, McDonald’s tetap menghadirkan makanan andalannya dengan menjaga resep aslinya. Pasalnya, ciri khas makanan itu harus dan tetap dipertahankan. Di samping itu, cara mereka mempertahankan resep ialah dengan menggunakan daging dari Australia.

Sayangnya sobat, masih sebagian masyarakat mengatakan makanan cepat saji tidak baik dikonsumsi. McDonald’s menyakinkan masyarakat pandangan itu 100% tidak benar karena kualitas makanan mereka terjamin baik dan aman dikonsumsi.

Oya, saat ini McDonald’s sudah tidak menggunakan sedotan plastik lo. Tindak­an ini sebagai bentuk kepedulian McDonald’s terhadap Bumi agar terbebas dari sampah plastik. Sayangnya McDonald’s tidak menyediakan sedotan ramah lingkungan sebagai penggantinya.

Guna menjaga kelestarian dan keramahan lingkungan, semua limbah yang dihasilkan McDonald’s diolah terlebih dahulu. Semua limbah diolah  menjadi cairan yang bersih sebelum membuangnya ke saluran kota.

Sukses

Wuah kita sudah banyak bicara soal McDonald’s, tapi Sobat Medi tahu enggak soal pekerjaan para pembicara kita? Bu Yuli itu bekerja di bidang HRD, tugasnya mengembangkan sumber daya manusia di McDonalds. Ia merekrut calon karyawan sekaligus melatih mereka menjadi karyawan yang andal. Ternyata tugas Ibu Yuli juga menangani pembayaran gaji karyawan.

Menurut Ibu Yuli, supaya menjadi karyawan yang berhasil, setiap karya­wan harus menjaga motivasi dalam diri sendiri. Bila memiliki motivasi positif, akan selalu mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka.

Nah, kalau Ibu Laksmi Zosmiati dan Bapak Eric Err, mereka berbagi kiat untuk menjadi sukses. Ternyata kalau mau sukses dalam berkarier dan mencapai posisi puncak di perusahaan kita harus selalu belajar, berani, disiplin, percaya diri, dan tidak pernah putus asa.

Semua itu ternyata tecermin dari suksesi McDonald’s di Indonesia. Mereka selalu menjaga servis dan kualitas McDonald’s sebagai hasil kerja keras dari setiap karyawannya. (M-3)

BERITA TERKAIT