22 December 2019, 07:20 WIB

Rawat dan Perkuat Toleransi


Ardi Teristi Hardi | Humaniora

MI/Ardi Teristi Hardi
 MI/Ardi Teristi Hardi
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir

DI saat keberagaman masih menyisakan persoalan, akhir tahun 2019 ini harus menjadi momentum untuk mempererat dan mengikat kembali benang kebangsaan. Sejumlah kalangan pun mengajak seluruh anak bangsa untuk benar-benar merawat dan memperkuat toleransi demi integrasi nasional.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, sepanjang 2019 hubungan antara sesama anak bangsa mungkin sempat kusut. Selain karena pemilu dan pilpres, masalah intoleransi juga masih menjadi masalah yang memantik gesekan di tengah masyarakat.

Karena itu, Haedar mengingatkan seluruh rakyat untuk kembali pada kesadaran. Kita ialah saudara sebangsa. Dia mengajak untuk menjadikan Natal dan Tahun Baru 2020 sebagai wahana kerohanian berbangsa dengan cara menghidupkan toleransi satu sama lain.

Menurut Haedar, setiap individu hendaknya bersikap dewasa jika timbul masalah. Ia pun mengajak semua pihak menggunakan nilai-nilai agama sebagai sumber integrasi nasional. Di masyarakat yang majemuk, hubungan satu sama lain menjadi rentan seperti rumput kering yang mudah terbakar.

‘’Terlebih yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya. Momentum seperti ini (Natal dan Tahun Baru) hendaknya dijadikan ikhtiar kita untuk semakin membangun solidaritas kolektif anak bangsa,” kata Haedar.

Kemajemukan yang sebenarnya merupakan keniscayaan belum lepas dari gangguan. Praktik-praktik intoleransi seperti pelarangan pembangunan tempat ibadah dan meng­halangi pemeluk agama lain menjalankan ibadah masih saja terjadi.

Contoh terkini, ada pelarangan atau penolakan rangkaian perayaan Natal di empat daerah di Sumatra Barat, yakni Kota Bukittinggi, Kabupaten Sijunjung, Dharmasraya, dan Pesisir Selatan. Presiden Joko Widodo pun tidak membenarkan tindakan seperti itu. Ditegaskan bahwa konstitusi menjamin kebebasan setiap penduduk untuk memeluk dan menjalankan agama sesuai dengan kepercayaan masing-masing.

Terkait dengan perayaan Natal, Haedar mengatakan, dalam kehidupan beragama ada koridor keyakinan yang harus dihormati. “Namun, dalam konteks sosial dan kebangsaan, hendaknya kita memperluas area untuk bersilaturahim dan berkomunikasi.’’

Inspirasi

Rohaniwan Antonius Benny Susetyo atau Romo Benny menyatakan, sudah saatnya bangsa Indonesia mengupayakan tata kehidupan baru yang berkemanusiaan dan berkeadil­an. Dia berharap Natal tahun ini bisa menginspirasi umat manusia untuk bersahabat tanpa membedakan suku dan agama.

Menurut Romo Benny, Indonesia sudah sangat lama hidup rukun dalam pluralisme. Prinsip itulah yang semestinya terus dijaga dan dikuatkan. Dalam kaitan itu, dia mengapresiasi hadirnya pohon Natal raksasa yang terbuat dari ribuan botol bekas di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Ini bukti pemda merawat kemajemukan.  

Setara Institute yang selama ini bersuara lantang memprotes praktik-praktik intolerasi mengingatkan kembali pentingnya sikap penghormatan pada perbedaan. Merawat dan memperkuat sikap toleransi, ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, perlu peran nyata tokoh agama dan negara.

Bonar mengecam keras aparat negara yang semestinya menjamin dan memfasilitasi kebebasan beragama, tetapi justru abai ketika ada perampasan terhadap kemerdekaan ber­agama. Sebaliknya, dia menyambut positif mereka yang bertindak konkret dalam memperkuat toleransi. (Sru/Zuq/X-8)

BERITA TERKAIT